Cerita dari Dhaka
Awalnya sedikit malas untuk pergi saat itu. Saya sudah mulai bosan bepergian jauh, meninggalkan keluarga, terutama anak-anak yang sedang masa emasnya. Tapi untuk sebuah tugas kadang kita harus berkompromi dengan diri kita dan keluarga. Dan akhirnya sebagaimana biasa saya menyiapkan koper beserta pakaian untuk satu minggu di dalamnya. Entah kenapa saya memilih koper ukuran sedang, bukan koper ukuran kecil yang biasa saya pakai untuk bepergian selama satu minggu. Mungkin karena malas ganti koper saja.
Jika tidak sepenuh hati mengerjakan sesuatu, selalu ada saja yang tidak beres. Malam itu saya tidur sedikit larut meski saya tahu saya harus bangun pagi mengejar tiba di Bandar udara jam 3 pagi karena jam 4 harus terbang. Sial bukan main, mungkin karena lelah dan beberapa hari sebelumnya tidur kurang bagus, saya hampir tidak jadi berangkat malam itu. Untung saja supir taksi menggedor pagar rumah berkali-kali sampai istri saya bangun. Jam 3 pagi! Harusnya saya sudah di airport! Tanpa sikat gigi, tanpa ganti baju, dengan setengah mengantuk saya loncat ke dalam taksi. Untung semua barang bawaan sudah siap di dalam tas. Bahkan sepatupun saya pakai di dalam taksi. Karena malam, supir taksi yang berubah menjadi pembalap Formula 1 memacu kendaraannya sangat cepat, mungkin kasihan karena dia tahu saya akan terbang ke luar negeri. Setelah saya cek lagi dalam taksi, penerbangan ternyata jam 4. 30. Meski sedikit khawatir, saya masih yakin saya masih bisa mengejar penerbangan itu. Dan betul saja, saya tiba di Bandar udara dan menjadi orang terakhir yang melakukan check-in.
Saya tiba dengan selamat di Kota Kinabalu, Sabah pada siang hari dan langsung menggelar beberapa pertemuan sebagaimana sudah direncanakan oleh kantor saya. Kota Kinabalu menarik, namun saya merasa kota itu kurang mempunyai roh. Kota itu mungkin kota paling berkembang di pulau Kalimantan atau Borneo. Saya pernah beberapa kali ke beberapa kota di Kalimantan, maksud saya Kalimantan yang masuk ke dalam wilayah Indonesia, Kota Kinabalu mencerminkan kota berkembang yang baik dan terurus. Mungkin penilaian saya keliru karena saya hanya satu dua hari saja tinggal di kota itu.
Tibalah saatnya saya terbang ke Dhaka Bangladesh, langsung dari Kota Kinabalu, Malaysia. Penerbangan selama 5 jam dihabiskan dengan mendengkur. Mungkin karena selama tinggal di apartemen di Kota Kinabalu, saya tidak bisa tidur dengan baik karena tempat tinggal saya persis di samping jalan besar dan pelabuhan. Saya hanya membayangkan Dhaka tidaklah jauh berbeda dari Islamabad, Pakistan. Kota umumnya di Asia Selatan yang jauh lebih kumuh dan kotor dibanding Jakarta. Tapi saya sedikit senang karena di Dhaka ada seorang kawan yang dulu kerja di Jakarta dan kini pindah ke kantor di sana. Setidaknya ada kawan untuk makan malam dan jalan-jalan.
Semuanya normal belaka. Seminar, pertemuan, kembali ke hotel, makan malam, berjumpa kolega dari beberapa negara (kali ini Iran, Pakistan, Jordan), membuat catatan dan sedikit mengantuk. Kota Dhaka dipenuhi debu di setiap penjuru. Kumuh dan macet luar biasa. Tidak ada satupun lampu merah yang berfungsi di kota ini. Orang memacu kendaraan dengan sedikit gila, serobot kanan dan kiri sejenak hati. Intinya, di kota ini lah saya bisa mensyukuri apa yang ada di negeri sendiri. Kita lebih baik.
Tapi bukan itu inti cerita saya ini. Kawan saya yang bekerja di sini menjemput saya dan beberapa kawan dari hotel untuk berjalan-jalan ke sebuah pusat perbelanjaan. Konon itu pusat perbelanjaan terbesar di Asia Selatan. Setiap kota selalu mempunyai pengakuannya sendiri. Kalau anda ke Davao, Filipina, orang di kota itu dengan bangga selalu mengatakan bahwa Davao adalah kota terluas di dunia, terbesar dari segi wilayahnya. Saya kurang percaya dengan pengakuan itu sebagaimana saya tidak percaya dengan pengakuan bahwa itu pusat perbelanjaan terbesar di Asia Selatan. Tapi itu tidak penting. Yang penting adalah, di sanalah saya menemukan sebuah fakta bahwa ternyata Bangladesh adalah pusat industri pakaian jadi terbesar di dunia. Industri garment besar dan kecil dari seluruh dunia pasti mempunyai pabrik di sini. Dan karena itulah ternyata pusat perbelanjaan itu menjual semua produk pakaian terkenal dengan harga luar biasa miring.
Saya bukan tipe orang yang suka belanja. Juga seorang kawan dari Pakistan, ketika dalam perjelanan ke sana, bilang bahwa dia tidak akan beli apa-apa. Sudah terlalu banyak dia membeli oleh-oleh. Tapi siapapun itu, bahkan jika dia tipe orang yang tidak suka belanja, pasti tidak akan bisa menolak untuk tidak mengeluarkan uang di sana. Bayangkan, produk ternama seperti Levis, Polo, H&M, hanya dijual sekitar 100 ribuan. Dan itu produk asli, bukan factory outlet dan bukan barang cacat. Ini barang bagus. Konon Toko-toko di sana mendapatkan langsung produk itu dari pabrik-pabrik yang berkerudung di pinggiran kota Dhaka. Produk anak-anak dengan semua merek terkenal lebih gila lagi, harganya hanya sekitar 50-60 ribuan.
Tas kosong yang tadinya kurang pas saya bawa, ternyata membawa berkah. Saya membeli banyak pakaian untuk lebaran nanti (meski batin saya bilang Woiiii lebaran masih jauh!)
Jadi, untuk anda yang akan bertugas ke Dhaka, bawalah koper kosong dan siapakah sedikit uang. 2 Juta rupiah sudah lebih dari puas mengisi koper anda dengan barang yang bisa anda beli di sini.



One Comment
Asep Sopyan
Good story. Smg suatu hari saya bisa main ke Dhaka.