Catatan Harian

Teringat Mimi di Musim Haji

Jika ada pencapaian terbesar dalam hidup saya sampai saat ini, hal itu pasti bukan karena saya pernah berkeliling ke banyak negara, setengah bulatan bumi, sekolah di kampus bagus di dunia, punya mobil, rumah dan pekerjaan yang bagus, juga bukan karena tulisan saya dimuat di jurnal internasional atau buku dan novel saya diterbitkan. Bukan. Pencapaian terbesar dalam hidup saya sampai sekarang adalah karena, bersama kakak saya, bisa memberangkatkan Mimi naik haji dan bisa melepas kepergiannya ke Mekah hari itu.

Mimi, panggilan sayang untuk ibu saya, meninggal dunia tahun lalu. Tetapi saya dan anak-anak, cucu Mimi, selalu sedih karena tidak bisa berziarah ke kuburannya. Memang doa tidak kenal jarak dan waktu. Dan kami sering mendoakan Mimi agar diterima di sisi Allah setiap habis shalat. Tetapi kadang kehadiran fisik seperti nisan dan kuburan bisa mengobati kerinduan.

Mimi meninggal dunia di Padang Arafah, Mekah, sesaat setalah menunaikan ibadah wukuf, puncak ibadah haji. Ayah bercerita, Mimi sebelumnya sehat-sehat saja. Dan pagi hari ketika ia hendak berangkat, Mimi sempat berkirim pesan singkat kepada saya bahwa dia akan pergi ke Arafah, minta didoakan agar lancar. Mimi, kata Ayah, sempat mengeluh sakit kepala ketika di Mekah, tetapi kata dokter itu hanya karena terlalu cape. Dan setelah minum obat, sakitnya hilang dan kembali bisa beribadah seperti biasa. Itulah kenapa ketika perjalanan ke Padang Arafah untuk berwukuf pagi itu, Mimi ikut rombongan jamaah haji biasa, bukan jamaah haji orang sakit yang biasanya punya banyak keistimewaan.

Ketiak puncak ibadah haji di Padang Arafah itu, cuaca kota Mekah tidak bersahabat. Saya mengikuti berita, dikabarkan suhu udara mendekati 50 derajat! Tetapi Mimi dan Ayah bilang baik-baik saja. Dari cerita Ayah saya tahu bahwa Mimi diam di tenda setelah mereka shalat Sunnah berjamaah, ketika baru beres berwukuf. Karena wukuf jatuh pada hari Jumat, haji tahun lalu disebut haji akbar. Mimi diam ditenda dan bilang ingin makan. Ayah pamitan kepada Mimi untuk pergi ke toilet. Jarak tenda ke toilet sedikit jauh.

Ayah tiba-tiba kaget luar biasa karena dua orang temannya satu rombongan menyusul dan bilang Mimi sakit, tiba-tiba pingsan. Ayah bergegas ke tenda dan melihat Mimi sudah tidak sadarkan diri, sedang ditolong oleh sesama jemaah. Jemaah lain sontak memanggil dokter ketika Ayah memangku Mimi di pelukannya sambal mencoba membangunkannya. Mimi sempat sadar sebentar dan menatap Ayah, tanpa kata-kata, untuk kemudian selamanya memejamkan mata.

Dokter tiba dan segera membawanya ke klinik haji Indonesia. Saat itu Ayah mengabari saya bahwa Mimi sakit dan sedikt parah, terkena struk. Kakek dulu terkena struk tapi masih baik-baik saja. Saya membayangkan Mimi seperti Kakek, jadi tidak terlalu khawatir. Saya meminta Ayah bersabar. Saya langsung menelpon seorang kawan yang kebetulan menjadi panitia haji, dia bekerja untuk Kementrian Agama. Selang kurang dari setengah jam, Bapak saya menelpon lagi sambil menangis dan bilang Mimi telah syahid. Saya tidak percaya dan langsung menelpon kawan saya yang panitia haji itu. Dan betul. Mimi pergi, naik haji tanpa pernah kembali. Dokter klinik kemudian menelpon saya menerangkan bahwa Mimi terkena stroke karena cuaca terlalu panas.

Sebagai Muslim, agama saya mengajarkan bahwa Mekah adalah tanah suci, dan Arafah adalah pusat dari tanah Suci itu. Dan haji adalah ibadah paling penting. Mimi meninggal pada hari Jum’at, saat haji akbar, persis setelah puncak haji, wukuf di Mekah. Taka ada cara meninggal yang lebih baik dari apa yang Mimi alami. Saya tentu merasa kehilangan dan sedih. Anak saya yang masih kecil kebingungan karena sampai sekarang tahu Mimi sedang naik haji. Kalau ada kata haji, mereka langsung bilang ‘Mimi!’ Tetapi bukankah setiap orang akan mengalami mati?

Saya selalu bersyukur karena ketika perpisahan untuk haji, halal bi halal, saya datang ke rumah. Saat itu seharusnya saya tugas ke Filipina. Tetapi entah kenapa, saya memaksakan untuk datang dan bilang ke kantor bahwa saya tidak bisa pergi ke Filipina. Ternyata hari itu adalah pertemuan terkahir saya dengan Mimi, sosok terdekat dalam hidup saya.

Memberangkatkan Mimi ke haji adalah pencapaian terbesar dalam hidup saya! Mimi, we miss you!!

Leave a Reply

%d bloggers like this: