Budaya

Yang Muda Mencari Idola: catatan haul Cak Nur

Ketika kuliah dulu, saya punya idola. Tapi idola saya bukan Justin Bieber atau Cowboy Junior atau artis Korea. Saat itu mereka belum ada dan belum ngetop. Kalaupun sudah ada, mengidolakan mereka bukan tipikal saya, seorang anak kampung yang terdampar di belantara Jakarta untuk belajar.

Idola saya ini diperkenalkan kakak kelas di awal-awal tahun perkuliahan. Ciputat yang riuh dengan diskusi dan kajian, berseliweran oleh demonstrasi dan aksi–maklum saat itu masa awal Reformasi–adalah surga buat para mahasiswa baru yang energinya sedang membuncah. Surga buat para mahasiswa lugu yang bersemangat menaklukan segala nama dan ilmu. Kawan saya itu datang dan membujuk untuk bersama dia bergabung ke Himpunan. Dari sanalah perkenalan dengan sang idola dimulai.

Perkenalannya lambat dan penuh liku. Dia bukan sosok yang saya cintai pada perkenalan pertama. Saya, sebagai alumnus pesantren salaf, lebih dahulu mendengar cerita kesaktian Gus Dur. Melalui kyai saya di kampung, saya mendengar sosok Gus Dur dan menganggapnya manusia super setengah dewa. Konon kata akang-akang di pondok dulu, Gus Dur hafal 1000 nomor telpon, hafal nama setiap orang yang ditemuinya, hafal ribuan buku dan bisa berbicara dalam berbagai bahasa.

Sosok yang saya jadikan idola belakangan ini bukan kyai dan tidak punya santri.Juga tidak mempunyai pengikut fanatik seperti Gus Dur. Juga tidak bernaung di bawah organisasi besar NU. Jauh dari jangkauan pengetahuan orang desa seperti saya. Sosok itu lebih familiar dikalangan terdidik kota dan mahasiswa. Mungkin itulah pula kenapa saya baru mengenalnya setelah saya kuliah.

Setelah perlahan mempelajarinya, membaca beberapa karyanya, mengikuti ceramah-ceramahnya, akhirnya saya jatuh cinta: ya, dia idola saya. Di sisi lain, saat itu ada banyak alasan buat mahasiswa yang senang ikut turun ke jalan seperti saya, untuk mulai kehilangan rasa cinta pada Gus Dur–karena politik dan kontroversinya. Saya seperti berselingkuh dan berpaling pada sosok itu.

Dia adalah sosok hebat dan santun. Saat itu, mahasiswa seperti saya akan dengan senang hati mengejarnya menggunakan metro mini ke hotel Regent hanya untuk mendengarkannya kuliah–juga untuk sedikit perbaikan gizi di acara itu (KKA). Kehebatannya tercermin dari kemampuannya meramu, mengunyah, mencerna dan menyampaikan pengetahuan dari timur dan barat yang dia miliki. Dia, dalam fikiran saya saat itu, adalah sosok yang ‘berfilsafat’–lebih dari sekedar mengetahui kebajikan, dia adalah pencipta kebajikan. Hebat karena separuh dari perubahan budaya politik bangsa ini dipengaruhinya. Bayangkan jika tanpa pemikirannya tentang sekularisasi, ‘isalam yes, partai islam, no’, akan jadi apa Republik ini? Ada banyak kehebatan dia yang membuat saya mengidolakannya saat itu.

Anda tahu idola saya itu? Sosok yang saya idolakan itu delapan tahun silam meninggalkan kita. Besok (29 Agustus) haul untuk memperingati hari wafatnya. Dialah Alharhum Nurcholish Madjid alias Caknur.

Setelah kepergiannya itu, saya tak henti-henti mencari dan menanti, juga memprediksi, siapa yang harus jadi idola saya dan anak muda sebaya saya berikutnya. Kenapa anak muda butuh idola? Karena idola adalah ideal type yang menjadi acuan pembentukan diri-diri muda yang masih punya beribu potensi untuk tumbuh.

Saya sempat terkagum-kagum pada sosok Ulil. Mas Ulil, bagi saya saat itu, adalah reinkarnasi Cak Nur dalam beberapa hal. Bagi saya yang tidak sempat mencicipi masakontroversial Cak Nur, kontroveri yang melingkupi karir intelektual Ulil bisa menggambarkan suasana psikologis intelektual saat itu. Juga sosoknya yang berani, artikulatif dan mengakar pada tradisi timur dan barat. Saya sempat yakin, inilah idola anak muda berikutnya: seorang intelektual muda yang sedang tumbuh dan berpengaruh.

Meski harus dinantikan dan lihat, sekarang saya tidak lagi menemukan Ulil berada pada legasi Cak Nur. Mungkin saya bisa keliru. Namun keputusannya masuk pada ranah politik membuat saya ragu dan penuh tanya: apa yang dicarinya. Saya tidak sama sekali mengatakan masuk politik itu jelek. Politik harus diisi oleh orang-orang baik dan berkualitas biar menjadi baik dan berkualitas pula. Namun rasanya saat ini bukanlah waktu yang tepat baginya untuk masuk pada ranah politik praktis. Harapan saya pada Ulil, dia bisa menyelesaikan masa semedinya, menjadi kepompong, meski dalam kosong, sampai dia menjadi kupu-kupu dan soko guru. Tapi apalah daya, politik di negeri ini terlalu seksi dan cantik, menggiurkan dan bisa memabukan untuk tidak di jamah.

Selepas kepergian Cak Nur, sampai sekarang, saya masih mencari, siapakah intellectual living idol bagi saya.

Al-Fatihah buat Cak Nur….

 

 

2 Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: