Menulis apa yang kamu sukai atau apa yang mereka sukai?

Apakah saya harus menulis apa yang saya sukai atau yang kira-kira akan disukai oleh pembaca, atau pasar? Sejatinya tidak perlu ada pertentangan. Idealnya apa yang ingin kita tulis, tema yang kita suka untuk jelajahi dengan aksara, juga diterima dan disukai oleh pembaca. Tapi dalam kenyataannya, kadang antara keinginan pengarang dengan keinginan pembaca, atau pasar pembaca berbeda. Apa akibatnya? Kalau nulis buku, bukunya tidak laku. Kalau menulis cerita, hanya sedikit saja yang suka.

Belakangan saya baru terhenyak dengan pertanyaan ini. Telat. Saya telat sadar untuk urusan ini. Selama ini saya berpegang pada prinsip: tuliskanlah apa yang ingin kamu tulis, tanpa terlalu peduali dengan kerangkeng pembaca. Tapi bayangkan: ada kawan yang punya gaya penulisa bagus sekali dan lantas dia menulis satu topik yang mungkin dia tidak terlalu suka tetapi kemudian bukunya laku di pasar ribuan, bahkan puluhan ribu kopi?

Karena kata-kata dikeluarkan tidak perlu pakai biaya, karena bahasa gratis kita pakai, mestinya, idealnya, kita suatu saat bisa menulis apa-apa yang mungkin tisukai pasar pembaca meski tidak terlalu kita suka. Pada saat yang lain kita bisa menulis sesuatu yang sangat ideal menurut kita tanpa perlu hirau dengan urusan pembaca. Tapi kesempatan tidak sebanyak itu datang. Ditengah-tengah kesibukan bekerja kita hanya punya waktu sedikit saja untuk mengerjakan pekerjaan sampingan seperti menulis. Kecuali kita mau menjadi penulis penuh-waktu. Tapi menjadi penulis penuh waktupun tidak mudah, tak jarang gagal. Penulis belum menjadi pekerjaan menjanjikan di Indonesia.

Hmm….Yang penting nulis dulu. Itu saja sekarang

Leave a Reply