Catatan Harian

‘Lockdown’ Corona dan Kebijakan Pendampingnya

Pemerintah Amerika serikat baru saja meluncurkan program pendamping dan penyelamat di masa krisis terbesar dalam sejarah: 2 trilyun dollar. Saya tidak tahu berapa banyak uang sebanyak itu kalau dirupiahkan. Tapi program itu adalah program bailout terbesar dalam sejarah.

Dengan program itu, rumah sakit, peruhaan kecil, menengah dan besar, pemerintah negara bagian dan bahkan individu akan mendapatkan bantuan. Setiap kepala dijatah $ 1200. Jika berkeluarga, jatahnya bisa mencapai $ 2400 per KK. Anak-anak akan menadapat tunjangan $ 500 per anak.

Syaratnya tentu adalah ketidakmampuan berdasarkan pendapatan tahunan. Yang pendapatannya besar, diatas $ 150 ribu pertahun tidak dapat bantuan, atau mendapatkan dengan jumlah tidak sebesar itu.

Ada juga mekanisme lain untuk mendapatkan bantuan, juga diambil dari uang 2 trilyun dolar itu. Jika seseorang menjadi pengangguran karena krisis Corona ini, ia bisa mengajukan bukti pemutusan kerja secara daring dengan mengisi beberapa formulir. Sampai hari ini sudah lebih 3 juta orang Amerika menganggur gara-gara Corona. Mereka juga akan mendapatkan bantuan.

Uang itu akan otomatis dikirim ke rekening masing-masing dalam minggu pertama bulan April. Pemerintah Amerika memiliki data rekening setiap orang lewat laporan pajak tahunan. Pada rekening yang dilaporkan setiap tahun lewat laporan pajak itulah uang akan disalurkan–di sinilah kenapa kita perlu berbenah pendataan.

***

Kebijakan itu tentu hanya berlaku untuk warga negara dan mungkin permanen residen. Jika hanya bersetatus pelajar yang numpang hidup seperti saya, tentu tidak kebagian jatah. Saya tidak tahu apakan anak saya yang lahir di Amerika akan mendapatkan bantuan atau tidak.

Tapi sudah 2 minggu ini saya dan semuan orang di Los Angeles yang mempunyai anak usia sekolah, menikmati bantuan berupa makanan. Sejak sekolah libur, pemerintah menyediakan program ‘grab and go food‘.

Setiap pagi, dari pukul 7 sampai 11, kita bisa datang ke sekolah untuk mengambil makanan. Makanan itu juga diberikan bukan hanya untuk anak-anak, tapi untuk seluruh anggota keluarga. Setiap pagi saya mengambil jatah 5 paket makanan. Isinya: paket sarapan dan makan siang.

Kemarin pemerintah menambahkan program pempers gratis bagi bayi. Karena saya juga mempunyai bayi, setiap pagi saya mendapatkan pempers gratis untuk bayi Regyan.

Pengambilan diatur secara rapih. Pusat makanan anak-anak itu disiapkan di pinggir jalan. Polisi mengatur agar mobil yang akan mengambil makanan jatah anak-anak menepi di depan sekolah. Ketika kita datang, makanan sudah siap dan kita hanya butuh diam satu dua menit mengambil makanan itu. Jadi nyaris tidak ada kerumunan.

Program makanan anak dan paket bantuan ekonomi lain akan disalurkan sampai bulan Juni untuk sementara waktu. Jika kondisi belum pulih, kemungkinan tunjangan itu akan dievaluasi kembali untuk diteruskan.

***

Pemerintah Amerika tidak menjalankan ‘lockdown’. Pemerintah negara bagian hanya memerintahkan ‘shelter in place order‘, atau perintah diam di tempat. Dalam skema ini, hampir semua fasilitas, publik atau swasta, diliburkan. Tentu ada pengecualian: apotik, rumah sakit dan klinik, super market, dan instansi penting negara tetap buka. Restoran hanya boleh dikirim atau bungkus. Tidak lagi diperkenankan makan di tempat. Untuk masuk super market, sekarang kita harus antri panjang.

Taman-taman, tempat hiking dan pantai juga ditutup.

Bahkan dalam kondisi tidak ‘lockdown’ saja, ekonomi sudah perlahan hancur. Kita memahami kenapa banyak negara sampai sekarang tidak menerapkan ‘lockdown’ dan hanya sebatas penjarakan fisik dan perintah diam di tempat/rumah. Konsekuensi ekonominya terlalu besar. Tapi tanpa lockdown, virus ini bisa menyebar sangat cepat. Jalan tengahnya memang perintah diam di rumah dan penjarakan fisik.

***

Negara paling kaya di dunia seperti Amerika saja kelimpungan menghadapi krisis ini. APD (alat pelindung diri) untuk dokter-dokter dan perawat di wilayah pandemi di New York juga tidak mencukupi. Beberapa foto perawat memakai plastik sampah karena tidak kebagian APD viral di media. Jadi, patut difahami jika negara seperti Indonesia kelimpungan.

Tapi itu bukan alasan kita mencari pembenaran ketidaksiapan. Fakta itu saya sebutkan hanya untuk mengingatkan betapa terbatasnya pemerintah. Dan disinilah peran masyarakat sipil dibutuhkan.

Jangan berharap pemerintah bisa menggelontorkan uang jutaan atau trilyunan dolar seperti di sini. Mungkin akan ada paket bantuan berupa BLT ke masyarakat tidak mampu di Indonesia. Tapi pasti sangat terbatas.

Kekuatan bangsa Indonesia adalah pada kekuatan masyarakat sipilnya. Dan kekuatan ini harus kita bangkitkan lagi. Bahu-membahu, NGO dan Ormas, artis dan pejabat, kyai dan pengusaha, setiap kita, memberi apa yang bisa diberikan.

Tanpa itu, tidak mungkin kita menang menghdapi Corona. Mari optimis dan usaha sebisa kita. Inshaallah badai pasti berlalu.

Leave a Reply

%d bloggers like this: