Inspirasi

Kuliah di Amerika, Kok Bisa Cepat Selesai?

Ada banyak yang bertanya kenapa saya bisa relatif cepat menyelesaikan studi doktoral di Amerika. Saya tahu ada kawan yang bisa lebih cepat selesai dari saya. Kawan saya sesama penerima beasiswa LPDP bisa selesai dalam waktu 4.5 tahun. Namun memang di kalangan kawan-kawan Ciputat dan sekitaranya, saya termasuk relatif cepat menyelesaikan studi dengan total 5 tahun. Memulai tanggai 22 Agustus 2016, selesai 22 September 2021.

Menyelesaikan studi, menurut saya, bukan soal cepat atau lambat. Kita tidak bisa membandingkan apple to apple kasus saya dengan kasus orang lain. Setiap orang mempunyai cerita, lika-liku dan keunikan tersendiri. Semua jalan sama uniknya, selama sampai di tujuan. Dus, menyelesaikan studi doktoral itu adalah jalan sunyi setiap diri menaklukan dirinya. Ia tidak sedang berlomba dengan orang lain.

Meski begitu, ada baiknya saya berbagi kisah di sini. Semoga bisa dibaca oleh para calon doktor yang akan atau sedang menempuh pendidikan doktoral.

Agar lebih mudah, ada baiknya saya susun cerita ini dengan model pointer.

Focus.

Ini adalah kata yang mudah diucapkan tapi susah dijabarkan dan dilaksanakan. Perihal kita harus fokus dalam mengerjakan sesuatu, kita semua sudah tahu.

Meski begitu, ketika menempuh pendidikan doktoral, apalagi di Amerika, kita membutuhkan fokusnya fokus. Fokus KW-1. Dan yang lebih penting lagi adalah menjaga fokus KW-1 itu tetap hidup untuk durasi yang relatif panjang.

Setelah setahun anda memulai sekolah Ph.D, ada bisa dengan mudah keliangan fokus. Kenapa? Ph.D itu adalah perjalanan panjang yang sunyi. Ibarat bertapa, banyak sekali godaan dan ‘jin’ penggangunya.

Jin pengganggu itu kadang muncul dalam bentuk yang mulia: mengisi seminar dan workshop, menulis ini dan itu, mengerjakan proyek sampingan, aktif mengadvokasi dan lain sebagainya.

Hal-hal mulia itu, jika tidak direm dan ditakar, bisa dengan mudah membuat kita kehilangan fokus. Saran saya, semasa Ph.D lebih baik mengurangi atau berhenti dulu melakukan hal-hal itu. Lebih baik kita fokus pada prioritas utama kita.

Rencana disertasi yang realistis.

Poin kedua ini sebenarnya terkait juga dengan nomor pertama. Rencana disertasi yang tertuang dalam proposal harus realistis, jelas dan bisa dikerjakan dalam rentang 5 tahun, maksimal.

Ingat, di Amerika biasanya kita baru mulai fokus mengerjakan proyek disertasi pada semester 4 atau 5 karena dua tahun pertama biasanya disibukan dengan mata kuliah di kelas. Jadi durasi pengerjaan disertasi sebenarnya hanya tiga tahun. Karena itu, kita harus benar-benar memiliki rencana yang jelas dan terukur.

Jika kita tidak memiliki kejelasan mau nulis apa dengan ukuran yang bisa ditakar, maka dengan mudah kita akan terjerembab pada jurang ketidakfokusan.

Untuk point ini, saran saya: dengarkan masukan dari pembimbing. Proposal saya sangat ambisius pada awalnya. Tapi profesor sangsi saya bisa menyelesaikannya dalam waktu 4-5 tahun. Atas sarannya, proposal itu dipangkas 50%. Terbukti, saya bisa mengerjakan disertasi lebih mudah. Sisa 50% proposal juga tak akan hilang. Ide-idenya bisa jadi bahan studi pasca-doktoral.

Konsistensi dan persistensi.

Bahasa lainnya istiqomah. Ini adalah kunci. Disertasi itu, jika saya diminta menyederhanakannya, adalah urusan fokus dan konsistensi. Lagi-lagi ini terkait dengan urusan konsentrasi dan fokus.

Bentuk sederhananya, dalam kasus saya: jangan tunda-tunda sampai nanti. Kerjakan riset sejak hari pertama anda mulai program Ph.D. Simpan semua hasil riset dan catatan dengan baik. Catat semua ide dan inspirasi dengan baik meski hanya satu paragraf. Simpan dengan teratur catatan-catatan yang anda punya di media yang bisa diakses dari manapun. Saya simpan di cloud. Catatan-catatan itu nanti akan menjadi dewa penolong anda.

Dan jaga ritme ini secara konsisten. Orang dikampung saya bilang riset Ph.D itu tidak bisa ‘deg-deg ler’ atau angat-angat tahi ayam. Di situlah tantangannya: menjaga stamina.

Apa resepnya? Hiduplah secara normal. Itu kunci. Apa itu hidup normal? Untuk kasus saya, saya biasa menggunakan waktu siang hari untuk bekerja khusus mengerjakan urusan disertasi. Jam 8-5, layaknya jam kantor, adalah jam untuk kita sebisa mungkin mencurahkan konsentrasi dan waktu untuk keperluan riset kita. Karena itu di malam hari saya mempunyai waktu yang cukup untuk istirahat. Tidak perlu begadang. Itu malah tidak bagus untuk model kerja disertasi yang membutuhkan stamina dan konsentrasi maraton.

Jika ada waktu luang untuk berlibur, manfaatkan baik-baik. Berliburlah, melancong dan berpetuanganlah ke tempat-tempat yang kita mau. Setelah itu segera kembali ke pekerjaan. Liburan dan rekreasi, seperti namanya, bisa kembali menyegarkan stamina dan memudakan semangat kita.

Jadilah gelas kosong. Be nobody.

Menjadi mahasiswa Ph.D berarti bersedia mengulang semua hal remeh-temeh dari awal. Semua itu dipentingkan untuk penguatan fondasi keilmuan. Kita harus bersedia untuk kembali menjadi gelas kosong. Dengan demikian air pengetahuan yang tercurah bisa kita tampung secara maksimal.

Kalau kita berangkat Ph.D dengan mentalitas gelas penuh, somebody, hasilnya mungkin tidak maksimal. Atau bahkan gagal.

Penyakit untuk para calon Ph.D adalah ketidakrelaan meninggalkan ketenaran, uang dan jaringan untuk waktu yang cukup lama. Kalau anda sudah terkenal, menjadi selebriti, tantangan untuk kembali me-reset diri anda sendiri menjadi gelas kosong lebih sulit ketimbang orang yang memang bukan siapa-siapa.

Jadi, untuk menjadi mahasiwa Ph.D, buak siapa-siapa bisa jadi keuanggulan. Ada lebih fokus, lebih humble dan lebih realistis.

Itu saya kira yang menimpa pada diri saya. Sebelum sekolah Ph.D saya bukanlah selebritis, bukan intelektual terkenal, bukan orang yang dekat dengan orang-orang kaya dan pengusaha, bahkan bukan pula PNS!

Menjadi mahasiswa Ph.D, karena itu, adalah point of no return untuk saya. Jika tidak selesai, terus saya mau berbuat apa? PNS bukan, orang terkenal bukan, dekat dengan pengusaha dan pemodal juga tidak. Selesai sekolah, dengan cepat, adalah salah satu cara terbaik memperbaiki peluang hidup di masa depan.

Jika disederhanakan, itulah mungkin saran dari saya untuk kawan-kawan yang sedang berjibaku atau baru memulai petualangan sekolah Ph.D.

Sekali lagi, sebagi disclaimer, tentu setiap orang mempunyai gaya dan jalan sendiri. Apa yang saya tulisakan di atas hanyalah apa yang saya alami. Tapi semoga ada manfaatnya untuk siapapun yang membacanya.

Pamulang, 29 September 2021 (Satu minggu setelah selesai oral defense disertasi).

Leave a Reply

%d bloggers like this: