Inspirasi

A Blessing in Disguise: Parmin Penjual Mi Ayam

Kalau anda pernah tinggal di New York, Los Angeles, Leiden, Toronto, atau Melbourne, saat malam dingin dan sedikit lapar, yang terbayang adalah suara tukang skuteng yang lewat membawa aroma jahe hangat. Atau ketika kembali dari kampus dan berhenti di halte perempatan dekat apartemen, yang terbayang adalah tukang gorengan langganan di simpang Pesanggrahan dekat kampus UIN Ciputat.

Untuk kita yang tinggal di Jakarta, telinga kita telah terlatih dengan aneka rupa suara dalam interval waktu, penanda jenis makanan tertentu. Pagi hari suara ‘teng-teng-teng’ adalah bubur ayam, lontong sayur atau ketoprak. Jam 8-9 pagi abang sayur berteriak memanggil ibu-ibu yang segera berhamburan atau membalas teriakan memanggil si Abang dari jauh. Tengah hari tukang es dawet atau es potong dengan suara berbeda: ‘nong-nong-nong’. Waktu di kampung saya memanggilnya es kemong. Sore hari tukang mie ayam dan bakso selalu dinanti: ‘tok-tok-tok’. Kalau malam hari kita lapar tapi hujan dan malas ke luar, tidak perlu khawatir karena tukang nasi dan mi goreng akan lewat: ‘tek-tek-tek’. Setelah semua hampir lenyap, sambil menunggu siaran bola tengah malam kita masih berharap-harap cemas tukang skuteng lewat: ‘teng-teng-teng. Ini yang ditunggu. Aroma jahe dengan kacang tanah menyeruak menembus sela-sela pintu. Aneka rupa rebus ubi dan pisang adalah pasangan sejatinya.

Suara-sura itu begitu lekat di benak saya. Begitu dirindukan. Bukan karena makanannya semata, tapi juga suasananya. Alumni UIN Ciputat pasti kenal legenda Mi Ayam Mas Parmin. Dia selalu menamakan mi ayamnya sebagai mi ayam ‘aktual’. Sapaannya yang khas selalu diingat: ‘Ayo, Om…Mi ayam dulu mumpung masih aktual’. Parmin yang hanya lulus SD itu setiap hari bergaul dengan aktivis dari spektrum kiri sampai kanan, berkeliling dari satu kontrakan ke kontrakan lain di sekitar UIN Ciputat. Karena itu, bahasa Parmin ikut bahasa anak mahasiswa. Dia sering bilang: ‘Mi ayam juga ‘kompatibel’ dengan nasi’. Itu seloroh dia untuk istilah ‘compatibility Islam and democracy’, wacana umum gerakan mahasiswa di UIN. Kalau kurang laku jualannya, Parmin akan bilang ke saya sambil lewat: ‘Hari ini jualan saya ‘dekadensi”.

***

Ketika melihat para gelandangan yang mulai memenuhi trotoar pada sore hari di sekitar Westwood, kawasan depan kampus UCLA, saya selalu ingat Parmin, tukang skuteng, tukang gorengan dan abang tukang sampah. Gelandangan itu rata-rata tuna wisma. Merkea adalah orang yang paling tidak beruntung ditengah gemerlah Los Angeles. Mereka adalah bagian dari sekitar 46,874 tuna wisma di Los Angeles yang setiap malam tidur di jalanan. Jumlahnya sangat mengkawatirkan. Kalau anda singgah ke pusat kota Los Angeles, tak jauh dari gedung-gedung mewah, di jalan 4, 5, 6 ke arah stasiun Bus Greyhound atau Stasiun Metro, anda akan menyaksikan kawasan yang lebih mirip pusat pengungsian. Para tuna wisma berebut tempat mendirikan tenda dengan sampah bertumpuk dan bau tak sedap.

Di LA, atau di kota lain dan di negar maju lain, ketika seseorang terjerumus ke dalam jurang kemiskinan, tak punya rumah dan kehilangan pekerjaan apalagi pernah mempunyai catatan kriminal, sangat sulit kembali mandiri. Untungnya pemerintah menyediakan jaminan sosial. Para gelandangan itu rata-rata dapat uang tunjangan sosial setiap bulan. Tapi uang itu tidak cukup utuk sewa rumah yang harganya selangit. Hanya cukup untuk makan. Mereka sepenuhnya tergantung pada pemerintah. Mengiba. Tentu selalu ada pengecualin orang yang bangkit kembali dari keterpurukan.

Di Indonesia, ketika seseorang jatuh miskin, kehilangan pekerjaan atau diusir ibu kontrakan, orang itu tidak bisa berharap pada belas kasihan pemerintah. Orang itu dituntut untuk bergantung pada lingkungan dan masyarakat. Kalau anda kehilangan pekerjaan tapi masih punya uang pesangon dan sedikit kemauan, anda tinggal ke pasar membeli tepung, sayuran dan umbi-umbian. Besoknya jual gorengan di perempatan. Atau cukup kredit motor dan nongkrong di persimpangan untuk ngojek sambil berharap dapat kembali pekerjaan. Yang punya modal lebih besar bisa buka toko kelontongan atau warung bubur kacang ijo. Jika sial sekali, bisa hidup dengan mengais sampah, memilah dan mengumpulkannya sebelum dijual. Intinya, kalau mau kerja, kita tidak perlu minta.

Di sini, sepertinya mustahil gelandangan itu jual gorengan, ngojek, buka jongko kopi, keliling menawarkan kue, jual ketoprak. Izin untuk buka usaha makanan luar bisa sulit. Tentu ini bagus semata karena untuk jualan makanan segalanya harus di cek: standar kesehatan, kandungan makanan, izin industri dan lain-lain. Aritnya, di LA, punya sedikit modal dan keinginan saja tak cukup. Saya minggu lalu membaca kasus seorang ibu dituntut di pengadilan Los Angeles karena menjual makanan lewat facebook ke tetangganya.

Di depan kampus UCLA ada juga penjual buah-buahan digerobak di pinggir jalan. Tentu gerobaknya lebih rapi dan terlihat bersih. Di dekat Natural Museum di kota saya melihat penjaja es krim keliling. Tapi mereka rata-rata imigran dari Meksiko dan sebagian berjualan sembunyi-sembunyi. Sementara yang menjadi gelandangan, kebanyakan orang bule atau warga Afrika-Amerika.

Pada sosok Parmin saya melihat dua hal yang bertentangan: ia adalah wajah ketakhadiran pemerintah dalam mengatur urusan yang dinegara maju sangat penting untuk diperhatikan (izan usaha, standar kesehatan, kandungan produk makanan dll). Tapi di sisi lain, mungkin itu justru sebuah kekuatan: karena pemerintah tak hadir mengatur tetek-bengek urusan itu, kemandirian muncul, usaha dan kerja bisa menggantikan tunjangan sosial. Parmin adalah sosok pekerja keras yang harus hidup ditengah ketakhadiran pemerintah–sesuatu yang justru membawa berkah.

Kalaupun suatu saat Indonesia masuk ke masa dimana negara semakin mampu mengurusi semua hal itu, menjadi engara maju, saya ingin modal dan bentuk sosial seperti itu tidak perlu hilang. Model sosial itu tak perlu dilebur. Cukup diatur. Misalnya untuk kelas usaha kecil perorangan seperti itu, cukup saja di data dan tidak perlu disyaratkan ini-itu yang rumit. Pendataan itu mungkin dibutuhkan untuk meningkatkan usahanya. Ada banyak cerita tukang jual gerobak makanan dalam 5 tahun sudah punya puluhan restoran. Mas Mono tukang ayam bakan itu mulai usaha dari gerobak setalah bangkrut beberapa kali.

Saya berharap, 50 tahun lagi masih ada tukang Mi Ayam dan Skuteng berkeliling ke depan rumah. Mungkin nanti mereka tak mendorong gerobaknya. Tidak. Nanti mereka datang dengan mobil usaha yang didesain khusus.

Sumber: http://www.trbimg.com/img-56bad57a/turbine/la-ed-homelessness-plans-20160210
Suasana komplek gelandangan di Los Angeles

Leave a Reply

%d bloggers like this: