• A Blessing in Disguise: Parmin Penjual Mi Ayam

    Kalau anda pernah tinggal di New York, Los Angeles, Leiden, Toronto, atau Melbourne, saat malam dingin dan sedikit lapar, yang terbayang adalah suara tukang skuteng yang lewat membawa aroma jahe hangat. Atau ketika kembali dari kampus dan berhenti di halte perempatan dekat apartemen, yang terbayang adalah tukang gorengan langganan di simpang Pesanggrahan dekat kampus UIN Ciputat. Untuk kita yang tinggal di Jakarta, telinga kita telah terlatih dengan aneka rupa suara dalam interval waktu, penanda jenis makanan tertentu. Pagi hari suara ‘teng-teng-teng’ adalah bubur ayam, lontong sayur atau ketoprak. Jam 8-9 pagi abang sayur berteriak memanggil ibu-ibu yang segera berhamburan atau membalas teriakan memanggil si Abang dari jauh.…

  • Trump, Amerika dan Kita

    Ketika pemilihan suara di seluruh Amerika diadakan pada 8 November, sekitar tiga minggu lalu, saya mengikutinya dengan harap-harap cemas di kamar kosan saya di sudut Ocean Blvd, tak jauh dari pantai yang indah di Santa Monica. Sebenarnya saya tidak perlu cemas karena saya bukan warga negara Amerika. Saya tidak punya kepentingan apapun. Saat itu saya sedang berjuang menyelesaikan tugas kuliah yang kedua. Saya harus menulis sekitar 30 halaman artikel riset tentang perbudakan di industri perikanan di Asia Tenggara. Sejak 3 hari sebelum pemilihan umum saya tidak fokus pada kuliah karena sebelumnya ada hal yang mengganggu saya: demonstrasi besar di Jakarta yang konon bertujuan ‘membela Islam’. Saya sebut…