Rezeki

rezeki1Tiba-tiba saya teringat rezeki. Entah kenapa. Mungkin karena habis lebaran dan setiap orang berurusan dengan rezeki: ada yang membagikan sebagian rezekinya, ada yang mencari rezeki tambahan agar bisa mudik, ada yang mendapatkan rezeki nomplok karena menjadi penjual kolak dadakan, ada yang kehilangan rezeki karena rumahnya kemalingan.

Rezeki biasanya identik dengan harta benda. Kalau orang disebut banyak rezeki biasanya orang itu punya banyak uang, rumahnya mewah, mobilnya ada beberapa. Tidak salah anggapan seperti itu, tetapi tidak juga sepenuhnya benar. Ada rezeki lain yang tidak pernah kita sadari, misalnya rezeki kesehatan.

Ketika lebaran, entah kenapa, Istri saya ketika mangap mulutnya susah menutup kembali. Rezeki nikmat mengunyahnya tiba-tiba terenggut. Selama minggu kedua Ramadhan asam lambung saya kambuh. Perut terasa begah, kembung dan selalu mual. Kenikmatan saya menikmati rezeki makan dan minum, terutama secangkir kopi, tiba-tiba sirna. Ada banyak cerita orang mempunyai banyak harta benda tetapi tidak bisa menikmatinya karena kesehatan atau kesibukannya.  

Tentu ini tidak berarti saya mengajak anda untuk tidak kaya dan banyak uang. Saya hanya mau mengingatkan anda yang banyak uang dan kekayaan untuk tidak lupa menikmatinya. Kenapa? Karena rezeki adalah sesuatu yang sudah dinikmati. Nasi yang sudah masuk di perut kita, itulah rezeki. Meski milik kita tetapi masih teronggok di kulkas atau di dapur dan belum dimakan, belum tentu itu rezeki kita. Rumah anda besar. Bahkan harus naik ojek untuk pergi ke ruang tengah. Tetapi rezeki anda hanyalah kotak empuk bernama kasur yang ditiduri, atau sofa yang sedang diduduki.

Rezeki orang beda-beda. Anda semua tahu itu.

Ada orang yang punya rezeki banyak waktu. Tak ada pekerjaan, alias pengangguran, sebenarnya adalah rezeki waktu luang yang luar biasa. 

Saya ingat ketika saya masih jadi pengacara (pengangguran banyak acara) saat baru selesai kuliah dahulu. Memang sudah ada pekerjaan yang lumayan. Namun tidak terlalu sibuk karena sebagai pekerja survey, tugas saya hanya menanti SPK dari kantor. Ada lebih banyak rezeki waktu luang saat itu. Dan Alhamdulillah saya bisa memanfaatkan kelebihan rezekai waktu luang itu untuk belajar Bahasa Inggris. Saya ambil kursus sampai 3 kali di dua tempat kursus berbeda karena ingin Bahasa Inggris saya segera bagus untuk mengejar beasiswa. Dan berkat usaha memanfaatkan rezeki waktu luang itu, saya bisa ke Australia, ke Eropa, jalan-jalan keliling Asia dan bulan depan, insyaallah memulai kuliah di California.

Saya sering sampaikan kepada adik-adik kelas yang masih luntang-lantung setelah lulus dan belum punya pekerjaan tetap bahwa justru saat itulah masa terpenting karena rezeki waktu yang berlebih itu bisa dimanfaatkan untuk apa saja. Tergantung bagaimana maunya kita. Akan datang waktunya kita sibuk setelah rezeki waktu luang berlebih itu dilalui. Jadi bagi yang masih belum punya pekerjaan tetap, jangan lihat negatif kenyataan yang sedang dihadapi itu. Justru anda sedang banyak rezeki waktu. Bayangkan: ada terlalu banyak contoh ayah tak bisa punya rezeki waktu lebih untuk sekedar datang ke sekolah untuk mengambil raport anaknya; ada banyak wanita karir yang tak punya rezeki waktu luang untuk sekedar datang ke rumah ibunya di akhir pekan; ada ayah yang tidak bisa menemani anaknya di hari minggu.

Ada kawan saya yang kaya sekali, punya mobil dan rumah mewah, tetapi ada juga yang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Itu karena rezeki sudah diatur? Mungkin benar. Tetapi rezeki itu harus dicari. Tugas manusia hanya mencari rezeki. Jumlahnya ditentukan yang di atas. Tentu ada korelasi positif antara usaha dan hasil. Tetapi dalam memaknai hasil kita tidak boleh terlalu materialistik, ukurannya tidak mesti uang dan harta benda yang nampak.

Saya merasa pekerja keras sejak kecil. Saya cukup prihatin sejak kecil. Orang tua saya pas-pasan. Saya sekolah di madrasah reot. Saya merasa saya bekerja cukup keras untuk memperbaiki hidup. Tetapi kenapa sekarang hanya punya sebuah rumah kecil di pinggiran kota di luar Jakarta, bukan rumah mewah di Jakarta? Mobil yang sedehana didapatkan dengan susah payah hasil nyicil. Padahal saya lulus S2 dari luar negeri, dari kampus bergengsi. Saya juga pernah mencoba buka usaha secara serius dengan modal lumayan besar agar punya rezeki uang dan harta benda lebih banyak meski kemudian gagal. Sementara ada banyak adik kelas saya yang sudah jauh lebih kaya, bawa mobil mewah dan tinggal di komplek mahal di Serpong. Kadang saya berfikir kenapa bisa begitu. Rezeki itu sedikit misterius.

Tetapi saya selalu berfikit positif. Saya selalu bilang pada istri saya: kaya, rumah dan mobil mewah akan datang pada waktunya. Sekarang nikmati dan syukuri apa yang ada. Saya juga sering bicara dengan istri: rezeki saya kurang banyak dalam bentuk harta dan kekayaan, tetapi melimpah ruah dalam bentuk kesempatan. Ya, kesempatan adalah rezeki yang luar biasa berharga.

Ada banyak orang kaya dan uang melimpah, tetapi belum tentu bisa terbang ke luar negeri sampai 15 kali dalam setahun. Bisa keliling Eropa dan berjalan-jalan dari Dhakka ke Hanoi terus ke Zamboangga. Coba bayangkan jika kesempatan itu dijadikan uang, berapa banyak yang saya dapat? Untuk terbang pulang pergi, menginap di hotel bintang 4, makan dan minum selama di tempat kegiatan dan sedikit belanja, butuh puluhan juta sekali jalan. Kalau sekali jalan minimal saya menghabiskan 25 juta (tentu jumlahnya lebih besar karena untuk pergi ke Genewa 25 juta mungkin hanya untuk tiket), maka tahun lalu saya mempunyai uang kurang lebih 375 juta. Uang itu tidak saya nikmati secara langsung. Tetapi soalnya justru di situ: ada banyak orang yang punya uang tetapi tidak bisa menikmatinya. Saya tidak punya uang tetapi menikmatinya.

Untuk sekolah S3 yang akan dimulai bulan depan di California, pemerintah Indonesia yang memberikan saya beasiswa sudah menyiapkan uang kurang lebih 3-4 milyar untuk biaya belajar saya selama 4 tahun. Uang itu tidak saya pegang. Tetapi saya nikmati. Saya bisa belajar, saya mendapatkan tiket untuk terbang ke LA, saya mendapatkan asuransi. Uang yang saya pegang mungkin hanya uang bulanan sekitar 2700 dollar untuk biaya sewa rumah dan makanan setiap bulan. Tetapi tidak mesti anda punya uang 4 milyar anda bisa sekolah di Los Angeles, jalan-jalan ke Hollywood atau San Francisco bukan? Lagi-lagi, saya mendapatkan rezeki kesempatan yang melimpah

Pada akhirnya, apapun rezeki anda, baik waktu luang, harta dan uang atau kesempatan, tergantung anda menggunakan dan memanfaatkannya. Rezeki itu akan membawa rezeki baru yang lebih banyak dan bermanfaat kalau kita bisa merubah rezeki yang ada untuk menjadi penarik rezeki-rezeki lain datang. Dan ketika rezeki itu berdatangan, jangan lupa kita untuk menikmati dan menyukurinya.

 

 

 

 

 

MedSos dan Kebebalan Kita

is-social-media-making-us-stupid

Bulan lalu saya mampir di toko buku langganan saya sejak kuliah di dekat komplek dosen UIN Jakarta yang sekarang sudah hampir rata dengan tanah. Pemilik toko itu masih orang yang sama dengan orang yang biasa menjaga toko itu 15 tahun lalu. Tapi toko itu sekarang sepi. Ketika saya masuk, hanya ada dua orang di dalam toko itu, sepertinya mahasiswa, yang sedang melihat-lihat buku.

Saya basa-basi menanyakan kabar seperti biasa kepadanya. Sepertinya ia sedang tidak terlalu bahagia. Mukanya menyimpan banyak masalah. Matanya seperti tak menyimpan cahaya masa depan. Layu dan lusuh. Ketika saya menyodorkan beberapa buku untuk saya beli, dengan sigap ia mengambil plastik pembungkus buku dan mulai merapihkannya dengan gunting. Gerakannya masih seperti dulu. Saat tangannya memasang bungkus buku itu, ia mengeluh: tak banyak lagi mahasiswa yang berkunjung ke tokonya untuk membeli buku. Setiap tahun semakin hilang para pembaca buku. Mahasiswa hanya sesekali datang, itupun yang dicari sekedar buku teks perkuliahan. Jarang sekali ada mahasiswa membeli buku filsafat, keislaman, novel dan sastra dan buku pemikiran lain. Omsetnya menurun mungkin sekitar 500% dalam 10 tahun terkahir.

Ketika saya kuliah, secara rutin saya dan kawan-kawan mampir ke toko itu untuk membeli buku-buku baru. Saat itu kita seperti berlomba mengoleksi dan membaca buku. Membaca buku adalah amunisi mahasiswa yang aktif di organisasi atau forum studi kemahasiswaan. Buku-buku yang dulu saya beli itu kini masih rapih disimpan di lemari buku. Sebagian besar sudah dikirm ke rumah di kampung, sementara sebagian yang lain, yang masih sering dibaca, tersimpan baik di lemari buku di rumah saya.

Nasib toko buku lain lebih tragis. Beberapa toko buku di sekitaran kampus UIN sudah tutup beberapa tahun lalu. Toko buku legendaris, Gerak-Gerik, yang biasa menjual buku bekas yang langka, sejak 2008 sudah tidak lagi buka.

Nasib toko buku itu adalah poteret kecil perubahan besar yang terjadi di industri penerbitan dan percetakan secara umum. Internet membuat orang semakin mudah mendapatkan pengetahuan dan informasi. Koran datang ke gawai kita setiap menit dengan sendirinya. Sekarang bukan pembaca yang mencari informasi, tetapi informasi atau berita yang mencari pembara. Thu Guardian setiap menit mengirim berita agar saya membacanya, juga Kompas dan Detik.

Tetapi ada sisi buruk dari semua perkembangan ini: perubahan mentalitas. Kalau membaca buku, kita dituntut sabar dan aktif, juga teliti memahami setiap kalimat dari buku yang kita baca. Dalam duni digital, pembaca jadi serba instant dan cepat, juga pasif. Kalau kita penasaran akan satu soal, kita cukup buka Google dan dalam hitungan detik informasi itu datang kepada kita. Instant dan cepat.

Sosial media membuat perubahan itu kian cepat, dan kadang mengkhawatirkan. Sekarang ada lebih banyak orang mendapatkan informasi dari sosial media daripada baca buku. Orang Indonesia bisa menghabiskan berjam-jam dengan gawainya, dari bangun tidur sampai mau tidur. Kalau tidak pegang gawai, dunia serasa mau kiamat. Sehari tidak membaca pesan sosial media, terasa kita langsung berubah menjadi manusia primitif. Padahal media sosial tidak sama sekali membuat kita semakin produktif.

Media sosial, sedikit berbeda dengan informasi berita atau informasi buku, selalu menyajikan informasi tanpa saringan. Informasi di koran cetak, karena terbit hanya sehari sekali, sebagai contoh, tersaji melalui proses seleksi dan pertimbangan. Informasi di berita online masih disaring dan diseleksi, diedit, tetapi dengan ketergesa-gesaan karena dunia maya meniscayakan kecepatan. Itulah kenapa berita di berita online kadang-kadang tidak berimabang dan tidak akurat. Mereka butuh cepat.

Informasi di media sosial hadir tanpa ada proses penyaringan dan pertimbangan apapun. Pembaca yang harus kritis dengan sendirinya menyaring dan menyeleksi informasi itu. Sayangnya, banyak sekali orang mengira informasi di media sosial yang datang ke gawainya itu sebagai kebenaran. Dimakan bulat. Meski mereka tidak tahu darimana asal berita atau informasi itu. Sebagian besar pembaca media sosial tidak memiliki pandangan kritis terhadap apa yang mereka baca. Mereka menerima dengan pasif dan menerima informasi itu secara instant.

Banyak kebebalan nyata dalam media sosial yang berubah menjadi kebenaran. Kebebalan itu untuk tujuan tertentu kadang sengaja dibuat. Pada masa kampanye dulu kita masih ingat banyak berita bebal bertebaran di media sosial: si A Kristen, si A China, dan lain-lain. Belakangan berita serupa muncul, misalnya: Presiden keturunan PKI, Orang-orang China mau menyerbu besar-besaran ke Indonesia untuk meguasai semua aset dan lapangan kerja dan lain-lain.

Dalam media sosial berlaku rumus: kebebalan yang berualang-ulang disebarkan akan menjadi kebenaran.

Di Bulan Ramadhan yang suci ini semoga kita semua terlindung dari kebebalan berfikir yang terkutuk.

Pamulang oh Pamulang: Keluh kesah untuk Ibu Walikota Yang Cantik

Pamulang itu artinya ‘rumah tempat kembali’. Setiap hari saya kembali ke tempat itu, bertemu dengan orang-orang yang saya kasihi, melepas lelah dan mempersiapkan hari esok yang lebih baik untuk negeri ini. Tetapi tempat kembali itu setiap hari, terutama saat petang, saat saya harus berjuang menembus belantara kemacetan, selalu saya benci. Benci sungguh.

Saya tidak suka pada kota ini bukan karena bundaran Unpam yang selalu macet, awut-awutan, karut-marut, becek, kumuh, motor parkir sembarangan, mobil angkutan kota menjadikannya terminal, para pedagang seenaknya menempatkan gerobak jualan di tempat mana mereka suka, mahasiswa pongah parkir ke kampusnya seolah itu jalanan yang dibuat untuk mereka, spanduk di pasang sembarangan, tumpukan sampah menggunung berhari-hari tidak diangkut, kabel listrik berseliweran menghiasi jalanan dan lain-lain. Bukan semata-mata karena itu saya tidak suka kota ini. Hampir semua kota di Indonesia mengalami masalah itu. Masalah yang entah kapan bisa diselesaikan. Masalah yang sebenarnya menunjukan jati diri dan peradaban kita tak jauh beranjak dari masa homo erectus paleo javanicus

Yang saya kesal dengan Pamulang adalah karena kota ini jatuh pada tangan kartel penguasa Banten sejak pertama kali kota ini merdeka dari Tangerang. Airin, ibu Walikota dengan paras cantik seperti bidadari yang salah pulang setelah mandi di telaga, sama sekali tak punya kemampuan apa-apa memimpin kota ini. Wajahnya yang cantik tidak tergamabar dari kota yang dipimpinnya. Semua kekacauan yang saya sebutkan di paragraf kedua itu terletak tidak lebih seratus meter dari singgasananya. Dia mungkin setiap hari menyaksikan itu. Kecuali dia mempunya jalan rahasia di bawah tanah yang menghubungkan kantornya dengan rumah mewahnya di Kawasan Kuningan yang pagarnya konon dibuat dari rentetan mobil mewah yang tidak terpakai sia-sia.

Sepanjang jalan protokol di Pamulang, terbentang ke selatan dari Unpam yang kumuh karut-marut alias awut-awutan itu, penuh lubang mirip lubang jerawat Ibu Gubernur. Entah kenapa, sebelum Pamulang jatuh pada kartel penguasa Banten, jalan itu mulus dan bagus. Sekarang sudah lebih dua tahun rusak. Terus lagi anda ke selatan ke arah Muncul, anda akan menemukan satu-satunya desain jalan terunik di dunia. Saya tidak berbohong. Mungkin inilah satu-satunya jalan yang dibuat dengan pola bertingkat. Di ruas sebelah kanan, jalan dibaut lebih tinggi 50 centi meter. Ruas sebelah kiri yang lebih rendah itu bisa berubah fungsi kapan saja menjadi selokan, kolam ikan lele, perkebunan pisang atau tempat pencucian mobil. Di mana di dunia ini jalan bisa berubah fungsi seketika menjadi kolam ikan, selokan, tempat pencucia mobil dan tempat jalan kendaraan sekaligus. Hanya di Indonesia. Hanya di Tangerang Selatan dan Pamulang. Luar biasa.

Sebagai warga biasa saya hanya ingin ibu wali kota yang cantik itu sedikit bekerja. Tularkanlah kecantikan wajahnya pada kota yang dipimpinnya. Sekitar Pamulang ada banyak waduk dan situ. Di manapun di dunia, kota dengan waduk dan situ selalu menjadi kota yang cantik. Orang bisa bercengkrama di pinggiran situ, bermesraan, berduaan, menggelar makan siang bersama keluarga, dilengkapi sarana olah raga dan tempat bermain anak. Pinggiran Situ Merry Creek di Coburg–tempat saya dahulu sebentar tinggal di Melbourne–selalu ramai oleh orang yang berkumpul merayakan sesuatu, atau sekedar melepas lelah, ditemani angsa putih dan burung-burung. Padahal Merry Creek itu tak lebih dari sekedar empang ikan di kampung saya. Situ-situ di Pamulang pasti jauh lebih indah kalau tertular kecantikan ibu Wali kota.

Saya tahu Ibu Wali kota sedang pusing memikirkan nasib suaminya yang harus mendekam di penjara karena tidak amanah dan terlalu banyak makan uang negara dan uang rakyat. Juga Ibu Atut, mantan Gubernur Banten yang merupakan kakak iparnya. Tapi bukankah ini saatnya membuktikan pada rakyat bahwa Ibu Wali yang cantik itu duduk di kursi singgasana wali kota bukan karena semata ibu beruntung dinikahi anak jawara atau menjadi menentu keluarga jawara. Buktikan bahwa ibu adalah perempuan kuat dan cerdas yang dahulu menjadi murid penuh prestasi di Universitas Padjajaran, menjadi Mojang Priyangan dan prestasi lain. Mungkin keberhasilan ibu bisa menjadi obat dan penawar kekecewaan rakyat Banten pada keluarga kartel penguasa yang menguasai Provinsi yang sejak Multatuli menulis Max Havelar kondisinya tidak banyak berubah.  Buktikan bahwa Ibu berhak menjadi kebanggan kelaurga besar Haji Hasan yang sudah mulai terkoyak karena terlampau terlena dengan gelimang harta dan kekuasaan.