Bagaimana menulis dan mempublikasi tulisan di jurnal internasional (2)

BAGIAN II

Pada bagian pertama saya berbagi pengalaman yang relatif umum terutama terkait aspek-aspek sebelum dan ketika tulisan jurnal diproduksi. Pada bagian ini saya mencoba masuk pada hal-hal yang lebih teknis terutama terkait langkah-langkah post-production. Seperti pada bagian pertama, agar lebih mudah dicerna, saya akan susun dengan model pointers. Mungkin ada baiknya saya memulai dengan hal yang tertinggal di bagian pertama dari tulisan saya.

Co-author atau menulis sendiri?

Penulis pemula biasanya tidak percaya diri. Siapalah kita, baru lulus S2 dan anak kemarin sore. Karena minder, ada yang mencoba mencari jalan keluar dengan co-author dengan orang lain yang dianggap lebih senior dan lebih ahli dan otoritatif. Strategi ini bagus dan bisa dijadikan solusi. Selain kita mendapatkan bimbingan dari senior atau orang yang dianggap ahli, kita juga bisa ‘terkatrol’ karena berada dibawah naungan orang yang punya otoritas. Biasanya para mahasiswa PhD banyak menulis berdua dengan pembimbingnya.

Namun, aspek negatif dari strategi ini adalah kita hanya bisa melakukan itu dengan orang yang dekat secara personal dan orang tersebut mempercayai kita. Tidak mungkin kita bisa menulis bersama dengan orang yang tidak mempunyai hubungan dan kepercayaan. Artinya kita relatif lebih tergantung pada orang lain. Senior atau pembimbing kita tidak mungkin mempertaruhkan nama baiknya begitu saja kalau dia tidak percaya pada kemampuan kita. Persoalan kedua:  strategi ini secara teknis tidak mudah karena menyatukan dua gaya dan taste berbeda dalam satu tulisan itu sulit. Banyak kasus dalam model menulis bersama ini sebenarnya yang mengerjakan dari awal hanyalah satu orang. Orang lain bertindak sebagai pengawas, editor, atau memberikan masukan setelah banguan utamanya relatif terbangun.

Dalam kasus saya, karena saya tidak mempunyai senior yang relatif dekat dan bidang keahliannya sama yang mempercayai saya, saya memilih jalur nekat menulis sendiri. Modalnya percaya diri. Dan tentu saja kita akan mengalamai penolakan. Nanti saya akan singgung strategi menghadapi penolakan editor ini dibagian lain. Tapi pointnya di sini adalah baik menulis sendiri maupun menulis bersama orang lain sama-sama memiliki kekurangan dan kelebihan.

Fokus dulu pada isi

Seorang dosen di Indonesia baru-baru ini secara intensif berkomunikasi dengan saya dan berdiskusi jarak jauh terkait rencananya menerbitkan di jurnal internasional. Tulisannya sekarang siap diterbitkan. Salah satu persoalan yang dari awal mengganggu dia adalah hal-hal teknis dalam penulisan. Ketika anda mentarget satu jurnal tertentu, katakanlah jurnal hukum internasional, sebagaimana saya sampaikan di bagian pertama, anda memang harus mengetahui standar model penulisan jurnal tersebut: model rujukan yang digunakan (apakan catatan kaki, atau rujukan dalam kalimat atau body note), style pengutipan apakah memakai APA, Chichago, Blue Book dan lain-lain.
Saran saya kepadanya adalah: untuk tahap awal, jangan terlampau risau dengan hal-hal teknis itu. Untuk sementara waktu, pakai saja model rujukan apa saja sehingga energi kita lebih fokus pada pengerjaan isi tulisan (content). Model rujukan bisa dengan mudah diperbaiki diakhir proses. Dalam banyak kasus ketika saya mengirimkan tulisan saya memakai model rujukan yang tidak standard. Editor toh menerimanya dan ketika mereka menganggap layak, saya diminta untuk merubah model rujukan sesuai standar mereka. Tentu sebaiknya ketika kita mengirimkan tulisan kita sudah menyesuaikannya dengan standar mereka.

Meminta masukan kawan/pembimbing

Ketika tulisan sudah hampir matang dan kita sudah beberapa kali mengeditnya, saran saya selanjutnya adalah mintalah kawan atau senior membacanya. Syukur kalau ada orang yang dianggap ahli mau melihat dan memberikan masukan pada tulisan kita. Ini sepertinya mudah, tapi dalam praktinya lumayan sulit. Sedikit sekali kawan yang mau membaca 20-30 halaman tulisan kita. Mereka punya kesibukan sendiri. Juga belum tentu mereka mengetahui bidang yang kita tulis. Untuk keluar dari persoalan ini, para mahasiswa PhD tahu solusinya: ikut seminar atau conferene. Lebih bagus lagi jika ikut conference pada asosiasi sarjana bidang kita. Misalnya jika kita studi agama di Amerika, idealnya kita mengirimkan paper kita yang hampir matang itu ke acara pertemuan tahunan The American Academy of Religion (AAR) Minggu lalu di kampus saya di UCLA digelar pertemuan tengah tahun American Society of International Law (ASIL) Kenapa pertemuan seperti ini penting? Jika artikel kita dikirim pada asosiasi untuk sebuah acara, hampir dipastikan setidaknya seorang penanggap (discussant) yang biasanya ahli dibidangnya akan membaca dan memberikan masukan pada paper yang kita kirim. Ketika seminar juga kita bisa test the water sejauh mana tulisan kita ditanggapi hadirin.

Jika anda sedang menempuh kuliah S2, waktu tersebut adalah waktu berharga untuk mendapatkan masukan dari dosen kita. Jika mungkin tugas akhir diganti dengan menulis paper akademik, ambillah pilihan itu. Kenapa? Karena setidaknya dosen anda akan membaca dan memberikan input pada paper yang anda serahkan untuk penilaian. Ketika saya di Melbourna Law School, semua mahasiswa internasional disarankan mengganti ujian akhir (seating exam) dengan menulis paper. Jika dalam ujian akhir seorang mahasiswa harus menjawab 3 soal dalam waktu dua jam dengan panjang jawaban sekitar 5000 kata, untuk menulis makalah saya diberi waktu dua bulan dengan panjang tulisan 10,000 kata. Pengalaman di Melbourne dulu adalah tonggak penting untuk saya. Lima dari delapan tulisan jurnal saya itu adalah makalah untuk pengganti ujian yang saya submit ke Melbourne Law School. Tiga lainnya adalah makalah untuk kelas di UCLA Law School. Menariknya, pihak kampus mewajibkan pada profesor untuk bukan hanya memberikan nilai tapi juga memberikan komentar dan saran untuk perbaikan. Makalah-makalah penuh coretan prosefor pembimbing ketika di Melbourne masih rapih saya simpan di rumah di Pamulang!

Memilih jurnal tujuan

Ketika tulisan sudah lebih matang karena sudah mendapatkan masukan baik dari kawan maupun dari pembimbing, saatnya kita mencari jurnal apa tujuan kita. Dalam kasus saya, untuk mencari beberapa kandidat itu saya melihat-lihat kembali rujukan yang saya gunakan ketika menulis. Lihat di mana saja artikel-artikel itu diterbitkan. Hampir pasti kurang lebih ke jurnal-jurnal itu pula tujuan kita. Selajutnya, setelah kita melihat-lihat jurnal penerbit tulisan-tulisan yang menjadi rujukan kita, kita perlu meluangkan waktu untuk mencari tahu ‘kelas-kelas’ jurnsl tersebut. Ibarat memilih kampus saat hendak kuliah dulu, kita harus memiliki setidaknya 3 pilihan dari tiga kelas jurnal berbeda (katakanlah kelas 1,2 dan 3).

Pastikan juga tulisan kita ada dalam ruang lingkup jurnal yang kita tuju. Ketika saya menyelesaikan tulisan pertama saya tahun 2011 di Leiden (tulisan itu adalah tulisan makalah kelas yang saya edit kembali) tentang Hukum Adat dan hukum Internasional, saya megirimkannya ke Australian Journal of International Law. Alasan saya memilih AJIL karena waktu itu saya ingin mengetest apa respons dari jurnal yang saya kira kita bisa masukan dalam kelompok kelas 1, setidaknya di Asia dan Australia. Tak lebih satu bulan saya mendapatkan jawaban: tulisan anda sangat menarik namun sepertinya lebih cocok diterbitkan di journal lain. AJIL dan sejenisnya memang tergolong jurnal yang ‘hukum banget’. Sementara tulisan saya memakai pendekatan budaya dan sejarah. Jadi tema, gaya dan pendekatan yang kita pakai dalam tulisan harus setidaknya beririsan dengan cakupan jurnal tersebut.

Jangan ngeper jika ditolak editor! Ditolak itu biasa. Semua penulis pernah mengalami ditolak editor. Jika ditolak, bukan berarti tulisan kita jelek. Bisa jadi ada aspek lain seperti tadi saya sebutkan. Ketika saya belajar menulis saat mahasiswa, saya ditolak mungkin hampir sepuluh kali oleh Kompas. Tapi karena terus mencoba, akhirnya saya bisa menembus Jawa Pos, Republika, Tempo dan Kompas sebelum kuliah S1 saya selesai. Untuk jurnal pertama saya, saya ditolak dua kali oleh dua jurnal berbeda sebelum akhirnya berlabuh di Journal of East Asia and International Law. Saat itu JEAIL adalah jurnal yang baru namun berada dibawah lembaga kredible dan sudah diindex scopus. Cukup lumayan untuk tulisan debutan.

Sekedar informasi, jika anda dalam bidang hukum dan mau mencoba menerbitkan tulisan anda di jurnal-jurnal hukum di Amerika, anda bisa mencoba Scolastica dan ExpressO. Dua jasa berbayar ini (murah hanya 10 dolar), adalah platform broker yang akan membantu anda mengirimkan tulisan pada jurnal-jurnal hukum. Iya membatu menjadikan tulisan kita sebagai umpan agar ada ikan jurnal yang mau ‘nyaplok’ tulisan kita

Editor Bahasa

Meskipun bahasa Inggris saya lumayan bagus, tetap saja untuk hampir semua tulisan saya ditahap akhir saya meminta bantuan editor bahasa. Mereka sangat membantu karena tulisan kita dipoles dan diperhalus sehingga lebih ‘nginggris’. Sebaiknya kita mempunyai kenalan editor yang pernah dipakai jasanya oleh kawan. Jika tidak atau belum menemukan, anda bisa mencari editor bahasa di situs dan aplikasai Fiverr.com. Aplikasi dan situs ini menghimpun pekerja lepas dari seluruh dunia dari semua bidang, dari desain grafis sampai editor bahasa. Anda bisa memilih berdasarkan harga, kecepatan layanan dan jenis layanan. Sebelum memilih lihat dulu review orang dan tanyakan berapa harganya lewat email di aplikasi tersebut.

Saya pernah dibantu seorang kawan Amerika untuk mengedit tulisan di Brill tentang Krisis Pegungsi Rohingya dan sisanya menggunakan jasa editor profesional yang direkomendasikan kawan (dia mahasiswa PhD yang bekerja paruh waktu mengedit tulisan). Untuk ini kita harus menyisihkan anggaran lumayan. Di Indonesia banyak juga expat atau pekerja magang di kampus-kampus yang biasa mengerjakan jasa editing. Harganya bervariasi dari 1-3 juta rupiah.

Scopus atau tidak, Q1 atau Q4?

Ini juga pertanyaan umum. Scopus sudah menjadi setan gudul yang menghantui banyak dosen dan sarjana di Indonesia. Scopus adalah jabatan, gaji dan pangkat. Banyak yang mendadak ngejar-ngejar Scopus agar bisa jadi guru besar, agar bisa jadi rektor dan lain sebagainya. Tapi harap dicatat, kondisi ini diketahui betul oleh para scammer atau penipu dunia digital. Modus operandinya biasanya begini: mereka membuat website yang dari tampilannnya bisa dilihat mereka abal-abal. Misalnya lihat tautan Academia Publishing ini. Tidak berarti mereka abal-abal sepenuhnya. Mereka memang memiliki penerbitan dan kadang-kadang didaftarkan pada scopus. Ingat Scopus hanyalah mesin pengindex. Namun yang jadi soal adalah proses penerbitan itu tidak melalui tahapan objektif review dan tidak berada dibawah naungan lembaga yang kredible. Setelah itu untuk bisa terbit biasanya dimintai uang. Tentu tidak semua journal yang meminta uang berarti abal-abal. Ada beberapa journal top yang juga memungut biaya. Sekarang bahkan penerbit seperti Routledge atau Brill memiliki opsi open source dimana penulis membayar kepada penerbit tetapi nanti penulis mempunyai hak mendistribusikan tulisan yang diterbitkannya kepada siapa saja, tidak melalui subscription. Sebagai acuan, hindarilah predatory journal yang berada dalam list Beall berikut ini. Jika jurnal tujuan anda berada dalam list itu, berhati-hatilah.

Sebaiknya tulisan anda masuk di jurnal terindeks Scopus atau SSCI. Tapi jangan jadikan keduanya dewa! Bisa terbit di sebuah jurnal selama jurnal tersebut kredibel, direview dengan benar, untuk pemula tidak ada salahnya. Anda sedang membangun sebuah portofolio. Juga jangan terlalu hirau dengan Q1, Q2, Q3 dan Q4 pada rangking Scopus. Peringkat itu juga banyak dikritik dan tidak sepenuhnya benar. Misalnya, jurnal sekelas Studia Islamica pernah drop di Q4 sementara jurnal lain yang lebih baru rangkingnya lebih baik. Journal Indonesia di Cornell bahkan saya tidak menemukannya di list Scopus. Ali-alih melihat rangking lebih baik lihat rekam jejak jurnal dan penerbitnya. Jika jurnal itu diterbitkan penerbit sekelas Routledge, Brill dan sejenisnya, hampir dipastikan jurnal itu kredibel dan baik.

Blind review tidak benar-benar blind!

Meski memang secara teoritis semua jurnal kredibel menerapkan model peninjauan atau riview tanpa identitas (blind review) bagi setiap paper atau artikel yang masuk, dalam dunia nyata praktiknya tidak demikian. Setiap tulisan jurnal yang masuk akan melalui tahapan dimana tulisan kita diterima oleh editor internal/editor inti. Ketika mereka menerima tulisan anda, selain membaca secara objektif tulisan anda, mereka akan juga mencari tahu dan mengintip profil anda. Disitulah kenapa rekam jejak penting. Jika anda pernah dimuat di jurnal sebelumnya, langkah berikutnya lebih mudah. Jika editor merasa tulisan anda layak, atau setidaknya pantas meskipun tidak terlalu bagus, mereka akan meneruskannya pada reviewer (peninjau) yang biasanya dipilih dari pihak luar. Dalam tahapan ini biasanya memang peninjau tidak akan mengetaui identitas penulis paper yang sedang direviewnya. Tapi untuk sampai pada tangan reviewer ini anda harus melalui tangan editor yang bisa mengintip anda! Dan biasanya, kalau sudah diberikan ke peninjau, kemungkinan tulisan kita dimuat lebih besar. Persoalannya hanya seberapa banyak dan seberapa lama proses editing yang diminta reviewer. Editor biasanya akan mengirim tulisan kita pada 3 orang reviewer. Kalau dua diantara mereka menyatakan layak, editor hampir dipastikan akan mengatakn pada kita bahwa tulisan kita layak dimuat dengan sejumlah catatan untuk diperbaiki.

Proses pengerjaan editing ini bisa berjalan alot dan lama. Ada banyak kasus yang memakan waktu satu dua tahun. Saran saya, jika sudah diterima dan reviewer meminta kita mengedit tulisan kita, sebisa mungkin kita kerjakan secepatnya permintaan mereka. Jurnal ini terbit hanya satu sampai tiga kali setahun. Jika kita tidak memenugi tengat waktu, mungkin kita harus menunggu lagi term berikutnya untuk bisa terbit. Editor dan reviewer belum tentu ahli betul dalam bidang anda. Jika anda cukup percaya diri, tidak pelu takut untuk berargumen pada reviewer atau editor untuk mempertahankan satu gagasan dalam tulisan kita. Itu yang saya lakukan.

Jurnal butuh penulis

Persoalan terbesar buat para pengelola jurnal adalah, salah satunya, kekurangan tulisan! Mereka kelimpungan mencari siapa yang mau menulis di jurnalnya. Jika jurnalnya sudah bagus dan kredible, memang ceritanya berbeda karena yang mengirimkan artikel juga banyak. Namun anda pasti akan selalu menemukan lebih dari setidaknya 5 jurnal di bidang anda. Strategi menyerbu dan pinggiran bisa diterapkan di sini. Ingat tadi saya sudah menyampakikan bahwa menerbitkan di jurnal regional atau jurnal kelas 2 dan 3 bukan hal jelek. Hidup itu bertahap. Target saya bisa dimuat di Harvard Law Review atau di American Journal of International Law. Tapi tujuan itu harus dilalui secara bertahap. Karena itu, kirimkanlah tulisan kita pada jurnal yang kredibel tapi tidak terlalu kompetitif sebagai bagian dari proses menaklukan dan mencapai tujuan besar kita. Jurnal-jurnal itu mencari penulis.

Semoga sharing saya ini bermanfaat dan selamat mencoba!

Salam dari Los Angeles!

4 Replies to “Bagaimana menulis dan mempublikasi tulisan di jurnal internasional (2)”

  1. Terima kasih sharing sesi 2-nya. Saya punya pertanyaan terkait penulisan Jurnal. Saya belum punya pengalaman menulis di jurnal maka tulisan-tulisan kuliah di SPs UIN saya publish di ResearchGate dan Academia. Bagaimana langkah saya agar makalah di RG itu bisa saya publish di jurnal nasional misalnya, kemudian pertanyaan saya, apakah makalah di RG bisa menjadi rujukan di sebuah makalah Ilmiah? Terima kasih.

    1. RG dan Academia itu sosial media akademik. Sy juga menyertakan informasi semua tulisan jurnal saya di kedua tempay itu dengan tujuan agar lebih searchable di google. Ada juga SSRN yang lebih besar dan menjadi semacam jejaring akademisi ilmu sosial. Nah jika anda post utuh tulisan anda di semua media itu, maka tulisannya lebih baik ditulis sebagai draft. RG dan Academia setahu saya tidak bisa dijadikan rujukan karena dia ya ibarat Facebook. Di RG kita bisa minta masukan dari orang lain. Saya sendiri hanya post ke RG atau Academia ketika tulisan saya sudah published.

Leave a Reply