Catatan Harian

Diam Di rumah!

Pemerintah tidak meminta kita melakukan apa-apa selain diam di rumah! Itu saja kita banyak yang ngeyel, bandel dan sombong.

Coba bayangkan jika kita adalah petugas kesehatan, dokter, perawat dan pegawai rumah sakit. Mereka tentara terdepan untuk memerangi wabah tak terlihat ini. Setiap saat mereka bisa saja terpapar karena mereka diam di tempat orang-orang sakit itu diobati.

Yang mengerikan, praktik kunjungan ke rumah sakit di Indonesia seperti tidak punya prosedur. Di Amerika, dan saya kira di negara lain, sejak Corona merebak himbauan ini diulang tanpa henti: jika anda sakit mirip flu, diam di rumah. Wajib menelpon klinik, rumah sakit atau dokter anda sebelum datang ke rumah sakit untuk berobat.

Kalau anda menelpon klinik, permintaan ini diulang berkali-kali. Kenapa ini penting?

Caba bayangkan jika anda sakit mirif flu. Anda merasa ingin dites. Tapi karena anda datang tanpa memberi tahu, skenario ini bisa terjadi: 1) Anda datang ke gerbang rumah sakit. Mungkin salaman atau disapa Pak Satpam. 2) Anda datang ke lobi dan mengambil antrian. 3) Anda duduk di ruang tunggu. 4) Anda dipanggil dan dicek oleh perawat suhu tubuh, tinggi badan dan yang lainnya. Jika anda langsung bertemu dokter, anda langsung bertemu dokter dan diperiksa.

Lantas anda dicek. Setelah diambil sampel, anda harus menunggu satu dua hari. Karena gejalanya ringan, anda diminta diam di rumah. Tapi anda ndableg dan selama menunggu satu-dua hari ini anda masih pergi ke mesjid untuk shalat jum’at, pergi ke pasar, membeli sarapan dan ngopi-ngopi dengan kawan. Karena anda merasa baik-baik saja.

Lantas hasilnya keluar dan anda positif Corona.

Dalam skenario ini, berapa puluh orang sudah tertular oleh anda! Satpam, orang yang duduk dekat anda, perawat, pegawai administrasi, dokter, tukang bubur ayam, orang-orang di pasar, jamaah shalat jum’at, semua bisa dan hampir pasti terpapar. Pantas WHO bilang bahwa satu orang bisa menularkan virus ini kepada hampir 3500 orang dalam seminggu.

***

Coba skenarionya kita rubah: anda diam di rumah. Ketika sakit anda menelpon ke klinik dan rumah sakit tentang keluhannya. Rumah sakit meminta anda datang hari berikutnya. Dan karena anda sudah dianggap suspect, ketika datang, rumah sakit tujuan sudah siap. Bidan dan perawat sudah memakai pelindung diri yang layak untuk medis. Dokter juga mengunakan pelindung ketika memeriksa anda.

Anda harus menunggu dua hari untuk menanti hasil. Dokter meminta anda kembali ke rumah karena gejalanya sangat ringan. Selama menunggu, anda tahu diri dengan diam di rumah dan meminta kerabat menyuplai bahan makanan. Biasanya dengan menyimpan suplai makanan di depan pintu.

Dalam skenario ini berapa puluh atau ratus orang bisa terhindar dari virus anda? Berapa orang bisa selamat? Bayangkan orang seperti anda ada ratusan orang. Itulah kenapa dalam seminggu kasusnya bisa ribuan.

***

Bangsa Indonesia belum pernah berhadapan dengan pandemi. Dan karena itu banyak yang tidak percaya atau menganggap enteng. Semua berfikir: ah berkumpul sebentar di mesjid tidak apa-apa. Lingkungan kita aman. Virus ga bakal sampai ke sini.

Itu juga yang terjadi di Italia sebulan lalu. Pemerintah mengeluarkan kebijakan, warganya ndableg. Mirip-mirip dengan sebagian warga Indonesia. Dan hari ini sitem kesehatan Italia hancur. Per hari angka kematian sudah lebih 600 orang. Yang terpapar sudah mendekati angka 50,000 orang. Yang meninggal sudah lebih tinggi dari China, diangka 4000an lebih.

Kita harus belajar dari Italia. Kalau tidak waspada dan warganya tidak dispilin, bukan mustahil angka kasus di Indonesia bisa mencapai ribuan atau belasan ribu dalam dua-tiga minggu ke depan.

***

Jadi, please, disiplin diam dirumah. Hindari kumpulan apapun. Kita tidak diminta apa-apa selain di rumah.

Bayangkan pengorbanan para dokter dan perawat serta pegawai rumah sakit yang diam di garda depan. Mereka berhari-hari tidak tidur. Tidak bisa pulang ke rumah. Sekedar mau makan dan ke toilet saja susah. Beberapa sudah terpapar dan meninggal.

Baru kurang dari 500an kasus saja rumah sakit di Jakarta dan Bandung sudah kewalahan. Bagaimana kalau kasusnya diangka 10,000 ribu?

Sebelum membludak, ayo disiplin: diam di rumah!

Leave a Reply

%d bloggers like this: