Catatan Harian

Negeri Para Pekerja Keras

Mungkin kita sinis melihat orang-orang yang ‘bekerja’ hanya dengan modal pluit itu. Mungkin kita kesal dengan Abang-abang di pertigaan yang hanya bermodal bendera dan meminta uang dari kita. Mungkin kita tidak suka dengan ‘Pak Ogah’ di pinggir jalan.

Saya juga begitu melihat mereka, dahulu.

Entah kenapa, cara pandang saya pada mereka kini berubah. Saya melihat mereka kini sebagai orang-orang yang tetap berjuang keras ditengah ketidakberdayaan mereka. Mereka adalah orang yang tidak ingin disebut pengangguran. Mereka tidak ingin disebut peminta-minta. Mereka menawarkan ‘jasa’, sekicil apapun bentuknya.

Tukang parkir, Pak Ogah, tukang dagang keliling, tukang tambal ban, tukang pungut sampah, tukang rongsokan, adalah sosok-sosok yang mewakili kekerasan hidup sekaligus kekerasan semangat untuk bertahan. Mereka adalah para pejuang yang tidak mau menyerah menjadi ‘pengangguran’ dan sekedar menengadahkan tangan.

Tempo hari hati saya sangat tersentuh. Saya melihat seorang ibu berjalan berlawanan arah di ujung komplek. Saya tidak tahu persis apa yang dibawanya. Dengan jilbab panjang menjulur ia berjalan bergegas. Ketika saya kembali dan tiba di rumah, saya melihat kembali sosok ibu tadi. Kini ia berada persis di depan rumah. Rupanya ia berkeliling menjual krupuk kulit dalam keranjang kecil yang dibawanya. Ia setengah berteriak menawarkan krupuk kulit ke tiap rumah.

Ibu lain berkeliling dengan sepeda menawarkan kue dan lauk untuk makan. Suaranya juga memekik setengah berteriak: “Kue-kueeee…lauknya-lauuuk, Bu…”

Pada pekikan tawarannya, pada sosoknya yang mulai menua, saya melihat betapa kerasanya hidup. Tapi pada pekikannya pula saya mendengar harapan dan ketidakrelaan mengeluh.

Setelah lama tingal di Los Angeles dan melihat begitu banyak tuna wisma dan gelandangan di kota itu, kini saya melihat sosok ibu itu, sosok Abang tukang parkir, sosok pemungut sampah, dengan cara yang berbeda.

Di sini, tak ada orang ‘menganggur’. Semuanya bekerja, meski serabutan. Atau, seperti Abang tukang parkir dan ‘Pak ogah’, mereka setidaknya tidak ingin dianggap pengangguran. Berada di jalanan, membantu orang menembus kemacetan di putaran dan pertigaan, sekedar meniup peluit di parkiran, adalah usahanya terbaik untuk tidak disebut ‘ngangur’. Mereka ingin setiap rupiah yang diterimanya didapatkan dari hasil melakukan sesuatu, sekecil apapun itu.

Jam berapapun kita keluar rumah, kita akan menemukan orang bekerja. Tempo hari saya tiba di hotel lewat tengah malam. Sepanjang jalan menuju hotel saya melihat orang-orang masih mencari nafkah. Ojeg masih berkeliaran. Tukang rokok setia menanti pembeli hingga dini hari. Tukang pulsapun masih buka. Warung-warung makan masih menyediaan menu terakhir mereka. Tukang tambal ban terkantuk-kantuk di bedengnya.

Saudara saya dan banyak lagi pedagang bubur kacang hijau harus buka 24 jam, tanpa henti untuk mencari sesuap nasi. Para pedagang pasar sudah pergi dari kampungnya lewat tengah malam.


Di Amerika, ketika seseorang kehilangan pekerjaan, yang ia bisa lakukan adalah mencari pekerjaan baru. Tapi jika semua usaha itu telah ditempuh tetapi tida juga membuahkan hasil, ia akan menjadi sampah masyarat. Orang itu biasanya lantas mengandalkan jaminan sosial negara. Pada banyak kasus, karena tunjanan itu hanya cukup untuk makan, ia menjadi tuna wisma. Pengangguran itu, di Amerika, tidak punya pilihan untuk julan kue di depan rumah. Ia tidak punya pilihan menjadi tukang parkir; tidak pula punya pilihan menjadi tukang dagang keliling atau tukang ojek.

Ruang-ruang informal yang menampung orang-orang gagal itu hampir tidak ada. Semuanya diformalkan. Untuk membukan warung makan, seperangkat aturan, standar, izin dan prosedur harus ditempuh. Tidak bisa hari ini menganggur besoknya ujug-ujug jualan cilok atau gorengan.

Tentu ada plus dan minusnya. Di Indonesia, ketika negara tidak hadir, masyarakat dituntut hidup sendiri. Mandiri. Karena itupula sektor-sektor informal menjamur. Akibatnya jadi sembrawut, tanpa aturan, tanpa standard. Tapi bukankah hidup dan sesuap nasi lebih penting dari sekadar standarisasi kesehatan makanan?

Ketika menaggur dan tidak memiliki pekerjaan formal, orang-orang bisa segera beralih ke sektor informal dalam seketika untuk bertahan. Ada yang singgah hanya sementara sambil menunggu pekerjaan yang lebih ‘resmi’. Ada pula yang harus rela ‘terjebak’ dalam kubangan pekerjaan serabutan itu selamanya. Tapi setidaknya mereka ‘bekerja’ dan melakukan sesuatu.

Aspek itulah yang tidak saya temukan di Amerika. Semua saluran sudah diformalkan. Tentu ini sangat bagus. Parkir, misalnya, menjadi dana penyumbang pajak yang sangat besar bagi pembangunan kota. Sementara di Indonesia, parkir-parkir menjadi lahan hidup Abang-abang tukang parkir. Makanan yang dijual pasti lebih terkontrol mutu dan standardnya. Semua profesi terdaftar dan karena itu mudah mendapatkan insentif atau bantuan.

Tapi pada kondisi tertentu, ketika orang-orang tidak bisa lagi masuk pada saluran formal itu, pilihannya hanya meminta dan menjadi tuna wisma. Tak ada ruang pinggiran untuk sekedar mereka bertahan dengan kakinya sendiri.


Jika sebagian dari orang-orang yang kita lihat itu adalah para pekerja keras, kenapa kita tidak sesejahtera orang-orang di negara maju? Kenapa kita tidak lekas beranjak dari status negara kelas menengah? Kenapa masih banyak orang tetap miskin meski sudah bekerja sekuat tenaga?

Di Amerika, misalnya, orang akan berhenti bekerja setelah bekerja maksimal 8 jam sehari. Toko-toko rata-rata tutup pada maam hari. Mereka sepertinya bekerja lebih santai. Tidak ada yang harus bekerja hampir 24 jam untuk sekedar bertahan hidup.

Saya tidak tahu jawabannya. Juga tidak berniat mencari tahu jawabnnya. Biar ahlinya yang menjawab. Tapi insting saya yang awam ini berkata begini: jika kita ini pada dasarnya adalah bangsa pekerja keras, tetapi tetap tidak juga sejahtera, pasti ada yang salah pada tatanan sistem yang lebih besar. Mungkin ada yang keliru dengan cara bagaimana masyarakat kita dikelola. Mungkin ada yang keliru dari cara kerja sistem yang kita anut dalam hal menyalurkan semangat dan tenaga kita. Mungkin juga kita bekerja keras tetapi kurang bekerja cerdas.

Tapi pointnya begini: jika suatu saat tatanan sistem telah terbentuk dengan lebih baik. Energi para pekerja keras dan semangat hidup itu bisa dirubah dan disalurkan kepada hal-hal yang jauh lebih produktif.

Kita butuh dirijen yang bisa merubah energi, semangat hidup, tenaga dan keringat yang tercucur itu menjadi hal yang lebih produktif. Kita butuh perbaikan sistem yang memungkinkan tenaga dan peluh dihargai sehingga lekas menunjang pada terciptanya kesejahteraan.

Leave a Reply

%d bloggers like this: