Catatan Harian

Nek

Tiba-tiba saya ingat Mimi, Ibu saya. Saya memanggilnya Mimi. Anak-anak saya, cucu Ibu saya, biasa memanggilnya Nek.

Entah kenapa tiba-tiba senyumnya yang khas datang menyapa saya baru saja. Beberapa hari lalu saya juga bermimpi bertemu dengannya. Di bus dalam perjalanan ke kampus, saya tiba-tiba merasa Ibu masih ada dan ia seperti memberi tahu bahwa ia bahagia melihat saya berada di sini.

Permintaan saya terakhir padanya adalah agar Nek mendoakan saya dari Kota Suci Mekah perihal semua urusan sekolah saya ke Amerika. Saya sampaikan kabar bahwa saya baru saja mengirim lamaran ke fakultas hukum UCLA untuk jadi mahasiswa doktoral. Nek mengira saya mengirim aplikasi untuk jadi dosen di UCLA. Setelah beberapa kali berbalas pesan singkat, akhirnya Nek mengerti bahwa saya hanya akan menjadi mahasiswa, bukan dosen, di UCLA. Meski begitu ia senang sekali. Ia bilang tentu akan didoakan sepenuh hati dari depan Ka’bah di tanah suci.

Saya masih ingat, tak selang beberapa hari,  ia memberi tahu bahwa esok pagi akan pergi ke Arafah untuk wukuf. Ia sehat meski badan mulai terasa tidak enak. Tapi sudah diperiksa dokter, katanya tidak ada masalah. Hanya kecapean. Nek minta didoakan agar lancar. Saya membalas seperti biasa: kami anak-anaknya mendoakan agar Nek dan Abah sehat selalu. Kami khawatir pada Abah. Ketika berangkat haji, dia sedikit sakit.

Pagi harinya Nek mengirim lagi pesan singkat: “Bismillah, doanya, ini sedang menuju Arafah.”

Rupanya itu pesan singkat terkahir Nek. Ya, pesannya terkahir karena tiba-tiba sore hari waktu Indonesia saya mendapat pesan yang membuat hati berdebar dan bumi berputar: “Doakan Mimi, kena strooke.” Abah segera saya hubungi. Ketika dihubungi lewat telpon, Abah langsung menangis. Saya mencoba menenangkan. Tapi Abah terus menangis. Dia bilang, Nek sudah koma dan tidak sadarkan diri sejak terkahir pingsan di pangkuannya.

Saya segera kontak kawan yang kebetulan bekerja di Kementrian Agama dan sedang menajadi panitia haji. Dia bergegas ke rumah sakit darudat di Arafah. Katanya, ketika dia tiba, Nek sudah syahid. Saya tidak percaya. Setelah berbicara lewat video dan melihat langsung Nek yang terbaring dengan muka penuh cahaya, barulah saya sadar, Nek sudah pergi menemui Illahi.

Saya selalu membayangkan bagaimana senangnya Nek jika ia masih ada: saya akhirnya sekolah kampus UCLA. Saya sepenuhnya yakin, doanya di depan Ka’bah telah berandil besar dalam mewujudkan cita-cita saya. Sebagai Muslim saya percaya, usaha yang tekun haruslah dibarengi dengan doa. Doa dari diri kita, juga doa dari orang-orang yang kita cintai, terutama doa kedua orang tua.

Saya selalu membayangkan, Nek sebenarnya tahu dengan semua yang terjadi: Kaka disunat; Yarra sekolah di TK; Saya berangkat ke Amerika; Bunda, Kaka dan Yarra menyusul ke Los Angeles. Ia tahu. Tapi ia tak bisa memberi tahu ia tahu.

Nek meninggalkan kita terlalu cepat. Usianya baru 53 atau 54 ketika meninggal di Mekah saat beribadah haji. Saat itu cucu-cucunya masih kecil, sedang lucu-lucunya. Cucunya yang paling besar, Amartya, anak saya, saat itu baru berusia 5 tahun. Saya tak yakin cucu-cucunya masih bisa menyimpan ingatan wajah Nek sampai tua nanti. Sama seperti saya tak ingat wajah nenek, ibu ayah saya. Saya hanya tahu namanya. Tapi karena nenek dikuburkan di makam di pinggir kampung, saya setidaknya masih punya ikatan dengan nenek: bapak saya sering membawa saya berziarah ketika saya kecil. Bapak selalu mengatakan bahwa ini adalah kuburan almarhum nenek.

Sayangnya, karena Mimi, ibu saya, meninggal di Mekah, anak-anak saya tak akan pernah bisa berziarah langsung berdoa di samping kuburannya. Tentu mereka bisa melihat fotonya. Tapi tak lebih dari itu. Biarkanlah pada ingatan yang terbatas ini kita menitipkan senyum dan kasih sayangnya.

Semoga Allah menyayangimu selalu. Alfatihah…

Leave a Reply

%d bloggers like this: