Catatan Harian

Corona adalah Perang Dunia Ketiga

Tidak pernah terbayangkan bahwa dalam sekejap hidup kita berubah. Banyak sudah cerita yang saya dengar orang-orang kehilangan keluarganya karena Corona. Tidak terbayang juga pada saat ini kita tidak bisa berlari menemukan tempat yang aman. Semuanya dalam incaran.

198 negara di dunia sudah diserang. Musuhnya tak terlihat. Karena tak terlihat itu, ia sangat mematikan. Jika tanpa penanganan dan pencegahan serius, jutaan orang bisa meninggal dunia.

Ini benar-benar serius. Sudah seperti perang duni ketiga. Semua orang di seluruh bumi diancam oleh musuh yang sama. PBB bahkan menyerukan semua pihak yang bersengketa untuk sejenak berdamai dan bersama-sama menghadapi musuh utama: Corona.

Seperti ketika masa perang, sekarang kita takut pergi ke luar. Seperti ingin mengendap-endap dari incaran musuh. Setiap orang bisa terkena peluru nyasar kapan saja.

Seperti ketika perang, untuk mencari kebutuhan pokok kita harus mengantri berjam-jam. Di super market di Los Angeles, beberapa bahan kebutuhan sudah mulai dijatah.

Seperti ketika perang, kita bersembunyi di bungker masing-masing. Kita tidak bisa bepergian ke manapun. Kota-kota sunyi. Jalanan lengang. Semua kegiatan dihentikan.

Ketika perang, mesjid, gereja dan kuil-kuil penuh oleh orang yang berdoa dan bersembunyi. Tempat itu mestinya aman karena dilindungi. Kini, dimasa perang Corona, bahkan mesjid, gereja dan kuil-kuil suci pun ditinggal pergi.

Musuh yang satu ini tidak kenal ampun, tidak peduli tempat yang dilindungi, tidak mengerti lambang-lambang pelindungan, tidak peduli hukum perang! Semua ia serang.

Corona lebih kejam dari perang konvensional. Dalam perang bersenjata, dokter-dokter dan rumah sakit biasanya dilindungi–meski masih ada pelanggaran. Kali ini, rumah sakit justru menjadi garis depan pertempuran. Orang-orang berguguran di tempat yang seharunya aman. Dokter dan perawat menjadi tentara garda depan. Pada mereka kita berharap.

Manusia gagap dengan perang melawan mahluk mikroskopik ini. Ini memang bukan pengalaman pertama manusia. Tapi masa 100 tahun cukup untuk kita melupakan cara bertahan dari serangannya. Juga 100 tahun lalu tingat sebaran musuh dan luasnya serangan tidak secepat sekarang. Globalisasi dan tingkat pergerakan orang dan barang yang sangat cepat membuat musuh merangsek manusia di semua negara dalam hitungan minggu.

Tidak terbayangkan bahwa dalam hidup saya akan mengalami perang dunia ketiga. Semoga kita diselamatkan….

Leave a Reply

%d bloggers like this: