Si ‘Untung’: Cerita perihal kesempatan.

Banyak yang bilang saya cukup beruntung bisa sekolah di Amerika, di kampus bagus dengan beasiswa penuh. Setiap ada waktu luang bisa diisi dengan jalan-jalan ke tempat-tempat yang sangat terkenal. Lebih beruntung lagi karena keluarga turut serta, tinggal di Amerika dan bisa menimba pengalaman dan pendidikan di sini. Ya, mungkin saya cukup beruntung.

Tapi ‘untung’ tidak bisa belajar tengah malam, mengorbankan waktu akhir pekan, membuat proposal, mengendarai sepeda motor mencari tempat kursusan, menabung sisa uang gaji, belajar gagal berkali-kali. ‘Untung’ tidak bisa mengerjakan semua itu. Apa yang didapatkan kita hari ini tak lebih dari pertemuan dua hal: kesempatan dan kesiapan kita memanfaatkan kesempatan itu. Jika tak pernah ada kesempatan, tak akan pernah kita mencapai sesuatu. Mungkin ketika dapat kesempatan itulah kita sering disebut beruntung. Tapi kita sering lupa ada banyak sekali kesempatan bagi banyak orang tapi, atau pada diri kita pada kesempatan lain, namun tidak bisa mengambil manfaat atas kesempatan itu karena kita tidak siap. Mungkin kesempatan itu datang terlalu cepat atau terlalu lambat. Orang yang beruntung adalah orang yang bekerja lebih keras dan selalu lebih siap menyongsong kesempatan karena ia selalu datang tidak terduga.

Saya bermimpi sekolah di luar negeri sejak di pondok dulu. Impian waktu itu juga bukan Amerika atau Australia. Mimpinya mau beajar ke Al-Azhar atau ke Mekah biar jadi kyai. Tapi proses mengubah jalan kita masing-masing. Tak sampai di Mesir, saya sampai di Australian, Eropa dan Amerika.

***

Saya selalu bilang kepada kawan-kawan dekat, sekarang setiap orang lebih punya banyak pilihan dan kesempatan untuk sekolah dimana saja. Saya masih ingat ketika mulai kuliah di Ciputat dulu senior selalu bilang bahwa hanya ada beberapa puluh kesempatan saja untuk sekolah ke luar negeri setiap tahun. Kesempatan yang sedikit itu diperebutkan ratusan ribu bahkan mungkin jutaan orang. Tapi kini, solanya bukan apakah ada atau tidak kesempatan itu. Masalahnya apakah mau atau tidak mengambil kesempatan itu. ‘Mau’ itu artinya tentu dimulai dari tekad yang kuat. Lantas berusaha.

Usaha sedehana yang saya lakukan dulu ketika kuliah untuk mempersiapkan diri itu adalah kursus bahasa Inggris. Seminggu tiga kali saya naik bus dari Ciputat ke Pondok Indah untuk kursus di sebuah lembaga bahasa yang cukup bagus. Untuk itu saya juga harus menabung. Lumayan saat itu senior mengajak saya bergabung untuk bekerja, jadi sudah punya gaji. Saya ambil dua kali kursus di lembaga itu. Tak lama berselang, saya mengambil kursus lain di kawan Kuningan. Selama tiga bulan, seminggu tiga kali saya harus menempuh pejalanan panjang naik bus P20 dari Ciputat ke daerah Kuningan.

Tak sia-sia, kemampuan bahasa Inggris saya meningkat lumayan dan saya bisa mencapai skor minimal untuk daftar beasiswa (IELTS 6.5). Kerja keras selama dua tahun persiapan itu terasa terbayar. Enam bulan kemudian saya mendaftar beasiswa ke Australia dan dinyatakan lulus. Setelah itu meniti kesempatan lain terasa lebih mudah.

Kalau menengok kembali apa yang dulu saya alami, sebenarnya kita tidak perlu terlalu membanting tulang untuk mempersiapkan semuanya. Yang sulit hanya di langkah awal. Kalau mau kerja keras selama setahun atau dua tahun memperbaiki bahasa Inggris, jalan berikutnya lebih mudah. Persyaratan minimal itulah kunci titian lain yang lebih tinggi

Namun untuk itu saja masih banyak kawan yang mengeluh. Saya selalu bilang, bahkan jika kita terlalu sibuk untuk mengurusi hal lain, meluangkan waktu sehari satu jam di pagi hari setelah subuh selama setahun untuk persiapan bahasa Inggris adalah investasi penting untuk sisa hidup kita. Beberapa orang kawan junior bisa lolos lubang ini dan sekolah. Sisanya masih banyak yang merasa hidupnya terlalu sibuk untuk hal lain.

Ada baiknya saya share lagi video saya di Youtube tentang ini.

Libur Rahasia di Sekolah Kaka dan Yarra

Illustration only

Tadi pagi saya mendapatkan email dari sekolah Yarra dan Kaka. Bagusnya di sini, semua informasi sekolah diberitahukan kepada kita lewat email. Kadang sampai dua kali dalam seminggu kita dikirim email terkait informasi apa saja dari sekolah Kaka. Tentu itu karena lebih mudah dan murah.

Emailnya berisi informasi penting untuk minggu depan. Salah satu hal yang diinformasikan adalah perihal libur sekolah. Kening saya sedikit berkerut. Sebelumnya istri sudah memberitahu bahwa Senin tanggal 10 Sep libur. Tapi saya masih penasaran kenapa hari itu libur. Pasalnya, kalau libur biasanya diberitahu dalam rangka apa: apakah hari buruh, kemerdekaan, Martin Luther King day, Thanksgiving atau yang lain. Libur besok hanya diberitahu: unassigned day.Tentu informasi itu bukan informasi karena tidak menjelaskan apapun selain ingin bilang hari libur ‘tak ada kerjaan’

Saking penasarannya saya buka kalender di handphone dan saya aktifkan fitur hari-hari penting di Amerika. Selelah saya membuka fitur itu, mulailah sedikit jelas: tanggal 10 September adalah hari besar umat Yahudi, Rosh Hashanah, semacam serangkaian tahun baru Yahudi.

Setelah dicek, tanggal 19 September, hari Rabu, sekolah Kaka dan Yarra juga libur. Itu adalah hari Yom Kippur, juga hari libur umat Yahudi, rangkaian Rosh Hashanah tanggal 10. Tapi lagi-lagi sekolah hanya bilang: unassigned day.

Kenapa sekolah tidak jujur dengan bilang: Rosh Hashanah dan Yom Kippur day? Pikiran saya mulai sedikit usil. Saya tahu, jika menyebut dua hari itu mungkin sekolah akan dianggap melanggar peraturan terkait diskriminasi. Kalau Yahudi dikasih libur sampai dua kali dalam dua minggu dan secara terang-terangan disebut dalam kalender sekolah, mungkin nanti yang Muslim minta minimal libur pas Idul Fitri (di Amerika anak-anak tetap sekolah pada hari Idul Fitri). Juga agama lain.

Akhirnya libur sekolah itu ditentukan dengan prinsip ‘tahu sama tahu’. Dibilang hanya unassigned day meski semua orang tahu (kecuali saya karena baru tahu hari ini) bahwa itu hari untuk merayakan hari suci umat Yahudi. Tapi persis disini yang bermasalah untuk saya. Di Amerika saya diajarkan untuk jujur dan terus terang. Tapi dari kalender sekolah itu saya mendapat kesan kerahasiaan dan tidak terbuka.

Saya sedang mengetes bertanya ke sekolah langsung kenapa libur. Ingin tahu jawabannya seperti apa? Tunggu nanti kalau sudah dijawab. Tapi perasaan saya mereka tetap tidak akan menyebut libur itu untuk perayaan hari raya Yahudi, karena mungkin itu akan melanggar klausul diskriminasi.

Trotoar impian

Rindang pepohonan membuat terik matahari siang itu tak terasa. Sejuk dengan angin sepoi-sepoi. Saya bergegas menuju gerbang University Village (Kampung Universitas), komplek perumahan kampus UCLA yang sangat nyaman tempat saya dua tahun ini tinggal. Setiap hari saya melalu jalan ini. Dan setiap hari juga saya menikmati indahnya rimbun pepohonon, bunga mekar dalam semburat sinar mentari dan tupai-tupai yang loncat lincah di dahan pepohonan.

Trotoar ini persis di samping apartemen tempat saya tinggal. Jalannya dibuat lurus seperi penggaris, membentang sepanjang jalan Sepulveda. Setiap pagi para mahasiswa bergegas atau berlalu dengan tergesa mengejar bus ke arah kampus. Setiap sore banyak mahasiswa berolah raga lari.

Kebetulan siang itu saya kembali ke apartemen dari kampus lebih awal karena harus mengerjakan sesuatu di rumah. Kampus juga masih sepi karena masih liburan. Setelah mengisi ulang kartu untuk mencuci baju di kampus saya putuskan langsung pulang. Begitu turun di halte bus, siang yang terik menyambut saya. Tapi begitu memasuki jalur pejalan kaki ini, saya langsung merasa damai: jalan yang lurus dan rimbun dengan bunga-bunga.

Saya bermimpi suatu saat semua trotoar di negeri saya seperti ini.