MERENUNGKAN KEMBALI HUKUMAN MATI

Kemarin ketika mengajar mahasiswa saya bertanya tentang hukuman mati. Saya jadi ingat banyak kasus terkait isu ini yang dulu sangat kontroversial, diantaranya vonis mati bagi Imam Samudra cs dalam kasus bom Bali. Kasus lain yang juga dulu kontroversial adalah eksekusi hukuman mati bagi Tibo cs, tersangka kerusuhan Poso, menyusul gagalnya semua upaya hukum yang dilakukan.

Kalau kita amati, ada hal yang menarik berkaitan dengan dua kasus di atas. Jika dalam kasus eksekusi mati Tibo cs, masyarakat terlibat pro dan kontra, dalam kasus eksekusi Imam Samudra cs, masyarakat sama sekali tidak bereaksi. Bahkan seolah-olah mengamini. Dua sikap berbeda yang muncul di masyarakat bisa dimaklumi kalau kita menghubungkannya dengan variable lain, yakni faktor politik.

Masyarakat mengamini eksekusi hukuman mati bagi Imam Samudra cs karena mafhum bahwa perbuatan Imam Samudra cs layak diganjar hukuman mati. Masyarakat semakin anti-pati terhadap terpidana bom Bali karena alih-alih mereka menyesali semua perbuatannya, yang muncul malah roman kepuasan. Imam Samudra menolak mengajukan ampunan kepada presiden (grasi) karena alasan dirinya sama sekali tidak bersalah. Dengan mengajukan grasi, menurut Imam Samudra, berarti dia mengakui perbuatan salahnya.  Begitulah kalau doktrin agama yang keliru bersarang dalam diri seseorang. Imam Samudra cs begitu yakin bahwa mati bukan masalah bagi mereka. Toh surga, yang diperolehnya melalui tombol detonator, telah menantinya. Agama, karena penafsiran yang keliru, bukannya hadir sebagai obor, malah muncul menjadi teror.

Sementara dalam kasus Tibo cs, masyarakat sebagian besar menolak, atau meminta penangguhan eksekusi mati karena mencium unsur politik di dalamnya. Sebagian masyarakat yakin bahwa Tibo cs hanyalah korban konspirasi untuk menyembunyikan aktor sesungguhnya. Masyarakat ragu, mana mungkin seorang Tibo yang buta hurup dan dua temannya bertanggungjawab atas kerusuhan yang begitu rapi dan terorganisir pada Mei 2000 di Poso. Dengan tergesa-gesa mengeksekusi Tibo cs, yang terjadi hanyalah penguburan fakta. Terlebih, belakangan Tibo mengajukan 16 orang nama yang diduga terlibat dan bertanggungjawab atas kerusuhan Poso tersebut.

Hampir dipastikan eksekusi mati bagi dua kasus yuridis di atas tidak akan dibatalkan. Alasannya, kedua kasus tersebut telah mempunyai keputusan hukum tetap. Pembatalan eksekusi diyakini bisa menodai prinsip kepastian hukum. Dalam kasus Tibo cs, hukuman itu hanya mungkin ditangguhkan demi rasa keadilan masyarakat. Penangguhan ini dilakukan untuk menguak bukti baru akan adanya pihak-pihak lain yang terlibat, yang bisa jadi datang dari kalangan aparat pemerintahan, sebagaimana diduga beberapa kalangan.

hukuman matiPerdebatan
Lepas dari substansi persoalan yang diperdebatkannya, dua kasus yuridis ini telah memicu kembali perdebatan tentang masih releven atau tidaknya hukuman mati di Indonesia. Bahkan perdebatan ini terjadi bukan hanya di Indonesia. Hukuman mati telah menjadi objek perdebatan di hampir seluruh belahan dunia sejak abad Pencerahan di Eropa (abad 17). Yang pertama-tama mempelopori penghapusan hukuman mati adalah para pemikir Humanisme.

Para pemikir humanis, seperti Casare Beccari, pemikir Itali, Voltaire, Montesquieu dan lain-lain teramat prihatin melihat kengerian praktek hukuman mati saat itu. Praktek hukuman mati, yang oleh Michel Foucault disebut Le Suplice, selalu hadir di hadapan publik dengan brutal dan tidak manusiawi: kengerian yang tak terbayangkan.

Dalam Discipline and Punish (1977) Foucault menceritakan kejadian yang menimpa narapidana bernama Damiens pada Maret 1757. Damiens didakwa bersalah telah membunuh oleh pihak kerajaan. Ia dijatuhi hukuman mati. Eksekusi diawali dengan arak-arakan keliling kota. Damains, di depan publik, disuruh mengakui semua dosanya. Setelah itu algojo segera beraksi. Tubuh Damiens, sebagai siksaan pembuka, diguyur lilin yang panas menyala. Daging yang melepuh ditempeli besi panas. Tangan kanan Damiens yang dipakai membunuh korban, dibakar. Luka Damiens mulai disayat-sayat. Itu belum berakhir. Prosesi penyiksaan diakhiri dengan kedua kaki dan tangan Damiens diikat. Empat kuda telah disiapkan untuk menarik Damiens ke empat arah berlawanan. Setelah beberapa kali kuda tersebut berusaha menarik ke arah yang berlawanan, tubuh Damiens akhirnya tercerai berai: dua kuda mencopot tangan dan dua kuda mencopot kaki. Tubuhnya ambruk. Siksaan ditutup dengan menancapkan tubuh Damiens di tiang pancungan. Semua kengerian itu dilakukan dengan teatrikal, penuh sorak sorai dan bahkan, kata Foucault, menjadi semacam hiburan yang mengerikan.

Kritikan kaum humanis terhadap praktek hukuman mati perlahan-lahan merubah keadaan. Hukuman mati mengalami humanisasi. Eksekusi yang brutal dan tidak manusiawi diganti dengan model lain yang lebih “soft”. Joseph Ignace Guillotin, pada 1789 merancang sebuah alat eksekusi yang dianggap bisa mengurangi penderitaan terdakwa. Alat eksekusi tersebut kemudian masyhur disebut guillotin. Sekarang, eksekusi mati semakin manusiawi: tidak lagi diarak dan dipertontonkan; tidak lagi brutal dan mengerikan; rasa sakit terdakwa diusahakan seminimal mungkin.

Menimbang Hukuman Mati
Tetapi, terlepas dari praktek pelaksanaannya yang lebih humanis,  hukuman mati tetap saja menuai kontroversi. Hukuman mati, menurut Foucault, bukan hanya berfungsi sebagai mekanisme penghukuman. Le suplice, hadir sebagai sarana mempertontonkan kekuatan rezim dan kebesaran politik. Pandangan Foucault ini, samapai sekarang, di beberapa tempat, masih berlaku. Di negara-negara otoriter, praktek hukuman mati kerap diterapkan dengan salah kaprah: untuk membunuh lawan-lawan politik; mengeksekusi orang-orang kritis dll. Kasus Nazisme dan Fasisme pada perang dunia kedua, atau prilaku rezim Sadam Husain adalah contoh vulgar dari rantannya hukuman mati disalahgunakan untuk kepentingan politik. Karena itu, setelah Perang Dunia II, satu-persatu negara-negara di dunia menghapuskan hukuman mati. Sekarang ini ada sekitar 90 negara yang tidak lagi memberlakukan vonis mati. Semua negara maju, kecuali Amerika dan Jepang, juga melakukan hal yang sama.

Selain karena alasan di atas, alasan kemanusiaan juga menjadi pemicu banyaknya penolakan hukuman mati. Hak hidup adalah hak paling dasar manusia. Hak itu tidak bisa dihilangkan, bahkan oleh negara sekalipun. Belum lagi kalau kita mengingat bahwa hakim bisa saja keliru dalam menjatuhkan putusan. Eksekusi hukum yang berfungsi sebagai mekanisme punishment dan correction terhadap diri seseorang, dalam hukuman mati menjadi tidak berfungsi. Apa yang mau dikoreksi, toh orangnya sudah mati.

Argumentasi efek jera bagi orang lain, sebagaimana sering diungkapkan para pendukung hukuman mati, menurut catatan penelitian, masih diperdebatkan. Sebagian ahli mengatakan, tidak ada korelasi positif antara hukuman mati dengan penurunan tindak kejahatan (Todung Mulya Lubis, Kompas/7/4/2006). Tindak kejahatan selalu muncul karena faktor yang sangat kompleks seperti faktor ekonomi, kejiawaan dan lain-lain. Karena itu, kejahatan bisa diminimalisir dengan memperbaiki aspek-aspek fundamental kehidupan: menghapus kemiskinan dan mengukuhkan fitrah kemanusiaan

Semoga Imam Samudra, Amrozi, Tibo cs, adalah orang terakhir yang dieksekusi. Dan semoga Indonesia segera bergabung dengan 90 negara lain yang sudah menghapuskan hukuman mat

Yang Muda Mencari Idola: catatan haul Cak Nur

Ketika kuliah dulu, saya punya idola. Tapi idola saya bukan Justin Bieber atau Cowboy Junior atau artis Korea. Saat itu mereka belum ada dan belum ngetop. Kalaupun sudah ada, mengidolakan mereka bukan tipikal saya, seorang anak kampung yang terdampar di belantara Jakarta untuk belajar.

Idola saya ini diperkenalkan kakak kelas di awal-awal tahun perkuliahan. Ciputat yang riuh dengan diskusi dan kajian, berseliweran oleh demonstrasi dan aksi–maklum saat itu masa awal Reformasi–adalah surga buat para mahasiswa baru yang energinya sedang membuncah. Surga buat para mahasiswa lugu yang bersemangat menaklukan segala nama dan ilmu. Kawan saya itu datang dan membujuk untuk bersama dia bergabung ke Himpunan. Dari sanalah perkenalan dengan sang idola dimulai.

Perkenalannya lambat dan penuh liku. Dia bukan sosok yang saya cintai pada perkenalan pertama. Saya, sebagai alumnus pesantren salaf, lebih dahulu mendengar cerita kesaktian Gus Dur. Melalui kyai saya di kampung, saya mendengar sosok Gus Dur dan menganggapnya manusia super setengah dewa. Konon kata akang-akang di pondok dulu, Gus Dur hafal 1000 nomor telpon, hafal nama setiap orang yang ditemuinya, hafal ribuan buku dan bisa berbicara dalam berbagai bahasa.

Sosok yang saya jadikan idola belakangan ini bukan kyai dan tidak punya santri.Juga tidak mempunyai pengikut fanatik seperti Gus Dur. Juga tidak bernaung di bawah organisasi besar NU. Jauh dari jangkauan pengetahuan orang desa seperti saya. Sosok itu lebih familiar dikalangan terdidik kota dan mahasiswa. Mungkin itulah pula kenapa saya baru mengenalnya setelah saya kuliah.

Setelah perlahan mempelajarinya, membaca beberapa karyanya, mengikuti ceramah-ceramahnya, akhirnya saya jatuh cinta: ya, dia idola saya. Di sisi lain, saat itu ada banyak alasan buat mahasiswa yang senang ikut turun ke jalan seperti saya, untuk mulai kehilangan rasa cinta pada Gus Dur–karena politik dan kontroversinya. Saya seperti berselingkuh dan berpaling pada sosok itu.

Dia adalah sosok hebat dan santun. Saat itu, mahasiswa seperti saya akan dengan senang hati mengejarnya menggunakan metro mini ke hotel Regent hanya untuk mendengarkannya kuliah–juga untuk sedikit perbaikan gizi di acara itu (KKA). Kehebatannya tercermin dari kemampuannya meramu, mengunyah, mencerna dan menyampaikan pengetahuan dari timur dan barat yang dia miliki. Dia, dalam fikiran saya saat itu, adalah sosok yang ‘berfilsafat’–lebih dari sekedar mengetahui kebajikan, dia adalah pencipta kebajikan. Hebat karena separuh dari perubahan budaya politik bangsa ini dipengaruhinya. Bayangkan jika tanpa pemikirannya tentang sekularisasi, ‘isalam yes, partai islam, no’, akan jadi apa Republik ini? Ada banyak kehebatan dia yang membuat saya mengidolakannya saat itu.

