Sekedar catatan akhir tahun

Saya selalu bermimpi kembali pada masa-masa dimana saya selama beberapa hari bermesraan dengan buku, memeras keringat memahami sebuah teori atau bolak-balik mebuka beberapa kamus untuk memahami sebuah kalimat rumit dari fragmen yang ditulis Nietzsche. Saya merasa waktu itu telah hilang. Hilang diculik kesibukan yang mulai membosankan. Ya, pergi dari satu kota ke kota lain, berpindah hotel 4 kali dalam dua minggu di 5 kota, berbicara hal yang sama berulang-ulang pada forum seminar dan pertemuan. Membosankan.

Saya ingin duduk, menikmati buku, membuat catatan dan ditemani secangkir kopi. Putar musik kesukaan dari U2 atau Sting dengan suara sedang untuk membantu otak terus bergejolak. Cukup memakai sarung saja dan kaus oblong. Ah, memang masa-masa itu sudah hilang.

Tentu sekarang sepenuhnya berbeda. Saya mempunyai tanggungjawab: seorang istri dengan dua anak yang mulai tumbuh. Keluarga yang telah membawa kebahagiaan dalam hidup. Keluarga yang telah membuat hidup kita lebih bermakna dan terarah. Dan karena mereka saya menjadi giat bekerja, berbuat yang terbaik agar anak-anak saya mempunyai masa depan yang lebih baik dari saya. Agar saya bisa menikmati hari tua dengan tersenyum melihat mereka berhasil.

Usia juga berarti tanggungjawab. Usia berarti juga pengabdian dan pengorbanan. Sekarang saya bertanggungjawab kepada keluarga saya, pada orang tua, pada kolega, pada kantor, dan juga pada masyarakat. Dan karena itu waktu untuk sendiri berhari-hari menguliti pemikiran Derrida sembari mendengarkan music dan secangkir kopi menjadi tak ada lagi. Atau mungkin berkurang.

Saya tahu ada waktu yang bagus untuk menikmati kesendirian dan kesunyian yang dalam: pagi hari. Orang bijak bilang: lekas tidur, lekas bangun. Saya tahu. Tapi mengerjakannya teramat susah. Kita cape seharian bekerja. Terjebak macet dan hujan. Lantas pulang ke rumah bermain dengan anak dan sedikit menikmati tontonan. Lantas tidur. Dan susah memaksa tubuh untuk bangun jam 3 atau jam 4. Mungkin tahun depan bisa dipaksakan sedikit untuk menikmati waktu kesendirian itu, untuk lebih banyak lagi membaca

Saya merasa hidup dari bacaan dan kata-kata. Juga dari apa yang dituliskannya. Karena itu, jika mau terus maju dan berkembang, tiada usaha lain lagi kecuali lebih banyak membaca. Karena lebih banyak membaca berarti lebih banyak masukan untuk gudang pengetahuan di kepala saya. Sekarang ini saya merasa lebih banyak pengetahuan yang dikeluarkan dibanding dengan yang dimasukan. Saya kurang baca.

Jadi tahun depan saya ingin lebih banyak waktu sendiri

Leave a Reply