Asep dan Album Barunya

Oleh: Zezen Zaenal Mutaqin

Alunan sebelas lagu baru menemani saya menulis catatan ringan ini. Lagu-lagu itu mungkin sekarang belum banyak orang yang mendengarkan dan menikmatinya. Tapi mungkin, insyaallah, tak lama lagi lagu-lagu itu segera terkenal. Yang menyanyikan lagu-lagu itu kawan baik saya. Saya tahu sebelumnya dia sedang menggarap sebuah album indie, tapi mengetahui proyek ‘isengnya’ selesai begitu cepat, buat saya adalah sebuah kejutan tersendiri.

*

Namanya Asep. Mungkin karena namanya, saya merasa memiliki kedekatan tersendiri. Kita sama-sama USA: Urang Sunda Asli. Dia dari Banten, wilayah ujung barat tatar Sunda, dan saya dari Kuningan di ujung timur. Kami bertemu, kenal dan menjadi kawan baik sejak kami sama-sama kuliah di Ciputat.

Tanpa bermaksud mengungkit masa lalu, ada baiknya saya ceritakan tentang Asep yang berevolusi menjadi Asep sekarang.

Kami menjadi dekat karena dulu kami sesama aktivis. Sebagai aktivis kampus dan organisasi extra, terlibat politik mahasiswa saat itu adalah semacam kutukan yang tidak bisa dihindarkan. Karena satu dan lain hal yang tidak perlu saya ceritakan di sini, kami menjadi satu geng dalam kancah politik mahasiswa. Setelah saya gagal menjadi ketua BEM UIN, percaturan politik berikutnya adalah perebutan ketua umum HMI Cabang Ciputat. Buntut dari kekalahan saya di BEM yang konon diakibatkan oleh ketidaksolidan dan perpecahan internal, pemilihan ketua cabang menjadi perulangan konstalasi politik internal Himpunan.

Singkat cerita, saya menjagokan Asep menjadi ketua Cabang saat itu. Meski awalnya banyak yang tidak setuju, saya berhasil meyakinkan ‘pasukan’ agar memilihnya. Alasan saya saat itu sangat sederhana: Asep adalah mantan ketua Komisariat Psikologi yang luman berhasil.

Tapi terutama bukan karena itu saya mendukung pencalonannya. Buat saya saat itu, HMI Ciputat butuh sesuatu yang baru yang tidak terlalu politis. Too much politics! Asep sejak di HMI terkenal sebagai seniman. Ya, karena saya merasa HMI butuh sosok seniman sebagai ketua Cabang, bukan melulu sosok politisi, saya bersikukuh mendukungnya. Dukungan yang begitu deras pada saya agar maju saya tolak. Untuk menghindar dari kekeruhan politik lokal saat itu, saya sengaja kabur ke Bandung. Tak ada yang bisa menghubungi saya kecuali beberapa kawan dekat di lapangan. Dalam percaturan politik lokal yang kalau saya ingat sekarang begitu menggelikan itu, Asep terpilih menjadi ketua Cabang.

Sejak jadi ketua Komisariat di Psikologi, Asep sosok yang tidak biasa sebagai ketua. Kalau ada kumpul-kumpul organisasi, dia biasa tampil dengan gitarnya untuk menghibur. Urat syaraf perkaderan yang kadang terlalu tegang karena asupan perdebatan intelektual atau perebutan politik, segera dibuat rileks oleh lantuan suaranya. Kawan-kawan menjulukinya sebagai ‘Ebit Ciputat’. Ya, dulu semua lagu yang dinyanyikannya adalah lagu Ebiet G. Ade.

Ketika jadi ketua Cabang, kebiasaanya tidak berubah. Meski tentu tak lepas dari intrik politik mahasiswa, HMI Ciputat ketika dia menjabat sedikit berubah. Kini kita punya sosok seniman sebagai ketua.  Diam-diam dia mengumpulkan lagu ciptaannya sendiri dari sudut kantor Cabang di Jalan Ibnu Sina.

*

Ketika semua kehidupan dunia aktivisme kampus mulai perlahan ditinggalkan karena selesai kuliah, kami tetap sangat dekat sebagai kawan. ‘Geng’ politik yang dulu menjadi tim sukses saya dan Asep masih sering kongkow-kongkow: sekedar minum kopi, diskusi rutin, berenang bersama, hadir di kondangan, selametan rumah, reuni, halal-bi halal dan kesempatan lainnya.

Seperti setiap orang mungkin mengalaminya, Asep sempat terseok-seok menentukan arah. Saya tahu darahnya adalah seniman. Ia juga senang menulis cerita dan membuat puisi. Ia sempat pula menggarap sebuah novel yang sampai sekarang tidak tahu seperti apa nasibnya. Tapi menjadi seniman dan penulis tak menjanjikan secara finansial. Tak bisa hidup. Meski ia bekas politisi kampus, sepertinya ia tidak terlalu tertarik di dunia itu. Ia juga sepertinya tak berminat menjadi dosen. Ia sempat bekerja dibeberapa tempat, rata-rata mengerjakan seuatu terkait huruf dan tulis menulis..

Ketika saya selesai S2 dari Australia, Asep sepertinya belum juga tahu ke mana arah hidupnya. Namun pada suatu sore dia datang ke toko saya. Oh iya lupa, sepulangnya dari Australia, saya sempat menjadi juragan sabun cair. Uang tabungan dolar saya belikan kios kecil di pasar modern Pamulang. Niatnya agar istri punya kegiatan. Maklum darahnya adalah pengusaha. Dibantu oleh mertua, saya membuka toko alat kebersihan dan jadi agen sabun cair–harusnya saya jadi agen travel biar cepat kaya seperti bos Firts Travel. Asep ingin tahu toko saya. Dan ia berkunjung sore itu. Kami ngobrol sambil menyeruput kopi.

Saat itulah dia bercerita bahwa dia sekarang menjadi agen asuransi. Meski saya sedikit kaget dan terkejut dengan pilihannya, saya tetap mendukung. Saya juga senang karena  setidaknya kami sekarang sama-sama menjadi agen: Asep agen asuransi, saya agen sabun cair, dan dalam waktu yang hampir bersamaan pula. Saya masih ingat, ia bilang jika saya harus mengeluarkan uang lebih 300 juta untuk menjadi agen sabun (untuk beli kios dan modal awal isi toko), ia hanya mengeluarkan uang tak lebih 2 juta. Ia hanya perlu menjadi nasabah asuransi dan mendaftar menjadi agen. Itu saja. Dan katanya, menjadi agen asuransi itu seperti memiliki toko virtual.

Apa yang unik darinya adalah ia menjual dan mengajak orang menjadi nasabah produk asuransinya lewat tulisan. Jadi ia tidak perlu berbusa-busa meyakinkan orang untuk menjadi nasabah asuransi. Orang biasanya kesal kalau dirayu gombal berbusa-busa. Ia tahu itu. Makanya lebih baik dia ajak orang lewat tulisan. Lagi pula, semakin banyak orang yang melek tulisan. Nasabah asuransi itu kelas menengah yang biasa dengan layar gadget. Dengan tulisan ia juga bisa mengajak orang dimana saja di seluruh negeri. Sebuah langkah cerdas. Tulisannya di blog segera fokus pada hal-ihwal asuransi. Kebiasaannya menulis puisi dan cerita membantunya membuat tulisan menarik tentang kenapa orang harus ikut asuransi.

Singkat cerita, dari berkah kebiasaanya menulis itu, dalam waktu dua tahun ia menjadi agen asuransi yang sukses: ia bisa beli mobil dan rumah. Juga dengan pendapatan yang jauh lebih besar dari PNS atau dosen. Pada saat yang bersamaan, nasib saya tidak terlalu beruntung. Toko saya bangkrut di tahun ketiga meski sempat buka satu cabang di tempat lain. Dan ketika saya berhenti jadi agen sabun cair di tahun ke tiga itu, Asep sudah menjadi penjual produk asuransi yang sangat sukses. Mungkin saya tidak ditakdirkan jadi agen sabun cair.

*

Setelah kebutuhan dasar terpenuhi, panggilan di lubuk hatinya untuk balik ke dunia seniman muncul kembali, setiaknya sebagai kesenangan. Tahun lalu dia bilang ingin kembali menggarap novelnya. Tak lama setelah itu  dia bilang sedang menggarap album. Saya terkejut, sama dengan terkejutnya ketika ia bilang akan jadi agen asuransi. Saya menyarankannya agar diupload ke Soundcloud agar bisa didengarkan khalayak untuk mengetes selera pasar.

Dan tidak sampai 5 bulan dari obrolan itu, ia tiba-tiba tadi mengirimkan sebuah tautan ke laman Soundcloud. Itu albumnya! Ia namakan Himne Cinta. Saya hampir saja membacanya Himne Cita, tanpa “n”. Himne Cita menginatkan saya pada masa ketika kami menjadi petualang politik Himpunan.

Selamat atas albumnya. Sebuah pencapaian luar biasa. Saya suka lagu “Adinda” dan “Di Pasir Putih”. Saya kasih nilai 7.5 dari 10 untuk album pertamamu. Bukan karena saya kawan baikmu, tapi karena memang suaramu yang khas dan liriknya yang baik.

Sama seperti saya dulu yakin dengan langkahnya menjadi calon ketua Cabang meski banyak yang tidak setuju, juga langkahnya menjadi agen asuransi, maka saya juga yakin album ini adalah awal karirnya yang baik sebagai seniman. Album ini bukti bahwa darah senimannya tidak akan pernah mati. Jarang sekali ada agen asuransi yang juga seniman. Selamat, Sep.

Nikmati album “Himne Cinta” di https://soundcloud.com/asep-sopyan-236731764

Los Angeles, 30 Agustus 2017

First Travel dan Cerita Ayah Saya

Oleh: Zezen Zaenal Mutaqin

Saya teringat ayah di kampung ketika berita tentang keserakahan First Travel dimuat media.

Ayah saya di kampung itu orang yang sangat baik. Dia selalu tidak enak kalau ada seseorang datang mengajak sesuatu atau meminta pertolongan. Ia juga selalu ingin mencoba usaha sampingan. Mungkin niatnya baik. Sebagai guru PNS, ia butuh pendapatan tambahan untuk membiayai saya, kakak dan adik saya sekolah hingga bangku kuliah. Sebenarnya dari gajinya sebagai guru, ditambah uang tambahan Ibu saya menjahit, waktu itu cukup untuk membiayai sekolah semua anaknya. Meski tentu harus pontang-panting, kadang pinjam sana-sini.

Seingat saya, ayah sudah mencoba terlalu banyak ‘usaha sampingan’. Menurut ceritanya, bahkan sebelum anak-anaknya lahir, ayah sudah mulai usaha untuk mendapatkan uang tambahan, untuk menopang hidup yang kadang redup. Ketika baru diangkat menjadi guru honorer, Ia iseng menjadi pembuat petasan. Lantas berhenti setelah kawannya  meninggal karena ledakan dan Ia diperingatkan polisi.

Ketika saya SD, ayah memiliki pabrik tempe dibelakang rumah lama kami. Usaha tempe itu berjalan lumayan lama. Setiap pagi, ibu-ibu tetangga rumah datang untuk mengantar tempe-tempe itu ke warung di sekitar kampung. Ada juga yang langsung dijual keliling.

Continue reading “First Travel dan Cerita Ayah Saya”

Lunch Time, Seminar Time

Ada yang menarik ketika satu semester kemarin kuliah di UCLA Law School. Bukan tentang profesor atau tentang sistem ‘rebutan’ ambil kursi pada mata kulia tertentu yang sangat diminati. Ini hal lain.

Selama kuliah satu semester kemarin itu, setiap jam makan siang selalu ada yang dinanti. Di UCLA, hampir semua seminar, ceramah dosen tamu, training singkat, peluncuran buku dan kegiatan akademik non-kelas dilaksanakan pada jam makan siang antara jam 12-14 siang. Dalam sehari bisa ada dua sampai tiga kegiatan, dari mulai ceramah dosen tamu, peluncuran buku atau training.

Dengan demikian, setiap dua jam dalam sehari itu, mahasiswa bisa memanfaatkan jeda dari perkuliahan untuk kegiatan yang sangat menarik. Dosen-dosen tamu dari kampus seperti Harvard, Yale dan Sorbone  berceramah di depan mahasiswa di jam jeda itu. Perkuliahan, karena itu, tidak pernah terganggu. Perkuliahan dilangsungkan dari jam 8 sampai jam 12, lantas dilanjutkan dari jam 14 sampai jam 19.30 malam. Tergantung jadwal kuliah kita. Tetapi yang pasti, jam 12-14 selalu diperuntukan bagi beragam kegiatan akademik lain selain kuliah di kelas.

Kegiatannya juga sederhana: sambutan sangat singkat dari dekan atau professor di UCLA. Paling lama 5 menit. Setelah itu langsung acara inti dan tanya jawab. Tentu tidak ada sambutan ini-itu yang sangat panjang seperti di kampus UIN Ciputat, tempat saya mengajar.

Saya membayangkan kalau jadwal perkuliahan di UIN dibuat seperti itu akan sangat efisien dan menarik. Selain itu tidak akan mengganggu perkuliahan. Selama ini mahasiswa selalu dilematis antara menghadiri kuliah yang pembicaranya kadang jauh lebih ahli atau menghadiri kelas yang mungkin membosankan. Kalau hadir di seminar itu, jadinya mahasiswa bolos kuliah. Atau, seperti biasa di alami, dosen mengerahkan mahasiswa untuk hadir pada acara seminar karena tidak ada yang hadir–tidak hadir karena jadwalnya bentrok dengan perkuliahan.

Seminar-seminar, ceramaha umum dan peluncuran buku di kampus di Indonesia juga harus dibuat lebih simpel dan tidak terlalu seremonial. Sambutan cukup satu orang, tidak lebih dari 5 menit. Tidak perlu ada pembukaan kalam Illahi yang mendayu-dayu dan menghabiskan lebih 10 menit. Cukup buka dengan Alfatihah. Dan saya kira untuk acara akademis mungkin menyanyikan lagi Indonesia Raya tidak terlalu penting. Kecuali acara resmi sekali. Kalau sekedar ceramah umum dan seminar, harusnya dibuat simple dan karena itu waktu dua jam menjadi cukup luang.

Sepanjang semester jam makan siang selalu penuh dengan acara yang menyenangkan dan saya tidak perlu khawatir bentrok dengan kuliah di kelas. Semoga di UIN Jakarta atau FSH bisa diterapkan

Salam dari LA