Asam Lambung

Saya pernah sangat ketakutan karena saya mengira menderita penyakit jantung. Ini saya rasakan sejak 4 tahun lalu. Sering dada sesak dan seperti terbakar. Perut begah dan buncit. Susah makan. Kalau pagi mual dan muntah, apalagi kalau sehabis sikat gigi. Awalnya saya tak hirau dengan gejala itu. Tetapi lama-kelamaan saya merasa terganggu. Dada kiri sering terasa nyut-nyutan, kadang dibarengai dada panas. Sesekali sesak. Tapi saya bingung apa sakit saya.

Saya beranikan diri mampir di rumah sakit jantung Harapan Kita untuk cek dan konsultasi dengan dokter. Itu sekitar 4 tahun silam. Saya masih kerja di daerah Menteng dan untuk pergi ke kantor saya biasanya naik motor lewat Pondok Indah-Slipi-lurus ke arah menteng lewat samping hotel Shangrila. Karena malamnya saya sakit sesak, pagi itu tadinya saya akan ke kantor tetapi kemudian rubah haluan. Dari Slipi saya belok ke kiri ke arah RS Harapan Kita. Setelah mengantri, saya akhirnya bertemu dengan dokter dan saya sampaikan keluhan-keluhan saya. Dokter itu hanya senyum simpul. Setelah diperiksa secara sederhana tanpa peralatan, dia bilang: “Bapak sehat, insyaallah tidak apa-apa. Tapi untuk memastikan kita cek lagi ya,” ujarnya. Saya disuruh berbaring dan beberapa alat di tempel di tangan dan kaki saya. Mungkin untuk cek nadi. Selang beberapa saat, setelah hasil pemeriksaan bisa dibaca, dokter itu bilang lagi: jantung bapak sehat.

Tentu saya senang karena kekhawatiran saya tidak terbukti. Saya selalu tak habis pikir apa sakit yang saya alami. Selama ini saya cukup rajin olah raga, makan lumayan teratur dan sehat–terutama karena saya orang Sunda yang fanatik lalapan dan buah. Tidak merokok pula. Masa jantung? Memang penyakit jantung ini penyakit laten yang bisa menerkam siapa saja, kapan saja, terutama kalau pola hidup tidak sehat. Hasil konsultasi dengan dokter di RS Harapan Kita tentu membuat saya lega.

Tetapi gejala yang mengganggu saya tidak juga hilang. Terjadi berulang-ulang. Selang setahun dari konsultasi dokter itu, saya kembali lagi datang ke dokter panyakit dalam di RS dekat rumah. Juga sama, saya takut jantung saya ada kelainan. Saya pikir saat itu, mungkin ada baiknya saya mendapatkan ‘second opinion’ dari dokter lain untuk memastikan.

Setelah konsultasi dan diperiksa, juga dengan alat yang sama, dokter yang saya datangai itu juga mengatakan hal yang sama: sejauh ini tidak ada gejala gangguana pada jantung saya. Lah, terus apa? Saya bingung. Dokter itu bilang mungkin paru-paru. Dokter yang memeriksa saya itu meminta saya datang ke bagian radiologi untuk rontgen dada.

Setelah hasil radilogi saya dapatkan, saya diminta datang lagi hari berikutnya ke dokter yang sama. Dokter itu lantas menempelkan hasil rontgen ke kaca putih mirip neon yang terpasang di samping tempat duduknya. Hasilnya: secara umum paru-paru tidak ada masalah, meski sedikit kotor. Penyebabnya? Kata dokter itu, mungkin karena saya sering naik motor tanpa masker. Kata Pak Dokter, asap knalpot dan debu jalanan bisa lebih jahat dari asap rokok. Saya terperanjat dan baru sadar. Selama ini kita selalu tidak peduli dengan masker kalau naik motor. Padahal itu penting sekali untuk memfilter udara yang masuk ke paru-paru kita. Dokter memberikan obat dan menyarankan saya memakai masker kalau naik motor. Setelah hari itu, saya selalu memakai masker kalau naik motor, terutama kalau menempuh perjalanan sedikit jauh.

Perjalanan mencari apa gerangan yang mengganggu hidup saya ternyata tidak juga berkahir juga. Dada sesak dan sedikit nyut-nyutan kambuh lagi, timbul tenggelam. Sebentar hilang terus lain kali datang lagi. Akhirnya saya serius mencari gejala itu. Saya mencari tahu di internet dengan pencarian menggunakan bahasa Inggris. Dan akhirnya, dua tahun silam saya menemukan jawaban yang sepertinya memuaskan. Bukan jawaban dari dokter, tapi jawaban dari Mbah Google. Saya saat itu yakin saya menderita GERD (Gastroesophageal reflux disease) atau asam lambung.

Saya datang ke dokter yang sama untuk konsultasi. Dokter itu punya catatan medis saya sebelumnya. Setelah berdiskusi, dia juga sepertinya sepakat bahwa kemungkinan besar saya menderita GERD atau asam lambung. Pada banyak penderita, ketika kambuh, gejala asam lambung mirip jantung: dada sesak dan panas. Itu karena asam lambung yang harusnya diam di perut dan jumlahnya normal, naik ke tukak lambung, atau ke saluran mirip pipa yang nyambung ke tenggorokan karena produksi asam berlebih. Asam lambung beda dengan sakit maag meski sama-sama penyakit lambung. Dokter memberikan obat bernama omeprazole dan beberapa obat lain untuk menormalkan fungsi pencernaan.

Meski saya senang setelah dari dokter itu karena saya menemukan penyebab keluhan yang selama empat tahun mendera saya, saya juga merasakan sedikit kesedihan setelah bertemu dokter itu. Kata dokter, kalau mau sembuh dan tidak kambuh, saya harus mengihindari minum kopi, makanan pedas dan asam. Kopi tidak boleh? Oh my God! Kata dokter, asam lambung mendera saya karena saya terlalu banyak minum kopi. Dan kalau dipikir-pikir, memang betul. Kalau pagi saya kadang hanya minum kopi dan sepotong kue. Jam 10 atau 11 saya meneguk lagi secangkir kopi di kantor. Setelah makan siang karena mata mulai berat, secangkir kopi lagi untuk mengusir kantuk. Pulang ke rumah, kalau ada pekerjaan yang harus diselesaikan malam hari, saya buat lagi segelas kopi. Itu yang membuat lambung saya kena!

Setelah itu saya puasa kopi dan kurangi makanan pedas dan asam. Hasilnya? saya merasa normal dan keluhan itu tidak lagi muncul. Saya merasa sehat. Setelah tiga bulan itu saya minum lagi kopi, meski hanya sehari sekali. Dan, saudara-saudara, keluhan itu kambuh lagi. Makan pedas juga bahaya. Pernah saya mengalami penderitaan hebat di Medan. Kawan saya di medan mengajak makan di restoran bebek dengan sambal pedas blasss. Saya merasa sudah sembuh jadi mungkin tidak masalah. Beberapa saat setelah makan itu, saya langsung merasa sesak dan perut seperti mau meletus.Padahal esoknya harus ke Aceh. Penderitaan tiga hari di Aceh luar biasa menyiksa disebabkan oleh perut kembung itu.

Terkhir puasa kemarin. Setelah sekian lama tak ada keluhan karena saya menahan untuk tidak minum kopi dan makanan pedas, minggu kedua Ramadhan saya mengalami mual hebat dan mutah. Muntahnya disertai sedikit bercak darah. Saya datang lagi ke dokter yang sama dengan dokter yang saya datangai terkahir di RS dekat rumah. Dokter itu bertanya: kalau pagi setelah sahur bapak tidur lagi? Ya, saya hampir tiap hari tidur sekitar satu jam dipagi hari setelah subuh. Rupanya itu dia penyebabnya. Orang dengan penyakit asam lambung dilarang tidur setelah makan. Harus tunggu 3 jam setelah makan kalau mau tidur. Karena kalau langsung tidur, asam lambung langsung naik dan menyebabkan GERD yang diderita menjadi kambuh.

Meski mata lengket saking ngantuknya di pagi hari setelah sahur itu, saya paksakan tidak tidur. Saya jalan kaki atau menulis untuk mengusir kantuk. Baru tidur lagi siang. Gejalan yang mengganggu itu hilang!

Jadi kesimpulannya begini. Buat anda yang punya keluhan: begah, kembung,  sering mual-mual palagi kalau setelah sikat gigi, terkadang dada sesak dan terasa nyut-nyutan di dada kiri, kadang sampai mual dan muntah, mungkin anda sakit asam lambung. Asam lambung bukan maag, jadi obat maag pasti tidak mempan (saya dulu kira maag juga dan obat maag sama sekali tidak berpengaruh). Kalau mau lebih yakin tentu harus konsultasi ke dokter. Tapi semoga catatan saya bisa bantu deteksi gejala awal.

Kalau anda menderita keluhan itu (asam lambung atau GERD) anda harus menghindari: minum kopi, makanan pedas, makanan asam atau minuman dan makanan yang bisa meningkatkan kadar asam dalam lambung. Hidari juga tidur setelah makan (tunggu 3 jam, baru boleh tidur). Kalau tidur bantal harus sedikit tinggi agar posisi kepala diatas untuk menjadi asam dalam perut tidak naik.

Obat yang biasa diberikan dokter: omeprazole, neciblok sirup, lancid, domperidon tablet.

Semoga bermanfaat buat anda…

Kekuatan Bermimpi

Belakangan setelah shalat saya sering berdoa agar sealu diberikan kekuatan untuk bermimpi. Apa susahnya bermimpi? Tidak susah. Yang susah adalah menghilangkan rasa puas diri ketika semua impian tercapai dan lantas kita lupa untuk menyemai mimpi-mimpibaru.

Saya awal tahun ini dikaruniai banyak anugrah oleh Allah berkat usaha saya tahun lalu. Anugrah itu adalah sejumlah keinginan dan mimpi. Anugrah itu tahun lalu telah membakar semangat hidup saya: menjadi lebih disiplin, kerja keras dan pantang menyerah. Anugrah itu diraih lewat penolakan, keputusasaan dan kelelahan. Tapi buah yang manis memang diraih dan datang ketika kita lelah berusaha dan merasa jalan sudah buntu. Bagi orang lain mungkin itu biasa saja. Tapi bagi saya, menerbitkan sebuah novel berbarengan dengan dimuatnya satu tulisan saya di jurnal ‘Indonesia and the Malay World’, jurnal nomor satu untuk studi Asia Tenggara, adalah sungguh sebuah pencapaian. Saya merayakannya dengan sederhana. Tahu bahwa ini belum apa-apa.

Lantas setelah dua hal itu menjadi kenyataan, saya seolah kehilangan daya imajinasi. Selalu saja bertanya pada diri sendiri: setelah ini mau apa lagi? Menulis lagi novel? Ah, rasanya terlalu cepat. Biar yang sudah terbit diapresiasi dahulu oleh pembaca. Di sela-sela waktu luang masih sempat buka-buka dan mengedit tulisan lama untuk kembali dikirimkan ke jurnal internasional. Tapi selalu saja saya diwanti-wanti oleh alam bawah sadar saya untuk tidak perlu tergesa-gesa menggarap kembali tulisan di jurnal. Mau apa lantas?

Hidup terasa lebih bermakna dan bergelora kalau kita sedang mengejar sesuatu. Apa yang sedang dikejar membuat hidup ini fokus dan bergairah. Tanpa mimpi-mimpi, sinar mentari pagi tidak terasa istimewa dan malam-malam sepi selalu dibiarkan pergi begitu saja. Padahal tahun lalu ketika sedang mengejar dua hal itu, malam-malam selalu terasa berharga dan tak ingin membiarkannya pergi tanpa capaian apa-apa.

Mari kembali menyemai mimpi, kawan!