Budaya

Masih adakah Indonesia: Renungan Kemerdekaan

Melirik kalender yang setia duduk di sudut meja kerja dengan ujung mata, saya tiba-tiba terhenyak. Agustus hampir saja berakhir. Hari ini tanggal 26, hanya kurang seminggu bulan merah putih itu akan pergi. Terhenyak bukan hanya karena merasa waktu melesat lintang-pukang, tapi juga karena Agustus selalu penuh kenangan. Dari kecil, buat saya agustus adalah lomba makan kerupuk, balap karung dan panjat pinang. Ketika masih digjaya sebagai anak-anak, semua lomba itu dengan suka cita diikuti. Hadiahnya tak seberapa namun bahagianya mendatangkan kerinduan pada Agustus-agustus.

Setelah tak lagi kanak-kanak, Agustus selalu saja terasa spesial. Dalam hidup saya, ada dua penanda waktu yang selalu saya pakai untuk mengevaluasi hidup: Agustus dan Lebaran. Pada dua momen itu biasanya saya terbang ke atas untuk meninggalkan diri di tanah, melihatnya dengan mata elang, menelanjanginya dan memberinya kritik dan masukan. Agustus bagi saya adalah tahun kelahiran, tahun permulaan, sebuah titik dimana semua hal dimulai lagi. Begitu juga lebaran. Agustus dan Lebaran adalah kombinasi keindonesiaan dan keislaman, yang imanen dan yang transended, yang sekular dan yang sakral. Keduanya harus seimbang dan sama-sama, sesekali, harus direnungi.

Image

Biasanya renungan itu seputar hidup: kapan nikah, kapan sekolah, kapan punya rumah, kapan beli mobil, kapan menulis lagi, kapan nerbitin buku, kapan beli rumah baru lagi, kapan beli mobil lagi dan lain-lain. Tapi kali ini sedikit lain. Status seorang kawan di media jejaring sosial membuat saya selama hampir 3 hari ini tak henti-henti merenung. Ya, merenung tentang satu pertanyaan: masih adakah Indonesia

Sedikit terlihat konyol pertanyaan itu. Jawaban simplenya ya jelas ada. Bapak Presiden yang baik saat pidato kenegaraan pada 16 Agustus memberikan semua data yang membuat kita gembira: ekonomi tumbuh dan akan tumbuh di atas 6%, pengangguran menurun, investasi terus mengalir, Bapak Presiden akan tegas meninggdak kekerasan intoleransi dan akan menegakan HAM, korupsi berhasil diperangi meski perlu peningkatan, dan anu dan anu. Pokoknya hebatlah. Indonesia ibarat gadis cantik yang jadi rebutan di kawasan.

Tapi taklama setelah itu, pasar saham dan nilai tukar Rupiah rontok di pukul oleh kebijakan Bernake di negeri Paman Sam di seberang lautan. Konon para investor melarikan investasina balik ke US. Koran-koran bilang ini krisis ekonomi mini. Para pejabat segera muncul di TV untuk menenangkan suasana dengan bilang bahwa krisis ini tak akan banyak berdampak pada perekonomian kita dan bisa segera ditangani. Fundamental ekonomi kita kuat! Jangan khawatir.

Tapi perenungan saya tidak berhenti pada fakta-fakta. Benda-benda yang saya pakai dan yang ada disekeliling kita mengingatkan saya pada status kawan saya itu: Apakah masih ada Indonesia.

Jam yang saya pakai dengan harga yang lumayan, Seiko, adalah buatan Jepang. Laptop yang dipakai mengetik ini dibuat di Cina namun perusahaannya berasal dari Amerika (HP); telepon genggam di disain dan dikembangkan di Lembah Silikon, USA dan dibuat di China; pendingin ruangan itu bermerek ‘Toshiba’: jelas Jepang. Baju saya memang di jahit di Indonesia, namun keuntungannya mengalir jauh ke Spanyol (Zara). Sementara sepatu yang sudah rada kumal ini dibuat di Ceko dan dengan merek Italia.

