LA Notes

Kutu dan Vaksin

Oleh: Zezen Zaenal Mutaqin

(Catatan untuk Bani Anti-Vaksin)

Saya baru sadar ada beberapa panggilan masuk ke ponsel saya ketika keluar dari perpustakaan untuk istirahat makan siang. Panggilan dari sekolah Clover. Saya berfikir pasti sebuah panggilan penting karena beberapa kali. Ketika saya melangkah melewati pintu keluar perpustakaan, kawan saya yang nomornya saya berikan ke pihak sekolah untuk kontak darurat menghubungi saya.

“Sekolah Clover menelepon saya agar kamu segera menjemput Yarra. Ada sesuatu. Sepertinya penting. Segera hubungi sekolah Yarra!” Tukasnya.

Pikiran saya kalut. Apa yang terjadi dengan Yarra? Apakah ia kecelakaan sehingga sekolah meminta kami menjemput? Kalau sekolah meminta menjemput bukan saat pulang sekolah, mesti ada yang tidak beres. Darurat!

Istri saya juga menelepon. Bahasa Inggrisnya belum terlalu bagus dan karena itu ketika menelepon dalam bahasa Inggris dengan orang lain, kadang ia salah faham.

“Tadi sekolah telpon, Bunda harus segera jemput Yarra. Ada sesuatu di kepalanya. Kenapa, ya, Yah? Apa luka?” Ujarnya di ujung telpon.

“Luka di kepala?” sahut saya. “Bunda di mana ini, apa sudah di sekolah?”

“Di jalan. Bunda buru-buru ini. Tadi orang sekolah seperti marah karena telpon Ayah tidak di angkat.” Ia tidak menjawab pertanyaan saya.

“Ayah di perpustakaan. Tak ada sinyal.” Sahut saya.

Telpon istri saya terputus. Sepertinya ia buru-buru. Pikiran saya mulai kemana-mana. Saya membayangkan anak saya kepalanya terluka dan berdarah sehingga sekolah minta kami menjemput. Mungkin iya jatuh karena senangnya manjat-manjat. Tapi saya lantas berfikir, biasanya kalau ada isu kesehatan sekolah langusng menangani. Kalau perlu membawa langusng ke rumah sakit karena kami sudah menandatangani kontrak penanganan kesehatan.

Lantas, kenapa dengan anak saya?

Dia baru saja sekolah sebulan di Taman Kanak-kanak Clover, sekolah negeri di daerah Palm, Los Angeles, tak jauh dari rumah.

Saya mencoba tenang. Saya telpon pihak sekolah dan bilang dengan singkat ke mereka istri saya sedang dalam perjalanan menjemput dan akan tiba dalam beberapa menit. Ibu setengah baya di ujung telpon hanya bilang singkat: “segera, kami tunggu”

Sisa siang itu saya habiskan dengan cemas. Lebih dua jam saya hanya duduk-duduk di taman depan kampus yang hijau. Masuk ke dalam gedung membuat sinyal hp tidak terlalu bagus. Saya ingin segera mendapat kabar apa yang terjadi!

Semoga tak ada apa-apa. Saat itu kami masih mengurus asuransi untuk anak kami. Kalau ada apa-apa sebelum asuransi disetujui, bisa repot. Juga mahal.

Selang setelah jam, istri saya menelepon.

“Ampun sekolah di sini, ada lisa dan kuwar di rambut aja kaya ada virus ganas menyerang! Dikira Neng kenapa-napa.” Dalam bahasa Sunda, lisa itu telor kutu, sementara kuwar adalah anak-cucu kutu yang biasa menghuni rambut kita.

“Apa?? Lisa sama kutu, Bun?”

“Sekolah mengadakan inspeksi mendadak. Rambut semua anak diperiksa. Mereka menemukan lisa di rambut Yarra. Yarra langsung diisolasi di ruang tunggu dengan dua orang anak lain.”

Saya langsung lega. Meski kesal dan masih sedikit cemas, tawa kami langsung meledak!

Bayangkan, kutu, kuwar dan telor kutu disini dianggap seperti virus yang kalau tidak ditangani secara serius dianggap berbahaya. Yarra harus diisolasi karena kalau tidak, kata gurunya, akan segera menular pada kawannya di kelas. Kalau menular pada kawannya di kelas, akan menular ke kawannya di seluruh sekolah.

Setelah saya kembali ke apartemen sore harinya, cerita menjadi lebih jelas. Ketika Istri saya menjemput, Yarra sedikit menangis. Dia tahu ada yang salah, tapi tidak terlalu faham apa salahnya. Yarra merangkul ibunya, istri saya, ketika melihat ia muncul di pintu ruang khusus itu.

Sekolah juga mengirimkan surat pernyataan dan keterangan apa yang terjadi hari itu. Kami, orang tuanya, diharuskan mengambil tindakan segera untuk membasmi telur kutu di rambutnya. Kalau dalam inspeksi berikutnya kutu itu masih bercokol, mungkin Yarra harus tidak sekolah beberapa hari. Untung hari itu Jumat. Kami punya 3 hari untuk setidaknya melakukan razia dan operasi khusus anti kutu. Ya, operasi khusus anti kutu tahun 2017!

Surat dari sekolah juga datang dengan beberapa rekomendasi tentang tata cara menghilangkan kutu, anak-cucu dan telurnya. Mereka bahkan merekomendasikan berobat ke dokter jika langkah satu dan dua gagal.

Saat itu juga saya pergi ke toko obat, tak jauh dari rumah. Di sana saya mencari: sisir khusus anti kutu dan telornya, shampo khusus anti kutu, serta semacam cairan yang disemprotkan ke bantal, kasur dan sofa untuk memastikan binatang rambut itu mampus.

Singkat cerita, dalam tempo yang sesingkat-singkatnya kami, alhamdulillah, bisa melakukan razia anti kutu dan telornya. Sisir dan obat itu ampuh merontokan peradaban kutu di rambut Yarra hanya dalam beberapa hari. Dan Yarra kembali ke sekolah dengan rambut kemilau dan matanya yang besar itu.

*

Lima bulan sebelum peristiwa kutu yang membuat heboh kami itu, Istri saya berjuang mencari tahu dimana tempat imunisasi yang murah dan asli di sekitar tempat tinggal kami di Pamulang. Waktu itu lagi marak vaksin palsu. Kami takut jika sembarangan. Istri saya sudah datang ke beberapa rumah sakit, sampai ke daerah Kemang untuk mencari tahu apakah bisa mendapatkan semua vaksin buat anak sebagaimana disyaratkan sebelum berangkat ke Amerika. rata-rata kosong. Mereka hanya punya yang biasa, itupun persediannya tidak ada gara-gara kasus vaksin bodong.

Persyaratan masuk ke Amerika, terutama bagi anak atau siapa saja yang akan belajar/kuliah salah satunya adalah imunisasi. Daftar yang wajib sekitar 4 atau 5: Rubella, MMS, Varicela, Tetanus, Polio. Ada juga yang lain, tapi tidak wajib. Varicella atau cacar air konon yang paling strick alias wajib sebelum bisa sekolah atau kuliah. Penyakit ini dalam sejarah banyak negara di dunia, pernah menjadi wabah yang mematikan. Disebabkan oleh sejenih virus bernama lucu, varicella-zoster, penyakit ini bisa dalam sekejap menular ke banyak orang.

Karena alasan penyakit tertentu cepat sekali menular dan mematikan, negara seperti Amerika, juga di Indonesia, mewajibkan semua anak untuk diimunisasi. Tujuannya: agar mereke lebih kebal. Di Amerika, penyakit ini sudah menjadi masa lalu. Hampir hilang. Agar tidak kembali, setiap pendatang baru di negeri ini dipastikan harus telah diimunisasi agar mereka tidak membawa virus itu kembali.

Setelah mencari ke sana-sini, Istri saya menemukannya di daerah BSD. Rumah Vaksin. Sedikit mahal, tapi sepertinya terjamin keasliannya. Mereka bisa memberikan beragam vaksin bagi orang yang akan bepergian ke luar negeri.

*

Apa pelajaran dari kutu dan Imunisasi yang sudah saya ceritakan itu? Sederhana. Memang adalah hak kita untuk memelihara kutu, kuwar dan telornya dirambut kita masing-masing. Bahkan jika kita berminat melakukan rekayasa genetika agar kutu itu tumbuh sebesar kecoa dan bisa dipanen untuk dibuat pepes–pepes kutu, itu sepenuhnya hak kita. Juga hak masing-masing untuk diimunisasi agar tidak kena penyakit tertentu atau tidak. Mau cacar tubuh bentus-bentus sampai mati, juga urusan anda. Kaki berbentuk O, urusan kita sendiri-sendiri. Betul.

Tapi kalau mau seperti itu, jangan keluar rumah. Hidup sendiri di kamar. Peliharalah kutu-kutu itu baik-baik. Silahkan nikmati virus-virus di tubuh anda sepuasnya. Tapi ingat: di dalam kamar atau rumah anda saja sendirian.

Kalau anda berminat bertemu orang lain, pergi ke sekolah, bermain, ikut arisan, menjadi artis, penjadi da’i, pedagang dan lain-lain, memelihara kutu di rambut bukan lagi urusan anda sendiri. Kutu-kutu itu bisa menyebar ke anak tetangga, kawan di sekolah, teman sejawat. Virus yang anda pelihara akan dengan mudah menjangkiti seisi sekolah, seisi kampung. Ada banyak cerita virus tertentu membunuh ratusan ribu orang dalam beberapa hari dalam sejarah manusia. Itulah kenapa ilmu kedokteran menciptakan vaksin.

Persis di sinilah kenapa imunisasi menjadi penting. Itulah kenapa kutu harus dirazia dari kepala Yarra. Kutu bisa menyebabkan guncangan sosial dan instabilitas politik di sekolah. Virus bisa membuat pandemik yang dalam sesaat merontokan sendi masyarakat. Orang anti-vaksin mestinya menjadi orang anti sosial.

“Oh, kawan saya tidak divaksin biasa-biasa saja,” ujar seorang kawan. Tentu sangat mungkin. Tapi kondisi tubuh orang berbeda-beda. Meski ada orang yang baik-baik saja tanpa divaksin, sebagian besar orang akan tumbang diserang virus, kini atau nanti. Vaksin dibuat agar rata-rata orang mempunyai pertahanan diri lebih baik dari ancaman virus.

“Vaksin tidak diajarkan nabi, dibuat dari babi, dibuat oleh produsen obat untuk kepentingan bisnis, dibuat oleh Yahudi.” Kalau berfikir seperti itu, mungkin anda telah menjadi bagian dari kelompok bumi datar yang telah menggadaikan akalnya pada konspirasi dan ideologi kacangan.

Salam dari Los Angleles bersama Eis Zaenal Mutaqin

Leave a Reply

%d bloggers like this: