Nirmala Si Bintang Kejora

I

Ketika Hanin baru saja tiba di hotelnya, ia dikejutkan oleh selembar amplop yang tersimpang di atas bantal. Sepertinya amplop itu segaja disimpan di sana agar ia bisa segera membacanya. Dengan penuh penasaran, ia segera mengambil amplop berwarna putih itu dan segera merobeknya. Selembar kertas bergaris dengan tulisan tangan yang ia kenali dibacanya dengan seksama. Alisnya berkerut dan pikirannya segera berkelana jauh. “Jika tidak segera membawanya ke luar, mungkin kita akan kehilangan semuanya. Segera pergi ke Lanau dan temui aku disana. Aku akan bertemu Datuk Amat. Kau susul aku dan bersiaplah dengan segala kemungkinan. Hanya Datuk Amat yang mungkin bisa menolong kita.”

Rasa lelah perjalanan seharian harus tidak dihiraukannya. Ia masih sedikit limbung karena waktu  tubuhnya masih mengira saat itu waktunya tidur. Masih jam 2 pagi di Leiden. Ia segera menyimpan koper dan membantingkan tubuhnya di atas kasur. Igin rasanya terlelap untuk sebentar. Tapi tidak bisa. Seorang penjemput sudah menunggu di depan lobi. Ia menatap langit-langit kamar hotelnya. Hidungnya dihinggapi bau kamar yang khas, bau yang sering dihirupnya di kamar-kamar hotel seperti itu. Mungkin bau karpet yang baru dibersihkan, atau bau pewangi ruangan. Deru suara pendingin ruangan terdengar jelas menyelinap di antara lamunannya. “Aku harus kembali ke Lanau!”

Ia segera bangkit kembali dari kasur tempat ia merebahkan diri. Jaket tebalnya disimpan di dalam lemari. Jaket itu tidak akan dipakai di sini. Ketika ia pergi, Leiden serba putih oleh salju. Di sini cukup saja kaus dan jaket tipis. Tak  lupa ia memakai topi dan memasukan beberapa potong pakaian pada tas ranselnya. Sesaat sebelum keluar ia melihat mukanya di cermin dekat pintu keluar. Muka yang bulat dengan mata sipit, mata yang selalu membuatnya tak pernah dikira ia asli Majawangi. Kumis tipisnya baru saja dicukur. Hanin tersenyum pada dirinya sendiri. “Bismillah,” ucapnya. Pintu kamar ditutup dengan tergesa dan ia turun ke bawah menemui seseorang yang akan mengantarnya ke Lanau.

Perjalanan ke Lanau akan ditempuhnya selama kurang lebih 15 jam, setidaknya itu yang diberitahu temannya sebelum ia terbang. Hanin telah membaca dengan seksama surat elektronik  yang dikirimkan temannya itu. Ia juga sudah mengusulkan agar ia mengambil rute lain karena rute itu terlalu jauh. Temannya memberi tahu bahwa bandar udara di Cobana sudah tutup karena situasi keamanan dalam setahun terakhir semakin memburuk. Pasukan Revolusioner pemberontak berhasil menghancurkan landasan pacu. Dan karena itu pilihan satu-satunya untuk pergi ke Lanau adalah lewat Kota Gendsand. Selain jarak tempuh selama 15 jam, Hanin tahu bahwa mungkin dia harus berhenti dan mencari penginapan jika sudah terlampau malam. Yang penting dia harus tiba di Lanau pukul 6 pagi dan akan bertemu dengan temannya di satu tempat yang sudah dijanjikan. Sopir yang menjemputnya sudah tahu dimana dia harus bertemu dengan temannya itu. Sekarang baru jam 9 pagi.

“Siatuasi keamanan semakin buruk. Semakin banyak insiden. Mr. Fauzi meminta saya berhenti di Illaga dan mencarikan penginapan di sana untuk anda.”

“Betul. Berapa lama perjalanan Illaga ke Lanau?”

“Tidak jauh, tidak lebih 2 jam. Kita akan pergi ketika fajar dari Illaga dan sampai di Lanau sebelum jam 7.” Sopir yang bernama Jesse itu sesekali melirik ke arah Hanin yang duduk di sebelahnya. Matanya seperti mengawasi. “Pertama kali ke Mindanao?” Tanya Jesse

“Saya dulu beberapa kali ke sini, sebelum keaadaan semakin memburuk.”

“Ohh…bekerja atau….”

“Penelitian. Saya mahasiswa.”

“Tapi anda terlihat seperti bukan mahasiswa lagi…” Jesse tertawa ringan..”Maksud saya, anda lebih mirip seorang profesor.”

“Mahasiswa doktor. Sebentar lagi jadi profesor, semoga” timpal Hanin.

Jalan yang dilalui dipenuhi lubang di sana sini. Jalan itu tidak terurus. Konflik membuat semua yang baik menjadi buruk. Jesse dengan tangkas memilih jalan-jalan yang tak berlubang, sedikit berbelok ke sana ke mari menghindari kubangan. Hujan baru turun ketika Hanin mendarat. Sisanya masih terlihat dari air yang menggenang berwarna kecoklatan di lubang-lubang jalan. Pohon kelapa menjulang berbaris sepanjang jalan yang dilalui. Rute yang dilewati menyusuri pantai barat pulau Mindanao, dari kota Gensand menuju ke arah selatan.

Jesse tiba-tiba mengerem kendaraannya. Tanpa Hanin sadari, tiga orang lelaki seumurannya menghentikan kendaraan yang mereka tumpangi. Mukanya lusuh dengan air muka penuh curiga. Dua orang menenteng senjata, sejenis AK, sementara yang lebih tua memakai topi menghampiri mobil. Insting Hanin langsung tahu, orang-orang yang menghampirinya adalah kelompok bersenjata Revolusioner. Jelas mereka bukan tentara karea tidak berseragam. Hanin tahu daerah-daerah yang akan dilalui adalah daerah yang dikuasai kelompok pemberontak. Sorot mata dua orang yang membawa senjata tajam menghujam mata Hanin. Seperti mengancam. Tangan mereka siap di pelatuk senjata. Hanin mencoba tenang dan tersenyum ramah kepada mereka.

“Wah operasi. Semoga tidak menjadi masalah.” Bisik Jesse ketika lelaki yang memakai topi yang mungkin komandannya itu menghampiri.

“Bisa kau pinggirkan sebentar kendaraanmu?” Pinta lelaki yang memakai topi itu dengan suara datar. Jesse sepertinya tidak ingin mendapat masalah dan ia segera meminggirkan kendaraannya.

“Boleh tahu anda darimana dan mau ke mana?” Sang Komandan bertanya lagi. Pertanyaan itu sepertinya ditanyakan kepada Hanin karena ia menatapnya. Hanian diam karena Sang Komandan itu bertanya dalam Marano, bahasa setempat.

“Dia orang Indonesia…,” potong Jesse

“Oh….tapi dia seperti Pinoy. Apa khabar?” Sang Komandan tersenyum dan sekedar berbasa-basi pada Hanin.

“Saya mahasiswa di Uiversitas Leiden. Sedang melakukan penelitian di sini.” Hanin tidak mau berbuat bodoh dengan berkata jujur. Tapi dia juga tidak bohong. Statusnya sebagai mahasiswa doktoral bisa dibuktikan dengan kertu perlajar Universitas yang selalu ia sipan di dompetnya.

“Jadi kalian mau ke Lanau?” Sang komandan seolah tahu tujuan mereka. Keedua orang pasukannya menyelinap ke balik kendaraan dan melongok-longok ke dalam. Matanya awas seperti mata elang mencari anak ayam. Seperti mencari sesuatu atau sekedar mengecek kalau ada penumpang gelap

“Saya hanya mau mengingatkan, kalian mungin dapat masalah di sana. Sedang banyak kontak senjata. Tapi semoga semua baik-baik saja. Hati-hati” Setelah melihat dokumen yang ditanyakan, Sang Komandan dengan senyum yang tak utuh mengizinkan Jesse melanjutkan perjalanannya. Jesse perlahan meninggalkan tiga orang bersenjata itu dengan membunyikan klakson, seperti ingin bilang selamat jalan.

“Pasukan pemerintah ingin merebut kembali Lanau. Sudah lebih dari 3 hari mereka melakukan operasi besar-besaran. Semoga perjalanan kita lancara.” Dari raut mukanya Jesse mulai resah dengan perjalan yang masih setengahnya harus ditempuh.

Langit sedikit medung dan awan beraneka ragam bentuk bertaburan. Tak jauh dari tempat ketiga orang bersenjata itu menghampiri mereka, Hanin dan Jesse dikejutkan rentetan suara tembakan. “Dor…dor…dor…” semakin lama sepertinya suara itu mendekat. Jesse langsung menepikan mobilnya. “Sepertinya kita terjebak dalam kontak senjata.”

“Terus saja. Kenapa kau berhenti, Jesse.”

“Aku khawatir kita jadi target. Biarkan tembakan itu selesai terlebih dahulu, baru kita lanjutkan.”

Wajah Hanin berubah pasi. Ia memang belajar di jurusan resolusi konflik, tetapi berada di dalam keadaan dimana peluru dan sura tembakan tak jauh dari tempatnya duduk terpaku adalah pertama kali. Ia bingung mau melakukan apa. Ia menyerahkan semua tindakan pada Jesse yang orang setempat.

“Baik. Kau lebih tahu.” Suara Hanin terdengar sedikti berat. Ia mencoba menenangkan diri. Pikirannya disibukkan oleh segala kemungkinan. Tiba-tiba ia sedikit menyesal mengambil tawaran Fauzi, kawannya yang sudah menunggunya di Lanau itu. Tapi perjalanan ini lebih karena kemauannya. Ini bagian dari apa yang harus dipelajarinya. Ketika Fauzi tiba-tiba meneleponnya dari Makassar ke Leiden, dia tahu ini urusan yang sangat penting, setidaknya untuk masa depannya sebagai ahli kawasan laut Sulu. Hanin sudah siap dengan risiko terburuk. Meski demikian, tetap saja ia merasa tidak siap dengan semua ini. Ia risau bukan kepalang. Wajahnya pucat pasi.

Tanpa mereka sadari sekelompok orang bersenjata menghampiri mereka dengan tiba-tiba. Mereka meminta Hanin dan Jesse keluar dari kendaraan tempat mereka berlindung. “Keluar…cepat keluar…Ikut kami.” Sergah seorang dengan ikat kepala dalam Marano. Hanin hanya mengikuti instingnya untuk selamat. Mereka mengikatkan kedua tangannya di kepala. Gerombolan itu berlari dan memaksa Hanin dan Jesse untuk berlari juga bersama mereka. Suara tembakan terdengar seperti di atas kepala mereka. Gerombolan bersenjata itu masuk terus ke dalam hutan yang dipenuhi belukar dan pohon bakau. Mereka terus berlari sambil mengendap-endap. Hanin tidak sepenuhnya sadar akan apa yang terjadi. Mungkin ini mimpinya karena ia belum lagi tidur dengan pulas setelah penerbangan hampir 24 jam dari Leiden. Ia seperti sedang berhalusinasi

Gerombolan yang membawa Hanin tiba di sebuah hutan bakau yang lebat persis di bibir pantai. Tepat itu sangat tersembunyi. Langit yang mulai gelap membuat tempat itu semakin mencekam. Sebuah perahu bot yang kira-kira cukup mengangkut lima orang terikat ke kayu dermaga yang dibuat seadanya. “Nyalaan mesin.” perintah seseorang dengan ikat kepala kepada kawannya. Ia sepertinya komandan kelompok itu. Dengan sigap seorang lelaki dengan muka tirus dan mata sedikit melotot, locat ke atas parahu dan segera menyalakan mesin dengan menarik sebuah tali berkali-kali untuk menyalakannya. Deru mesin segera terdengar memecah rasa mencekam. Hanin tidak tahu mau dibawa ke mana. Jesse ditawan sedikit berjauhan. Mungkin sengaja agar keduanya tidak bisa berkomunikasi. Setelah mesin menyala. Hanin dan Jesse beserta tiga orang dari kelompok yang menawannya itu naik ke atas perahu. Hanin dan jesse tidak bisa berbuat apa selain menuruti apa yang diinginkan penawannya. Bau asin air laut ditemani jeritan sura kuntul melepas perahu itu menembus ombak lautan. Entah kemana. Seseorang dengan mata melotot seperti mau muncrat itu menutup mata Hanin dan Jesse dengan kain hitam. Gelap. Hanya bau asin laut. Deru mesin. Angin pesisir.

Leave a Reply