Apalagi? Saya penasaran membalik cangkir teh kramik yang setiap hari dipakai untuk meminum kopi: dibuat di China. Telepon itu: Panasonic, Jepang punya, Bro. Lampu Philips: namanya saja jelas bukan Indonesia, itu punya Belanda. Kalkulator itu, yang selalu memudahkan saya menghitung anggran dan laporan, Casio, dibuat di China dan dimiliki oleh perusahaan Jepang. Ah, staples ini mungkin buatan Cikarang atau Surabaya. Ternyata bukan! Sampai teknologi semudah satples saja harus dibuat dan dibeli dari Jepang! Gila.

Kampret, perusahaan pembuat celana dalam saya juga ternyata tidak dimiliki orang Indonesia.

Karena penasaran, saya pergi sebentar ke toilet untuk buang air sekalian survei kecil-kecilan. Sialan, semua isi kamar mandi, dari shmapo sampai sabun cuci tangan, semuanya punya asing(Unilever, Jhnson&Jhnson, Kao)

Belum lagi melihat jalanan dan dunia luar: motor, mobil, alat berat, pesawat, restoran, bangunan dan semua tetek bengeknya seperti semen, cat tembok, bohlam dan neon jalanan sampai rokok yang iklannya di mana-mana: semuanya bukan milik kita, Bro. Gila. Lalau setelah 50 tahun lebih merdeka, apa yang kita bisa buat dan kita miliki! Apa?

Saya bukan tipe orang yang chaufinistik dan membabi buta pada nasionalisme. Bukan juga orang anti asing. Bukatinya, lebih separuh apa yang saya pakai dan saya miliki bukan milik Republik ini. Pasti, sebagian dibuat di sini dan karena itu mendatangtkan rezeki pencaharian dan menggerakan roda perekonomian. Saya faham betul hal itu. Namun,kenapa sampai staples saja kita tak bisa produksi yang bagus? Kenapa kolor dan baju saja, teh dan kopi saja, harus kalah sama produk luar. Pertanyaan kapan kita bisa produksi mobil dan dan barak elektronik canggih terlalu sadis ditangakan sekarang. Tapi kenapa bisa kita tak eksis sama sekali untuk memenuhi semua kebutuhan hidup kta sendiri.

Tak kebayang jika suatu saat nanti semua pemilik perusahaan-perusahaan itu memutuskan untuk pergi. Apa yang tersisa wahai bangsa bebal? Akan ada jutaan orang nganggur, ekonomi dalam sekejap runtuh, negeri ini bubar.

Strategi Budaya

Saya yakin persoalannya bukan karena kita ini bodoh-bodoh, bukan. Ada banyak orang hebat di negeri kita. Namun orang-orang hebat itu tidak dikoordinasi dan disinergikan untuk bergerak pada satu arah yang sama. Sederhananya, bangsa ini tak punya strategi budaya. Orang-orang pintar akhirnya pintar dan kaya sendiri.

Strategi budaya ini butuh komando dan kemauan politik. Harus dikawal oleh kepemimpinan yang kuat dan inspiratif. Pemimpin inilah yang akan memimpin orkestra raksasa rakyat indonesia menjalankan strategi kebudayaan yang telah dan terus menerus dirumuskan dan disesuaikan dengan kebutuhan.

Dulu Bung Karno punya strategi budaya yang sederhana namun sangat mengena: berdikari alias berdiri diatas kaki sendiri. Itu adalah strategi budaya sederhana namun unggul. Bung Karno ingin, dengan bantuan negara lain tentunya, suatu saat negara ini menjadi negara yang mandiri dan berdaulat, negara yang bisa menyediakan cukup selempak dan staples untuk negaranya sendiri; bangga datang ke restoran yang dibuat, dimiliki dan dimasak oleh anak-anak negeri; mengendarai mobil bermerek ‘Dasep’. Dan karena itu tidak terlalu tergantung pada kiriman celana dalam, staples, air soda dan mesin mobil dari negara lain.

Tapi sayang strategi budaya itu dianggap sedikit norak, apalagi oleh para ekonom yang pandai-pandai. Kalau bisa dapat barang murah dari china dan buat sendiri lebih mahal, ngapain buat sendiri? Tidak efisien. Tanpa modal asing dan investasi tidak mungkin bisa maju dan berkembang. Dan anu, dan anu. Saya bukan enokom jadi tidak tahu. Tapi intinya para ekonom yang pandai itu selalu menganggap wajar perdagangan, investasi dan keterbukaan ekonomi. Setuju. Saya setuju…sepanjang, keterbukaan itu tidak lantas membuat kita tergantung pada pihak lain. Kita harus membuat keterbukaan ekonomi itu menjadi alat kemandirian, bukan ketergantungan.

Rumusannya dari dulu memang begitu. Selalu saja pihak luar masuk membawa investasi dengan iming-iming transfer teknologi. Nanti kita akan bisa buat mobil canggih dan kereta sendiri kalau membolehkan perusahaan Jepang masuk, bisa buat komputer hebat kalau memolehkan US masuk dan bermitra. Faktanya? Kita yang naif dan lugu. Mana ada orang mau kasih rahasia kesuksesannya. Mana ada orang mau kasih teknologi yang susah payah mereka temukan, yang dihasilkan oleh percobaan dan investasi mahal. Mana ada!

Teknologi dan inovasi itu hanya mungkin kita miliki kalau kita curi. Ya harus dicuri karena kalau menunggu diserahkan dan ditransfer, tidak akan pernah sampai kapanpun. Airbus, perusahaan pesawat Eropa itu, membeli pesawat dari Boeing, saingan mereka di Amerika. Tapi pesawat itu hilang dan tidak dipakai. Ternyata pesawat itu dibedah dan dipreteli untuk dijiplak. Jepang pada tahun 50an sedang belajar membuat mobil sendiri. Toyota saat itu adalah produsen mobil kacangan. Mereka beli mobil-mobil dari Eropa dan mereka bongkar, preteli, teliti dan jiplak!. Samsung langsung mempreteli iPad dan iPhone begitu produk itu booming di pasaran. Tujuannya: jiplak!

Taklama setelah mereka menjiplak dan meniru,mereka sudah bisa mengalahkan para guru mereka. Apple bisa disaingin, Toyota menjadi raja, Airbuss sama-sama sukses bersaing dengan Boeing.

Sekarang yang sedang melakukan strategi yang sama adalah China. Buat orang china, sekarang fokusnya adalah bagaimana bisa mengkopi, mereplikasi atau menjiplak produk-produk suskses yang ada dipasaran. Mereka buat motor Jialing yang mirip honda namun dengan kualitas kacangan, mobil cherry, telepon genggam mito dan htc. Tapi tunggu 10 tahun lagi. Bisa jadi mereka merajai. Mirip Lenovo yang dulu adalah produk kelas teri kini menjelma raksasa.

Strategi seperti ini oleh para sejarawan ekonomi disebut sebagai strategi emulasi. Emulasi adalah strategi yang digunakan oleh bangsa tertetu untuk menyamai pencapaian pesaiangnya. Dan emulasi itu selalu menempuh rute yang sama, sejak Raja Inggris meniru mesin pemintalan wool dari Spanyol sampai Samsung meniru Appla: imitasi, inovasi dan kreasi.

Strategi budaya emulasi sebenarnya menggambarkan perkembangan natural semata. Ketika anak tumbuh dan berkembang, hal pertama yang dilakukannya adalah dengan meniru. Meniru cara bicara ayah ibunya, meniru cara membuka tutup botol, meniru cara menulis dan lain-lain.Perkembangan peradaban juga sama. Untuk maju,pertama-tama kita harus bisa meniru: membuat persis sama produk yang ada. Itulah yang dilakukan Raja Henry VII di Inggris pada abad perengahan saat melarang import bahan baku wool dan mendorong produksi wool sendiri. Itulah yang dilakukan Toyota dan Airbuss saat mempreteli produk yang baru mereka beli. Itulah yang dilakukan China sekarang.

Tapi lebih dari itu, elumasi butuh satu hal penting agar tumbuh dan beranjak pada pase inovasi: politik pemerintah yang pro industri dalam negeri. Inovasi adalah langkah dimana ketika sudah bisa menjiplak produk yang ada, disesuaikan dengan kebutuhn yang mungkin baru muncul. Mana ada produk handphone mirip iPhone dengan dual sim card kalau bukan hasil’inovasi’ China? Mesin-mesin mobil buatan Eropa itu dibuat lebih irit bahan bakar oleh para produsen mobil Jepang agar lebih laku. Inovasi itu muncul lewat penelitian dan riset, investasi dan keberpihakan. Dan dalamhal ini pemeriantah harus turu tangan. Riset itu mahal, Bro. Tangan pemerintah harus hadir di sana untuk meringankan, membantu dan menjembatani antara peneliti dan industri. Tanpa inovasi dan riset, serta dorongan pemerintah (dalam bentuk insentif pajaklah, atau grant penelitianlah) sulit rasanya staples dan selempak buatan dalam negeri bersaing! Apalagi mobil dan keretanya.

Mungkin pada jangka pendek akan banyak efek negatif: barangnya kurang bagus dan mahal, tidak efisien, pemborosan anggaran negara dan lain-lain. Tapi kapan kalau tidak dimulai? Pada jangka panjang, seiring dengan ‘inovasi’ produk yang sepertinya tak berkualitas akan semakin bagus. Lihat POLYTRON! Dulu orang menganggap produk ini kelas dua saja.Sekarang, produk buatan Indonesia ini perlahan dicintai, minimal oleh kalangan bangsanya sendiri.

Senang rasanya kalau nanti ada lebih banyak barang yang saya pakai dibuat dan dimiliki sendiri oleh tangan-tangan anak negeri.

4 Comments

  • Andi.Kuncoro

    Jauh dilubuk batas2 negara, fanatisme kebangsaan, dan bangkitnya bangsa mengorganisasi diri mjd negara bangsa adalah kemerdekaan dr psychological dependence on the blandishments of consumer society. Apakah Abang kita ini merujuk pada fenomena yg oleh Marcuse dikatakan sbg REPRESSIVE DESUBLIMATION, yaitu bahwa masyarakat kita dibawah kapitalisme-tingkat-lanjut telah menjadi masyarakat tidak merdeka dan individu2nya secara intelektual dan spiritual menjadi “puppet” dari hantu ketergantungan psikologis yg bernama konsumerisme. Apakah Abang kita mengajukan resolusi, bahwa utk lepas dr Master of Puppet itu masyarakat harus masuk dalam permainan utk berlomba-lomba dlm balapan industri, agar kapitalisme semakin meradang dan akhirnya meledak dan hancur dg sendirinya?

  • zezen zaenal mutaqin

    Wah berat sekali Bung Andi bawa-bawa Marcuse dari Sekolah Frankfrut :). Tidak, saya cuma prihatin, kalau disadari, semua hal di sekitar kita ternyata milik asing :). Maunya balance aja, ada kebanggaan sebagai bangsa bisa berdiri di kaki sendiri. Sebagimana kawan-kawan saya orang Korea selalu bangga sekali atas negara mereka.
    Konsumerisme juga adalah penyakit, terlebih konsumerisme terhadap produk yang tidak kita buat sendiri :). Itu nanti dibahas di note lain.

    Salam

  • zezen zaenal mutaqin

    Saya kira bukan Neokolonialism. Ini semata-mata karena kita kalah bertarung saja dengan orang lain. Kenapa kita kalah? Karena pemimpin kita tidak punya strategi budaya yang jelas dan tidak mau pula menjalankannya. Kalau logika Neo-kolonialisme yang dipakai, khawatir terjebak pada logika konspirasi: pihak luar yang salah karena mereka selalu ingin menjajah kita dalam bentuk apapun. Orang luar yang salah. Ini tidak. Dunia ini ya kompetisi. Sialnya, kita tidak bisa ikut berkompetisi karena oonnnnn 🙂

Leave a Reply

%d bloggers like this: