Inspirasi

Apakah Masih Perlu ‘Ruang Tamu’?

Ketika kecil, saya selalu dilarang Abah untuk terlalu lama duduk atau main di ruang itu. Ruangan itu sedikit terpisah lorong pendek dari ruangan lain di rumah kami. Kursi dan mejanya selalu rapih. Beberapa figura terpajang di dinding. Lemari kecil berisi pernak-pernik berada di sudut ruangan. Sementara itu, kursi di ruang lain lebih jelek dan sudah sedikit kusam. Ruangan juga tidak serapih ruangan tadi.

Ketika melarang saya terlalu lama duduk-dukuk dan bermain di ruang itu, Abah selalu bilang: “Takut ada tamu, malu kalau berantakan.” Ruang itu, ruang yang selalu lebih rapih dan dengan furnitur yang lebih bagus, disebut ‘ruang tamu.’

Abah tidak sendiri. Hampir semua rumah-rumah di kampung, juga di kota, selalu menyedikan apa yang disebut ruang tamu itu. Biasanya ruang itu terletak di area paling depan dari rumah. Begitu membuka pintu, ruang pertama yang ditemui adalah ruang tamu. Ditata lebih rapih, dengan furnitur yang dibeli sengaja untuk ‘tamu.’

Ruang itu adalah wajah depan dari rumah yang harus dipulas dan diperelok. Ruang itu terkadang juga mewakili narsisisme kita.

Ruang tamu ini sebuah kemulian. Ia muncul dari tradisi ingin memuliakan orang yang berkunjung ke rumah kita. Hal itu adalah kebiasaan yang akarnya panjang, sampai ke dasar-dasar teologis Islam. Dan untuk keadaan di mana tanah untuk bangunan rumah cukup luas, konsep ‘ruang tamu’ ini sama sekali tidak ada masalah. Bagus belaka.

Tapi coba kita pikir ulang konsep ruang tamu ini didalam kondisi di mana luas rumah di perkotaan semakin kerdil. Rata-rata perumahan menyediakan laus tanah di angka 70-100 meter. Bahkan sekarang luas rumah 60 meter pun sudah jadi tren. Apakah utuk luas tanah seperti itu kita masih punya alokasi untuk ‘ruang tamu’?

Itulah obrolan saya dengan istri. Saya bilang berkali-kali bahwa konsep ‘ruang tamu’ itu harus dirubah dalam kondisi perumahan kota modern yang serba kerdil. Kita buang saja dan kita ganti dengan filosofi sederhana: rumah dibuat untuk kenyamanan kita hidup, bukan untuk tamu. Kita yang menghuninya tiap detik.

Lagi pula tamu hanya datang sesekali saja. Sekarang lebih banyak orang berjumpa dengan kawan dan rekan di restoran, taman atau mall. Paling-paling tamu yang datang adalah Pak RT atau saudara dari kampung. Kalau kita akan menerima tamu tiap hari atau tiap minggu, mungkin perlu kita menediakan khusus ruangan untuk para pengunjung. Tapi emang itu rumah atau kelurahan?

Jadi, yang sedang siap-siap buat atau pindahan rumah, ubahlah mindset kita segera. Jadikan rumah itu tempat yang nyaman untuk keluarga kita. Jangan mikir tamu. Toh kalau sesekali tamu datang tidak ada salahnya merasakan nuansa dan atmosfir keluarga kita.

Kenapa ini penting? Karena polapikir ruang tamu itu akan bepengaruh ke barang apa yang akan kita beli, furniture seperti apa yang harus disiapakan dan alokasi ruangan apa saja yang harus ada di rumah kita.

Saya kira, ini pula yang mendasari rumah-rumah apartemen sederhana di Amerika (juga di Indonesia) ketika saya tinggal di sana. Ruang pertama yang ditemui ketika membuka pintu adalah ruang makan dan dapur. Ruang keluarga untuk bersantai di sofa menempel tak jauh dari meja makan.

Ketika tinggal di sana, ruangan yang paling sering ditempati justru meja makan dan sofa untuk bersantai. Meja makan yang luas bisa disulap sesekali menjadi meja kerja. Kawan yang berkunjung juga lebih banyak duduk di meja makan, sambil menikmati kopi dan cemilan.

Dengan membuang ‘ruang tamu,’ sumberdaya dan ruang yang tersedia bisa lebih maksimal untuk kenyamanan. Ruang makan bisa lebih luas karena disitu keluarga akan banyak berkumpul. Ruang depan bisa menjadi ruang nyaman untuk keluarga melepas lelah di sofa yang empuk.

Leave a Reply

%d bloggers like this: