• Becoming NU

    “Setiap santri terlahir sebagai NU, panitia kampuslah yang menjadikannya HMI dan PMII.” Begitu unggahan status seorang kawan di halaman Facebooknya. Saya tahu, kawan yang satu ini hatinya NU sekali meski kakak kelas di kampusnya menjadikannya HMI, bukan PMII. Saya juga begitu. Dan karena polarisasi kehidupan kampus ini, ada banyak sekali santri NU tulen yang merasa canggung, sedikit malu-malu atau secara perlahan ‘dipaksa’ menyamarkan identitas Ke-NU-annya. Itu juga yang saya alami. Sebagai santri, pendidikan pertama yang saya enyam adalah pendidikan pesantren salaf di tempat kelahiran saya di Kuningan. Di desa Lengkong dan Karangtawang dulu berdiri banyak pesantren. Banyaknya pesantren yang berdiri di desa itu bukan tanpa alasan. Makam…

  • Penghargaan untuk mereka yang telah mengantarkan saya ke titik Ph.D

    Beberapa bulan sebelum saya memulai petualangan sekolah Ph.D di Amerika, Ibu saya meninggal di Mekah ketika berhaji. Beberapa hari sebelum ia meninggal, ia menelpon bahwa ia telah memanjatkan doa khusus untuk kesuksesan studi saya di Amerika dari depan Ka’bah. Saya tidak bisa melihat jenazahnya, juga tidak bisa mengunjungi kuburannya. Enam tahun kemudian, ketika saya hampir menyelesaikan pendidikan doktoral saya di Amerika dan harus pulang ke Jakarta, Ayah saya meninggal dunia. Saya dan keluarga waktu itu masih berada di dalam karantina. Ayah saya telah menunggu untuk melihat cucunya yang lahir di Amerika. Tapi kita tidak bisa bernegosiasi dengan nasib. Coronavirus menggerogoti badannya dengan cepat. Ia meninggal dalam kesendirian.…