• Catatan Harian

    Kemana Kawan Kita, S?

    “Untuk S yang hilang ditelan filsafat.” Begitu bunyi dedikasi sebuah buku. Buku itu ditulis untuknya, oleh sahabatnya ketika kuliah di STF dulu. S memang raib entah ke mana. Ia seperti hyang, menghilang. Tapi saya yakin bukan karena ditelan filsafat. Ia hilang karena kami, kawan-kawannya, atau keluarganya, tak segera merengkuhnya. Tangannya tak segera kita tarik kembali ke dunia nyata. Dan ia kini seperti fatamorgana. Saya selalu memikirkannya setelah mendengar cerita pilu itu. Tak percaya perjalanan hidupnya akan seperti sekarang ini. S anak yang sangat cerdas, artikulatif dan berdedikasi untuk apa yang ia sukai dan cintai. Tapi juga introvert dan sering terlihat melankolik. S suatu hari berkonsultasi kepada saya di basecamp forum…

  • Catatan Harian

    Becoming NU

    “Setiap santri terlahir sebagai NU, panitia kampuslah yang menjadikannya HMI dan PMII.” Begitu unggahan status seorang kawan di halaman Facebooknya. Saya tahu, kawan yang satu ini hatinya NU sekali meski kakak kelas di kampusnya menjadikannya HMI, bukan PMII. Saya juga begitu. Dan karena polarisasi kehidupan kampus ini, ada banyak sekali santri NU tulen yang merasa canggung, sedikit malu-malu atau secara perlahan ‘dipaksa’ menyamarkan identitas Ke-NU-annya. Itu juga yang saya alami. Sebagai santri, pendidikan pertama yang saya enyam adalah pendidikan pesantren salaf di tempat kelahiran saya di Kuningan. Di desa Lengkong dan Karangtawang dulu berdiri banyak pesantren. Banyaknya pesantren yang berdiri di desa itu bukan tanpa alasan. Makam Mbah Dako yang…