Anda tahu idola saya itu? Sosok yang saya idolakan itu delapan tahun silam meninggalkan kita. Besok (29 Agustus) haul untuk memperingati hari wafatnya. Dialah Alharhum Nurcholish Madjid alias Caknur.

Setelah kepergiannya itu, saya tak henti-henti mencari dan menanti, juga memprediksi, siapa yang harus jadi idola saya dan anak muda sebaya saya berikutnya. Kenapa anak muda butuh idola? Karena idola adalah ideal type yang menjadi acuan pembentukan diri-diri muda yang masih punya beribu potensi untuk tumbuh.

Saya sempat terkagum-kagum pada sosok Ulil. Mas Ulil, bagi saya saat itu, adalah reinkarnasi Cak Nur dalam beberapa hal. Bagi saya yang tidak sempat mencicipi masakontroversial Cak Nur, kontroveri yang melingkupi karir intelektual Ulil bisa menggambarkan suasana psikologis intelektual saat itu. Juga sosoknya yang berani, artikulatif dan mengakar pada tradisi timur dan barat. Saya sempat yakin, inilah idola anak muda berikutnya: seorang intelektual muda yang sedang tumbuh dan berpengaruh.

Meski harus dinantikan dan lihat, sekarang saya tidak lagi menemukan Ulil berada pada legasi Cak Nur. Mungkin saya bisa keliru. Namun keputusannya masuk pada ranah politik membuat saya ragu dan penuh tanya: apa yang dicarinya. Saya tidak sama sekali mengatakan masuk politik itu jelek. Politik harus diisi oleh orang-orang baik dan berkualitas biar menjadi baik dan berkualitas pula. Namun rasanya saat ini bukanlah waktu yang tepat baginya untuk masuk pada ranah politik praktis. Harapan saya pada Ulil, dia bisa menyelesaikan masa semedinya, menjadi kepompong, meski dalam kosong, sampai dia menjadi kupu-kupu dan soko guru. Tapi apalah daya, politik di negeri ini terlalu seksi dan cantik, menggiurkan dan bisa memabukan untuk tidak di jamah.

Selepas kepergian Cak Nur, sampai sekarang, saya masih mencari, siapakah intellectual living idol bagi saya.

Al-Fatihah buat Cak Nur….

 

 

Masih adakah Indonesia: Renungan Kemerdekaan

Melirik kalender yang setia duduk di sudut meja kerja dengan ujung mata, saya tiba-tiba terhenyak. Agustus hampir saja berakhir. Hari ini tanggal 26, hanya kurang seminggu bulan merah putih itu akan pergi. Terhenyak bukan hanya karena merasa waktu melesat lintang-pukang, tapi juga karena Agustus selalu penuh kenangan. Dari kecil, buat saya agustus adalah lomba makan kerupuk, balap karung dan panjat pinang. Ketika masih digjaya sebagai anak-anak, semua lomba itu dengan suka cita diikuti. Hadiahnya tak seberapa namun bahagianya mendatangkan kerinduan pada Agustus-agustus.

Setelah tak lagi kanak-kanak, Agustus selalu saja terasa spesial. Dalam hidup saya, ada dua penanda waktu yang selalu saya pakai untuk mengevaluasi hidup: Agustus dan Lebaran. Pada dua momen itu biasanya saya terbang ke atas untuk meninggalkan diri di tanah, melihatnya dengan mata elang, menelanjanginya dan memberinya kritik dan masukan. Agustus bagi saya adalah tahun kelahiran, tahun permulaan, sebuah titik dimana semua hal dimulai lagi. Begitu juga lebaran. Agustus dan Lebaran adalah kombinasi keindonesiaan dan keislaman, yang imanen dan yang transended, yang sekular dan yang sakral. Keduanya harus seimbang dan sama-sama, sesekali, harus direnungi.

Image

Biasanya renungan itu seputar hidup: kapan nikah, kapan sekolah, kapan punya rumah, kapan beli mobil, kapan menulis lagi, kapan nerbitin buku, kapan beli rumah baru lagi, kapan beli mobil lagi dan lain-lain. Tapi kali ini sedikit lain. Status seorang kawan di media jejaring sosial membuat saya selama hampir 3 hari ini tak henti-henti merenung. Ya, merenung tentang satu pertanyaan: masih adakah Indonesia

Sedikit terlihat konyol pertanyaan itu. Jawaban simplenya ya jelas ada. Bapak Presiden yang baik saat pidato kenegaraan pada 16 Agustus memberikan semua data yang membuat kita gembira: ekonomi tumbuh dan akan tumbuh di atas 6%, pengangguran menurun, investasi terus mengalir, Bapak Presiden akan tegas meninggdak kekerasan intoleransi dan akan menegakan HAM, korupsi berhasil diperangi meski perlu peningkatan, dan anu dan anu. Pokoknya hebatlah. Indonesia ibarat gadis cantik yang jadi rebutan di kawasan.

Tapi taklama setelah itu, pasar saham dan nilai tukar Rupiah rontok di pukul oleh kebijakan Bernake di negeri Paman Sam di seberang lautan. Konon para investor melarikan investasina balik ke US. Koran-koran bilang ini krisis ekonomi mini. Para pejabat segera muncul di TV untuk menenangkan suasana dengan bilang bahwa krisis ini tak akan banyak berdampak pada perekonomian kita dan bisa segera ditangani. Fundamental ekonomi kita kuat! Jangan khawatir.

Tapi perenungan saya tidak berhenti pada fakta-fakta. Benda-benda yang saya pakai dan yang ada disekeliling kita mengingatkan saya pada status kawan saya itu: Apakah masih ada Indonesia.

Jam yang saya pakai dengan harga yang lumayan, Seiko, adalah buatan Jepang. Laptop yang dipakai mengetik ini dibuat di Cina namun perusahaannya berasal dari Amerika (HP); telepon genggam di disain dan dikembangkan di Lembah Silikon, USA dan dibuat di China; pendingin ruangan itu bermerek ‘Toshiba’: jelas Jepang. Baju saya memang di jahit di Indonesia, namun keuntungannya mengalir jauh ke Spanyol (Zara). Sementara sepatu yang sudah rada kumal ini dibuat di Ceko dan dengan merek Italia.

Apalagi? Saya penasaran membalik cangkir teh kramik yang setiap hari dipakai untuk meminum kopi: dibuat di China. Telepon itu: Panasonic, Jepang punya, Bro. Lampu Philips: namanya saja jelas bukan Indonesia, itu punya Belanda. Kalkulator itu, yang selalu memudahkan saya menghitung anggran dan laporan, Casio, dibuat di China dan dimiliki oleh perusahaan Jepang. Ah, staples ini mungkin buatan Cikarang atau Surabaya. Ternyata bukan! Sampai teknologi semudah satples saja harus dibuat dan dibeli dari Jepang! Gila.

Kampret, perusahaan pembuat celana dalam saya juga ternyata tidak dimiliki orang Indonesia.

Karena penasaran, saya pergi sebentar ke toilet untuk buang air sekalian survei kecil-kecilan. Sialan, semua isi kamar mandi, dari shmapo sampai sabun cuci tangan, semuanya punya asing(Unilever, Jhnson&Jhnson, Kao)

Belum lagi melihat jalanan dan dunia luar: motor, mobil, alat berat, pesawat, restoran, bangunan dan semua tetek bengeknya seperti semen, cat tembok, bohlam dan neon jalanan sampai rokok yang iklannya di mana-mana: semuanya bukan milik kita, Bro. Gila. Lalau setelah 50 tahun lebih merdeka, apa yang kita bisa buat dan kita miliki! Apa?

Saya bukan tipe orang yang chaufinistik dan membabi buta pada nasionalisme. Bukan juga orang anti asing. Bukatinya, lebih separuh apa yang saya pakai dan saya miliki bukan milik Republik ini. Pasti, sebagian dibuat di sini dan karena itu mendatangtkan rezeki pencaharian dan menggerakan roda perekonomian. Saya faham betul hal itu. Namun,kenapa sampai staples saja kita tak bisa produksi yang bagus? Kenapa kolor dan baju saja, teh dan kopi saja, harus kalah sama produk luar. Pertanyaan kapan kita bisa produksi mobil dan dan barak elektronik canggih terlalu sadis ditangakan sekarang. Tapi kenapa bisa kita tak eksis sama sekali untuk memenuhi semua kebutuhan hidup kta sendiri.

Tak kebayang jika suatu saat nanti semua pemilik perusahaan-perusahaan itu memutuskan untuk pergi. Apa yang tersisa wahai bangsa bebal? Akan ada jutaan orang nganggur, ekonomi dalam sekejap runtuh, negeri ini bubar.

Strategi Budaya

Saya yakin persoalannya bukan karena kita ini bodoh-bodoh, bukan. Ada banyak orang hebat di negeri kita. Namun orang-orang hebat itu tidak dikoordinasi dan disinergikan untuk bergerak pada satu arah yang sama. Sederhananya, bangsa ini tak punya strategi budaya. Orang-orang pintar akhirnya pintar dan kaya sendiri.

Strategi budaya ini butuh komando dan kemauan politik. Harus dikawal oleh kepemimpinan yang kuat dan inspiratif. Pemimpin inilah yang akan memimpin orkestra raksasa rakyat indonesia menjalankan strategi kebudayaan yang telah dan terus menerus dirumuskan dan disesuaikan dengan kebutuhan.

Dulu Bung Karno punya strategi budaya yang sederhana namun sangat mengena: berdikari alias berdiri diatas kaki sendiri. Itu adalah strategi budaya sederhana namun unggul. Bung Karno ingin, dengan bantuan negara lain tentunya, suatu saat negara ini menjadi negara yang mandiri dan berdaulat, negara yang bisa menyediakan cukup selempak dan staples untuk negaranya sendiri; bangga datang ke restoran yang dibuat, dimiliki dan dimasak oleh anak-anak negeri; mengendarai mobil bermerek ‘Dasep’. Dan karena itu tidak terlalu tergantung pada kiriman celana dalam, staples, air soda dan mesin mobil dari negara lain.

Tapi sayang strategi budaya itu dianggap sedikit norak, apalagi oleh para ekonom yang pandai-pandai. Kalau bisa dapat barang murah dari china dan buat sendiri lebih mahal, ngapain buat sendiri? Tidak efisien. Tanpa modal asing dan investasi tidak mungkin bisa maju dan berkembang. Dan anu, dan anu. Saya bukan enokom jadi tidak tahu. Tapi intinya para ekonom yang pandai itu selalu menganggap wajar perdagangan, investasi dan keterbukaan ekonomi. Setuju. Saya setuju…sepanjang, keterbukaan itu tidak lantas membuat kita tergantung pada pihak lain. Kita harus membuat keterbukaan ekonomi itu menjadi alat kemandirian, bukan ketergantungan.

Rumusannya dari dulu memang begitu. Selalu saja pihak luar masuk membawa investasi dengan iming-iming transfer teknologi. Nanti kita akan bisa buat mobil canggih dan kereta sendiri kalau membolehkan perusahaan Jepang masuk, bisa buat komputer hebat kalau memolehkan US masuk dan bermitra. Faktanya? Kita yang naif dan lugu. Mana ada orang mau kasih rahasia kesuksesannya. Mana ada orang mau kasih teknologi yang susah payah mereka temukan, yang dihasilkan oleh percobaan dan investasi mahal. Mana ada!

Teknologi dan inovasi itu hanya mungkin kita miliki kalau kita curi. Ya harus dicuri karena kalau menunggu diserahkan dan ditransfer, tidak akan pernah sampai kapanpun. Airbus, perusahaan pesawat Eropa itu, membeli pesawat dari Boeing, saingan mereka di Amerika. Tapi pesawat itu hilang dan tidak dipakai. Ternyata pesawat itu dibedah dan dipreteli untuk dijiplak. Jepang pada tahun 50an sedang belajar membuat mobil sendiri. Toyota saat itu adalah produsen mobil kacangan. Mereka beli mobil-mobil dari Eropa dan mereka bongkar, preteli, teliti dan jiplak!. Samsung langsung mempreteli iPad dan iPhone begitu produk itu booming di pasaran. Tujuannya: jiplak!

Taklama setelah mereka menjiplak dan meniru,mereka sudah bisa mengalahkan para guru mereka. Apple bisa disaingin, Toyota menjadi raja, Airbuss sama-sama sukses bersaing dengan Boeing.

Sekarang yang sedang melakukan strategi yang sama adalah China. Buat orang china, sekarang fokusnya adalah bagaimana bisa mengkopi, mereplikasi atau menjiplak produk-produk suskses yang ada dipasaran. Mereka buat motor Jialing yang mirip honda namun dengan kualitas kacangan, mobil cherry, telepon genggam mito dan htc. Tapi tunggu 10 tahun lagi. Bisa jadi mereka merajai. Mirip Lenovo yang dulu adalah produk kelas teri kini menjelma raksasa.

Strategi seperti ini oleh para sejarawan ekonomi disebut sebagai strategi emulasi. Emulasi adalah strategi yang digunakan oleh bangsa tertetu untuk menyamai pencapaian pesaiangnya. Dan emulasi itu selalu menempuh rute yang sama, sejak Raja Inggris meniru mesin pemintalan wool dari Spanyol sampai Samsung meniru Appla: imitasi, inovasi dan kreasi.

Strategi budaya emulasi sebenarnya menggambarkan perkembangan natural semata. Ketika anak tumbuh dan berkembang, hal pertama yang dilakukannya adalah dengan meniru. Meniru cara bicara ayah ibunya, meniru cara membuka tutup botol, meniru cara menulis dan lain-lain.Perkembangan peradaban juga sama. Untuk maju,pertama-tama kita harus bisa meniru: membuat persis sama produk yang ada. Itulah yang dilakukan Raja Henry VII di Inggris pada abad perengahan saat melarang import bahan baku wool dan mendorong produksi wool sendiri. Itulah yang dilakukan Toyota dan Airbuss saat mempreteli produk yang baru mereka beli. Itulah yang dilakukan China sekarang.

Tapi lebih dari itu, elumasi butuh satu hal penting agar tumbuh dan beranjak pada pase inovasi: politik pemerintah yang pro industri dalam negeri. Inovasi adalah langkah dimana ketika sudah bisa menjiplak produk yang ada, disesuaikan dengan kebutuhn yang mungkin baru muncul. Mana ada produk handphone mirip iPhone dengan dual sim card kalau bukan hasil’inovasi’ China? Mesin-mesin mobil buatan Eropa itu dibuat lebih irit bahan bakar oleh para produsen mobil Jepang agar lebih laku. Inovasi itu muncul lewat penelitian dan riset, investasi dan keberpihakan. Dan dalamhal ini pemeriantah harus turu tangan. Riset itu mahal, Bro. Tangan pemerintah harus hadir di sana untuk meringankan, membantu dan menjembatani antara peneliti dan industri. Tanpa inovasi dan riset, serta dorongan pemerintah (dalam bentuk insentif pajaklah, atau grant penelitianlah) sulit rasanya staples dan selempak buatan dalam negeri bersaing! Apalagi mobil dan keretanya.

Mungkin pada jangka pendek akan banyak efek negatif: barangnya kurang bagus dan mahal, tidak efisien, pemborosan anggaran negara dan lain-lain. Tapi kapan kalau tidak dimulai? Pada jangka panjang, seiring dengan ‘inovasi’ produk yang sepertinya tak berkualitas akan semakin bagus. Lihat POLYTRON! Dulu orang menganggap produk ini kelas dua saja.Sekarang, produk buatan Indonesia ini perlahan dicintai, minimal oleh kalangan bangsanya sendiri.

Senang rasanya kalau nanti ada lebih banyak barang yang saya pakai dibuat dan dimiliki sendiri oleh tangan-tangan anak negeri.