Kaum Beriman, Menyanyilah: Perihal Kitab Kidung dan Puisi Abu Al-Faraj al-Isfahani.

Saya kaget ketika tanpa sengaja menemui buku itu: 25 jilid dalam versi modern, berisi ribuan puisi dan lagu yang dikumpulkan dalam kurun waktu sekitar 50 tahun oleh pengarangnya. Buku itu dikarang oleh sastrawan dan ahli sejarah dan bahasa, juga seorang plamboyan dari Isfahan yang kemudian tinggal di Baghdad pada masa kejayaan Islam, sekitar tahun 900an Masehi (Abad ke 2/3 H). Buku itu berjudul Kitab Al-Aghānī (Buku tentang Kidung dan Nyanyian). Sastrawan plamboyan pengarang buku itu bernama Abu Al-Faraj Al-Isfahani.

Buku itu luar biasa karena setidaknya menunjukkan satu hal: lagu dan nyanyian, serta puisi dan syair, juga drama, adalah bagian tidak terpisahkan dari kehidupan umat Islam waktu itu. Bayangkan: 25 jilid! Jika dikumpulkan dalam satu buku, kitab itu berjumlah 6689 halaman berisi rekaman puisi dan lagu atau kidung yang biasa dinyanyikan atau dibacakan pada masa pengarangnya hidup.

Lantas kenapa ada orang yang bilang musik dan nyanyian itu haram? Bagi yang membolehkan nyanyian, masih banyak yang beranggapan bahwa alat musik yang diperbolehkan hanya rebana, seperti biasa didengar dalam nasid. Hi, kawan, kenapa lagu-lagu saat itu hanya diiringi rebana? Ya karena hanya alat musik itu saja yang ada. Belum ada gitar, drum, piano atau saksofon. Mungkin kalau saat itu alat-alat musik itu ada, hakul yakin mereka akan juga memakainya!

Kembali ke cerita tentang kitab itu, dari segi penuturan buku itu tidak jauh berbeda dari model buku-buku Islam klasik. Buku itu diawali dengan bab menarik: 100 lagu dan puisi pilihan Harun Al-Rashid. Harun lantas menyeleksi 10 dan 3 lagu paling disukainya.

Dalam gaya oenuturannya, Abu Faraj Al-Isfahani selalu memulai dengan menuturkan rujukan periwayatan. Model ini tak lebih dari model catatan kaki dan rujukan ilmiah dalam dunia akademik modern. Al-Isfahani lantas sedikit mengungkapkan latar belakang (konteks sosial politik) sebuah lagu (saut) dan puisi sebelum kemudian ia menuliskan puisi dan lagunya secara langsung.

Selain berisi puisi dan lagu, buku ini juga berisi catatan historis dan anekdot-anekdot yang kadang sangat mengagetkan karena sangat erotis dan vulgar. Saya nukilkan salah satu hikayat yang oleh para sarjana lebih sering disebut sebagai anekdot, agar anda bisa mencicipi kevulgarannya. Tolong jangan kaget.

Pada halaman 226 jilid 2 buku itu, Al-Isfahani mengatakan (saya menerjemahkan secara bebas):

“Al-Walid Ibn Yazid, (khalifah saat itu) mabuk berat dan ‘berekstase’ mendengarkan lagu yang dinyanyikan oleh Ibn Aisha (Ibn Aisha adalah nama penyanyinya). Sang Khalifah meminta lagi pelayan menuangkan anggur ke gelasnya dan karena itu ia semakin ‘fly’ atau mabuk. Ia meminta penyanyi mengulang lagunya berkali-kali. Tiba-tiba Sang Khalifah loncat mendekati penyanyi dan menciumi seluruh tubuh penyanyi itu, kecuali bagian kemaluannya. Khalifah berusaha mencium bagian itu tapi Ibn Aisha merapatkan kedua pahanya, menghindar dari kejaran cumbuan Khalifah yang sudah hilang kesadarannya. Tapi Sang Khalifah tidak menyerah. Ia terus mengejar bagian kemaluan penyanyi dan mengatakan: “kau tidak aku perkenankan pergi sebelum kuciumi kemaluanmu!” Akhirnya Ibn Aisha, sang Penyanyi, menyerah dan membuka kemaluannya untuk diciumi Sang Khalifah. Al-Walid Sang Khalifah pun melepas semua bajunya dan bertelanjang sampai para pembantu datang membawakannya baju. Ibn Aisha, penyanyi itu, lantas diberi hadiah seribu dinar sebelum pergi.”

Kaget? Mungkin ini sepertinya sangat vulgar. Tapi percayalah dalam ribuan halaman itu ada banyak bagian yang jauh lebih vulgar dari yang baru saja saya nukilkan secara bebas. Dalam buku itu, puisi dan lagu-lagu berisi banyak tema: kepahlawanan, pengorbanan, cinta dan penghianatan, kecantikan, humor, kesedihan, banalitas seksual dan bahkan homoseksualitas.

Saya baru sempat mencicipi saja daftar isi dan beberapa halaman di dalamnya. Butuh puluhan tahun untuk membacanya detail, saya kira. Selain bahasanya susah karena sangat sastrawi, buku itu juga sangat tebal! Saya berharap ada sarjana di Indonesia yang secara serius membaca buku ini untuk disertasinya. Musik, lagu dan puisi serta banalitasnya adalah sesuatu yang masih ditabukan dalam Islam. Riset musik dan lagu dalam Islam masih terbentang!

Anda tertarik mendalami buku itu? Silahkan unduh sendiri di sini