Catatan Harian

Cerita Tentang Kelahiran Amartya

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke pada Allah yang telah menganugrahkan mutiara hidup dan amanah padaku. Kedua, dua jempol patut diacungkan pada istriku tercinta yang telah mengantarkan Amartya pada nafas dunia dengan tabah, sabar, kuat dan penuh kasih sayang. Ketiga, terima kasih harus diucapkan pad Ivon, sang bidan, Ms Leane Ms Keane, dokter anak, yang telah membantu persalinan, memeriksa Amartya, mengawasinya selama 3 hari di rumah sakit The Royal Women Hospital. Terakhir buat anda semua yang telah mendoakan kami, kami hanya bisa berterima kasih

Istriku mulai merasakan kehadiran Amartya jam 11.00 malam waktu Melbourne. Lendir kuning becampur sedikit darah keluar dan terlihat di pembalutnya. Perutnya di dera sakit seperti haid beberapa kali, namun belum rutin. Sakit itu kadang hilang begitu saja. Aku tahu itu pertanda Amartya akan segera datang. Namun ini baru awal masa perjuangan sang istri melahirkannya. Jum’at malam itu aku tidur larut. Selepas tengah malam masih nonton film. Waktu menunggu kedatangan Amartya sedikit membosankan dan mendebarkan. Banyk cara aku lakukan untuk menghilangkan kebosanan, seperti juga malam itu.

Selepas pukul tiga pagi istriku semakin merasakan sakit di perutnya. Aku semakin yakin bahwa memang Amartya akan datang tak lama lagi. Namun aku tak mau buru-buru menelepon bagian gawat darurat rumah sakit The Royal Women karena beberapa kawanku yang datang terlalu dini saat istrinya hendak melahirkan malah disuruh pulang lagi ke rumah. Aku tidak mau diusir RWH. Petunjuk yang diberi RWh juga menyuruh aku tetap di rumah selama mungkin, sekuat mungkin, kecuali kalau ada air yang cukup banyak keluar dari rahim istriku atau ada pendarahn hebat. Kami tetap bersabar. Istriku menahan rasa sakit di rumah sampai jam 7. Luar biasa. Istriku memang luar biasa.

Pagi itu rumah sakit masih sepi. Aku dan istriku datang dengan tergesa-gesa. Bang Rushda membantuku membawakan tas berisi pakaian. Dua orang bidan menyambut kami. Aku langsung menghampiri resepsionis dan bilang bahwa beberapa saat yang lalu aku sudah menelpon. Dia memintaku menyebutkan nomer kode berobat istriku. Semacam kata kunci. “644724”, ujarku singkat. Sang bidan mengecek nomor itu di komputer di hadapannya. Kami disuruh menunggu sebentar. Sembari menunggu aku disurh menandatangai beberapa dokumen. Sepertinya itu dokumen untuk mengurus asuransi kelahiran Amartya.

Aku sudah khawatir pihak rumah sakit akan menyuruh kami pulang lagi ke rumah. Dua orang kawanku di suruh pulang lagi karena istrinya ternyata masih lama melahirkan. Cerviknya harus buka diatas 5 senti kalau mau langsung ditangani. Yang gawat yang di rawat, itu perinsipnya. Untung kehawatiran itu tidak terbukti. “Istri anda luar biasa, menahan rasa sakit di rumah. Selamat sebentar lagi anda punya anak!” Cervik istriku sudah terbuka 10 senti. Telat sedikit bisa repot, bisa melahirkan di jalan. Istriku menahan sakit. Aku hanya bisa menghiburnya, membesarkan hatinya, mengelus-elus keningnya.

Sekitar jam 8 istriku sudah masuk ruang bersalin. Bidan yang tadi memeriksa di ruang pemeriksaan awal menyerahkan kami pada Ivon, sang bidan. Ivon dengan sigap menyiapkan semuanya: alat deteksi detak jantung, gas pernafasan, gunting, sunikan dan lain-lain. Di ruang itu hanya ada aku, istriku dan Ivon. Dia bukan dokter, bukan juga perawat.Dia mahasiswa semester akhir jurusan kebidanan di Universitas La Trobe. Dia memperkenalkan diri sekaligus membesarkan hati. Aku, katanya, tek perlu khawatir, meskipun dia belum lulus dari universitas, jam terbang membantu kelahirannya sudah tinggi. Ia juga terus di monitor oleh seorang bidan senior dan seorang doker. Bidan senior dan dokter hanya sesekali masuk ke ruang persalinan untuk melihat kondisi istriku. Sebelum keluar mereka meninggalkan satu kata: bagus. Kata itu cukup membuatku tenang. Aku tahu dari Ivon, kalau dokter atau bidan senior tidak menangani pasien, itu justru pertanda baik. Tak ada masalah dengan kehamilan istriku.

“Keep pushing..keep pushing” kata Ivon beruang-ulang. Sembari memegangi istriku aku menerjemahkan semua instrukesi Ivon: “teurus mengejan…terus bu…terus…” Istriku menarik nafas dan mengejan sekuat tenaga. “Ugh…..”. Waw, Amartya sudah kelihatan rambutnya. Aku melihat detik demi detik kemunculan Amartya dari rahim istriku. Ivon tahu, jika rambutnya sudah kelihatan, hanya tinggal beberapa kali mengedan, Amartya akan nongol. “Deep long pushing…deep long pushing…” Ivon menyuruh istriku mengedan yang lama sekuat tenaga. Traraaaa….Amartya datang juga. “Eak…eak…eak…” itu suaranya! Mungkin dia bilang: “Ayah, bunda, ini Amartya datang”

Alhamdulillah, dia lahir selamat. Amartya langsung di simpan di dada ibunya. Dia sudah disuruh mencari sumber makanannya sendiri. Ini namanya inisiasi dini. Aku kira Amartya akan dimandikan dulu. Ternyata tidak, Ivon hanya mengelapnya dengan kapas dan tissue lalu meletakan dia di dada istriku. Istriku terlihat lemah, namun bahagia. Sang buah hati sedang berjuang mencari makanan di dadanya. Amartya terus menangis.

Aku tiba-tiba diberikan sebuah gunting oleh Ivon. Seorang dokter datang tergesa untuk membantu Ivon. Aku kaget karena aku disuruh menggunting tali ari-ari anakku. Luar biasa. Aku mengguntingnya. Di Ausralia, seperti juga di negara maju lainnya, seorang ayah wajib menemani istri melahirkan. Bahkan dia juga yang disuruh menggunting tali ari-arinya. Mungkin semacam peluncuran perdana ‘produk’ kami yang pertama. Aku jadi ingat Pak Harto yang sering muncul di tv sedang menggunting pita ketika peresmian atau peluncuran sebuah produk.

Istriku disuruh istrirahat beberapa saat. Amartya tetap di dadanya. Aku minta izin mengazani ke Ivon.

Leave a Reply

%d bloggers like this: