Perihal Sang Waktu

Beberapa minggu terakhir ini saya hampir terkubur oleh banyaknya tugas yang harus diselesaikan. Setelah dari Jenewa, tugas bertambah karena tiba-tiba saya mendapatkan kabar baik tapi sekaligus menambah beban: tulisan saya yang dikirim ke sebuah jurnal internasional, teritan Brill, diterima dan akan muncul pada edisi Musim semi tahun ini. Editor meminta saya segera mengerjakan beberapa perbaikan. Pada saat yang sama Professor meminta saya memberikan review pada satu tulisan jurnal tentang hukum Islam. Itu bagian dari pekerjaan saya sebagai asisten. Tak berhenti di situ, rencana pengajuan grant untuk perjalanan ke Indonesia musim panas nanti harus segera di serahkan ke Jurusan Studi Asia UCLA. Saya juga masih pula harus mencari professor pembimbing untuk kandidasi saya bulan Mei nanti. Tak lupa, proposal disertasi harus terus dilihat dan diperbaiki.

Itu baru urusan saya sendiri. Sebagai ayah dan suami saya juga harus mengurus banyak hal terkait anak dan istri. Amartya tiba-tiba asmanya kambuh, dan Yarra kurang sehat. Terkubur.

Tapi saya menolak untuk tidak bersyukur!

Ya, bersyukur. Itu artinya ada banyak amanah yang dibebankan untuk kebaikan saya. Saya bersyukur pula karena merasa sudah biasa menghadapi semua ini. Saya sudah terlatih mengerjakan banyak hal pada saat yang bersamaan. Bersyukur saya telah mempersiapkan akan munculnya hari-hari seperti ini sedari dini.

Saya merasa pendidikan dulu di pesantren dan kehidupan aktivisme kampus semasa kuliah di Ciputat sebagai penentu landasan kokoh bagi saya kini menghadapi banyak pekerjaan. Semasa di pesantren dulu saya biasa bangun dini hari, mengaji, masak, nyuci baju, sekolah, kembali mengaji, sedikit olah raga. Hampir setiap jam terasa bermanfaat. Semasa jadi aktivis di kampus juga demikian. Kadang baru kembali ke kosan tengah malam atau dini hari dan kembali harus mengurus banyak hal ketika matahari baru saja terbit. Tidur dua tiga jam sudah biasa. Saya kira, itulah salah satu pelajaran dan manfaat terbesar dunia aktivisme: kita sudah bisa membagi waktu, mengerjakan beberapa hal bersama-sama.

Saya selalu saja ingat: tak ada orang sukses yang merasa dirinya terlalu sibuk. Sementara sebagain besar orang gagal merasa dirinya tak punya waktu. Waktu 24 jam yang tersedia pastilah cukup untuk menampung rangkaian kegiatan manusia. Hanya soal bagaiman kita mau mengatur waktunya.

Perihal pekerjaan itu kuncinya satu: harus dikerjakan. Kalau dipikirkan saja, kita merasa ada terlalu banyak beban. Kalau segera dikerjakan, tak ada tugas yang terlalu berat.

Dan alhamdulillah, satu persatu pekerjaan saya mulai terurai. Sudah bisa sedikit bernafas lega dan bisa menulis di blog ini untuk sekedar curhat.

Leave a Reply