Cerita Setelah Dua Tahun Sekolah Ph.D

Ada baiknya saya bercerita perihal apa yang saya alami dalam dua tahun ini. Mungkin anda tahu, dalam dua tahun ini saya sedang menempuh studi tingkat doktoral di Amerika Serikat, tepatnya di University of California Los Angeles (UCLA). Perlu sedikit saya cerita kenapa saya dahulu, dua tahun lampau, mengambil keputusan ini.

***

Sungguh sebuah keputusan yang sulit. Saat itu saya sedang menikmati masa di mana kehidupan saya dan keluarga mulai mapan. Penghasilan sudah sangat lumayan dengan masa depan pekerjaan yang cukup cerah. Saya sedang mulai membangun satu persatu mimpi dan cita-cita sebagai seorang ayah: menyediakan rumah yang lebih besar dan nyaman dan ganti kendaraan. Mimpi yang sederhana bagi semua orang.

Tapi sebuah keputusan harus diambil ketika ada kesempatan. Kesempatan usia adalah faktor yang paling penting. Saya sudah mulai menua. Kalau menunda lagi sekolah PhD, sampai kapan lagi saya menunggu? Sampai rumah besar dan nyaman serta kendaraan lebih bagus bisa dibeli? Sampai gaji lebih besar? Sampai jadi orang terkenal dan jadi selebriti?

Untuk yang terakhir ini saya sudah menghindarinya sedari awal. Saya selalu ingat ucapan seorang senior: terkanal dan jadi selebriti lebah baik setelah selesai sekolah doktor. Kalau terlalu cepat terkenal, sekolah sering terbengkalai karena malah sibuk menjaga popularitas di tanah air daripada mengurus sekolah. Terkenal akan datang pada waktunya.

Jadi, inilah saatnya menepi dan menyepi sebelum keburu tua.Semakin mapan, semakin terkenal dan jadi selebritis, semakin mabuk kita dibuatnya. Semakin tinggi dada kita. Dan semakin lupa pada apa yang dari dahulu diinginkan. Mengambil keputusan segera sekolah, saat itu pikir saya, adalah sebuah langkah strategis jangka panjang.

Pengalaman pekerjaan juga sudah dirasa cukup: mengajar di kampus sambil menjadi penasihat di sebuah lembaga internasional yang sangat bagus dan dihormati. Mondar-mandir setiap bulan ke luar negeri sudah dijalani. Jaringan sudah lumayan kokoh. Ini saatnya, pikir saya waktu itu, untuk menyepi menjadi ulat dalam kepompong. Sepi, lapar dan prihatin lagi. Tapi itu adalah tirakat yang harus dijalani.

***

Memulai sekolah lagi seperti menyalakan kembali mesin dari nol. Sebenarnya saya relatif lebih beruntung. Pekerjaan saya masih terkait dengan apa yang saya pelajari. Saya berbahasa Inggris setiap hari sehingga penyakit umumnya orang Indonesia yang belajar ke luar negeri lantas pulang ke Indonesia cukup lama dan lupa bahasa Inggrisnya, tidak saya alamai. Saya bisa menjaga, bahkan meningkatkan kemampuan bahasa Inggris saya karena tuntutan pekerjaan. Tapi meskipun demikian, memulai sekolah kembali membutuhkan energi dan keberanian

Saya sudah mulai berpikir kemana saya mau sekolah, topik apa yang mau saya dalami dan jadikan tema riset doktoral dan dengan siapa saya berguru sejak pertengahan 2014. Fase inkubasi ini memakan waktu satu tahun dalam kasus saya. Saya akhirnya memutuskan beberapa pilihan: kembali ke Melbourne untuk topik hukum Indonesia, ke UCLA atau ke Amerika untuk studi terkait topik yang saya geluti dalam pekerjaan. Pilihan sudah mengerucut.

Lantas apa yang saya lakukan adalah menghubungi para kandidat pembimbing. Sekedar menyapa dan memperkenalkan diri dengan menyertakan daftar riwayat hidup dan pekerjaan serta beberapa karya yang sudah diterbitkan. Saya sertakan juga sekilas rencana studi sekaligus topik pilihan. Tujuan tahap ini hanya untuk mengetes sejauh mana balasan calon pembimbing.

Dari tiga orang calon pembimbing yang saya kirimi email, dua membalas sementara satu orang pembimbing sama sekali tidak memberikan respons. Mungkin email tidak dibaca, mungkin dia sama sekali tidak tertarik melihat email saya dan topik yang diajukan. Ada banyak alasan. Tapi balasan dari dua orang itu cukup positif. Dari situ saya matangkan kembali proposal yang telah dibuat guratan kasarnya.

Yang saya pikirkan dengan matang juga waktu itu adalah dari mana sumber dana untuk pendidikan doktoral saya. Itu penting. Jangan sampai sekolah dan pembimbing mau menerima tapi kita tidak punya sumber dana.

Ada banyak pilihan untuk dana pendidikan kita. Biasanya kampus, untuk pendidikan doktor, menyediakan beasiswa. Kasusnya berbeda-beda. Ada yang menyediakan beasiswa penuh, ada yang memberikan setengah uang SPP. Tapi pada umumnya beasiswa kampus sangat kecil dan tidak cukup. Pilihan lain mengajukan kepada lembaga pemberi beasiswa luar negeri seperti Fulbrights atau Australia Award (AA). Ketika saya mulai berpikir masalah beasiswa, secara kebetulan program beasiswa pemerintah Indonesia, LPDP sedang mulai banyak diminati, terlepas dari beberapa kekurangan dan kontroversinya. Saya akhirnya hanya mengajukan ke LPDP

Perlu diingat, ketika hendak mengajukan proposal ke kampus, catat baik-baik apa yang diinginkan kampus. Dalam kasus saya, meski saya sudah mempersiapkan proposal disertasi lumayan panjang, ternyata mereka meminta hanya dua halaman proposal. Ini tantangan tersendiri: bagaimana membuat sebuah ringkasan proposal yang singkat, mengena dan fokus. Juga harus mengesankan tim peninjau yang akan menyeleksi di tingkat kampus. Bagi yang terbiasa menulis esai pendek, saya kira ini bukan soal besar.

Juga fikiran dari awal siapa orang yang bisa memberikan kita rekomendasi yang bagus. Orang yang kita mintai rekomendasi lebih baik orang yang kenal kepada kita dan mempunyai pengaruh yang cukup baik. Jangan lupa, jika kita bekerja di sebuah lembaga, rekomendasi dari bos di tempat kita kerja juga penting selain rekondisi dari tokoh. Saya beruntung karena mendapatkan rekomendasi dari Prof. Azyumardi Azra dan dari bos saya di kantor.

Sembari mengerjakan pekerjaan dari kantor dan mengajar, proses itu satu persatu dilalui. Dikerjakan secara bertahap di akhir pekan atau di sela-sela waktu luang di kantor. Alhamdulillah semuanya dimudahkan. Saya percaya Yang Di Atas akan memudahkan atas segala niat kuat dan usaha.

***

Lantas semuanya harus dilalui mulai Agustus 2016. Kuliah dimulai, pindah ke tempat baru dan lingkungan baru. Karena ketika itu saya biasa mondar-mandir dan berinteraksi dengan banyak orang dari beragam kalangan, baik akademisi maupun praktisi, kuliah terasa sangat menyenangkan. Kuliah seperti sebuah proses pematangan dan refleksi. Apa yang saya dapatkan selama lima tahun bekerja mengalami tahapan perenungan dan peninjauan kembali. Apa yang ketika S2 dipelajari, kini dilihat dengan kacamata yang sedikit berbeda. Saya kira sebabnya karena pengalaman saya yang bertambah.

Saya masih ingat betul, tanggal 10-12 Agustus 2016 saya masih di Makassar untuk sebuah acara terakhir program kantor yang saya tangani dan tanggal 17 saya harus sudah mulai perkuliahan di Los Angeles. Ketika datang saya tidak lagi harus mengikuti program persiapa semacam ospek sebagaimana mestinya. Mungkin karena ini program PhD. Saya tiba 15 Agustus dengan perasaan yang belum genap. Jet lag parah membuat saya seperti mayat hidup ketika harus mencari ruang kelas perkuliahan pertama di kampus UCLA yang begitu luas itu.

Lantas semuanya berjalan dengan normal. Ketika mengerjakan tugas kuliah, semua hal juga teras lebih mudah dan sangat menyenangkan. Kemampuan bahasa Inggris jauh lebih baik. Sekarang saya bisa dengan mudah mengalirkan kata-kata dalam bahasa Inggris. Hampir sama mudahnya dengan menulis dalam bahasa Indonesia. Menulis 30-50 halaman paper bukan beban berat atau seperti setan gundul yang dulu menghantui saya di Melbourne. Pengalaman membuat catatan, mengatur waktu dan target, mencapai setiap tahapan dengan bertahap, membuat hampir semua tugas kuliah selesai tanpa beban dan tepat waktu. Kalau setiap hari kita duduk mengerjakan tugas kita minimal delapan jam, tidak perlu kita begadang sampai larut untuk mengejar batas waktu. Saya bahkan biasa tidur cukup meski ketika banyak pekerjaan. Justru tidur itu seperti obat yang baik.

Selama tiga semester pertama saya menulis tiga tulisan esai panjang, dua tugas ujian rumah (take home exam) dan sebuah tulisan panjang sekali, hampir 80 halaman untuk sebuah pekerjaan lain. Saya merasa sangat produktif dan fokus. Dan hasilnya baru saja dinikmati bulan ini: tiga tulisan itu dimuat di jurnal internasional.

Setelah kuliah di kelas berakhir—untuk program PhD di fakultas hukum saya harus mengambil 20 kredit—saya langsung fokus pada penulisan proposal. Sebelumnya tentu saya sudah mempunyai proposal. Namun semua itu harus dimatangkan lagi. Karena sudah punya bahan, pengerjaan ini hanya butuh satu semester kurang. Setelah itu saya langsung mengajukan untuk melangsungkan ujian proposal kepada pembimbing saya. Namun karena satu dan lain hal, ujian proposal disertasi baru bisa dilakukan beberapa saat sebelum saya mengambil liburan musim panas ke Indonesia bulan kemarin.

***

Setelah dua tahun kembali menempuh pendidikan, saya merasa keputusan saya dua tahun lalu keluar dari zona nyaman adalah sebuah keputusan yang tepat.

Saya sekarang sudah mulai riset dan menulis bab satu disertasi saya. Saya dan keluarga juga sudah menemukan ritme hidup yang nyaman dan menyenangkan di Los Angeles. Kami tinggal di apartemen kampus yang sangat nyaman dengan segala fasilitasnya, dengan harga yang sangat terjangkau pula. Kami sekeluarga juga sudah mempunyai komunitas di Los Angeles. Setiap akhir pekan kami bertemu komunitas Indonesia di mesjid sekalian mengantar Amartya dan Yarra mengaji di madrasah yang dibuat oleh komunitas Indonesia di LA. Selain itu pergaulan saya di Los Angeles semakin luas. Saya baru saja diminta atau diberikan kepercayaan menjadi Ketua Bawaslu Luar Negeri Los Angeles. Kami sekeluarga juga mempunyai kawan baik yang sesudah seperti keluarga. Sesekali kami saling mengunjungi satu sama lain.

Saya juga beruntung karena mendapat pembimbing yang sangat bagus dan dihormati di kalangan komunitas akademik dunia di bidang saya. Satu orang Profesor berasal dari Harvard Law School, Professor Intisar Rabb. Professor Khaled, pembimbing utama saya, selama ini sangat menyenangkan dan akomodatif.

Lebih dari semua itu, kehidupan profesional yang baru ditinggalkan kurang dua tahun sudah kembali mendekati. Karena sudah tidak ada kelas, secara kebetulan ada sebuah pekerjaan yang bisa dikerjakan dari kampus saya di Los Angeles, tanpa sama sekali mengganggu waktu dan riset utama. Juga, lagi-lagi mungkin secara kebetulan, apa yang dikerjakan dari pekerjaan konsultasi ini sama persis dengan riset utama saya untuk PhD. Saya hanya harus sesekali ke Jenewa. Pekerjaan ini hanya dua tiga bulan saja, sekedar sekalian mengisi liburan musim panas.

Semoga dalam dua tahun atau tiga tahun ke depan saya akan kembali menulis sebuah catatan yang menyenangkan. Semoga nanti saya sudah mengalami lebih banyak capaian dan kemajuan.

(Di angkasa dalam perjalanan dari Jenewa ke Abu Dhabi, 5 Juli 2018).

Urusan dengan Bank di Amerika

112220_600Saya mau cerita sedikit perihal pengalaman saya berurusan dengan bank di Amerika.

Saya baru sebulan di Los Angeles dan tentunya harus pergi ke sana-sini, urus ini-itu untuk segera hidup nyaman. Perkuliahan sudah mulai sejak sebulan lalu dan ini hari ke 35 saya di LA. Alhamdulillah sudah hidup dengan ritme normal, sudah punya rutinitas. Tapi rasa kesal dengan bank masih terisisa sejak sebulan lalu. Dan baru tadi saya merasa bodoh, tertipu dan kesal luar biasa dengan bank lagi. Tentu ini bukan salah mereka, ini salah saya tidak mencari informasi detail. Tapi untuk siapapun anda yang baru datang dan butuh sesuatu dengan cepat, mencari detail suatu hal bukan sebuah pilihan.

Sebulan lalu ketika saya hendak pindah dari tempat tinggal sementara ke tempat tinggal yang sekarang di Santa Monica, saya harus membayar uang sewa kamar dan uang deposit kurang lebih 2000 dollar ke yang punya rumah. Yang punya rumah seorang kakek tua dari generasi ayah saya, berumur hampir 70an sepertinya. Dan meski telah negosiasi dan meminta ke dia dua kali, dia tetap ngotot untuk pembayaran harus pakai cek, tidak mau transfer online. Dia beralasan, dengan cek ada bukti otentik. Padahal jika transfer antar bank secara online juga bukannya akan ada bukti pembayaran otentik? Tapi sudahlah. Akhirnya saya nurut sama si Kakek–tentu karena saya sedang butuh tempat tinggal!!

Saya pergi ke bank untuk meminta apa yang mereka sebut cashier check. Dengan muka polos tanpa berdosa saya menghampiri teller bank dan bilang butuh cashier check. Dengan senyum lebar pelayan di teller, seorang perempuan paruh baya, kemudian bilang: ‘Tentu saja. Harganya 10 dollar untuk satu cashier check’. Saya menelan ludah sebelum bertanya lagi pada dia meyakinkan bahwa saya harus bayar 10 dolar. ‘Yes, it cost 10 dollar for each cashier check’. Mahal sekalai, pikir saya waktu itu. Tapi karena butuh, sambil menelan ludah lagi dan sedikit senyum terpaksa, saya menyetujuinya. Setelah saya mendapatkan check itu saya bertanya iseng ke ibu setengah baya di teller itu: ‘Kenapa mahal sekali ya untuk mendapatkan selembar check ini. Uang saya yang saya ambil.’ ‘Iya mahal,’ katanya ‘mungkin karena servis’. Hmmm….tidak ada makan siang gratis di Amerika. Benar-benar tak ada. Makan siang dengan murah juga tak ada.

Peristiwa mengesalkan itu menggelayut terus hingga kini. Kekesalan itu muncul lagi ketika saya tahu setiap ada pengiriman uang dari Indonesia, dari LPDP yang mengirimkan uang beasiswa, uang saya dipotong 16 dollar untuk biaya transfer. Sayangnya, LPDP selalu mengirim apa-apa terpisah meski pada hari yang sama. Alasannya, pengiriman harus sesuai dengan permintaan yang diajukan. Dalam sehari pernah uang di rekening kurus saya–bukan rekening gendut–diambil oleh bank sampai 36 dollar untuk biaya transfer. Haduh Maa….

Kekesalan ketiga terjadi baru saja. Setelah ngobrol sama di Kakek yang punya rumah, si Kakek tetap kukuh minta pembayaran pakai cek. Dan akhirnya aku lihat sebentar di aplikasi bank di hp ternyata ada fitur pesan cek. Saya klik dan saya ikuti prosesnya. Dan, lagi-lagi saya harus bayar 30 dollar untuk pesan segepok cek. Si Kakek padahal bilang biasanya bisa gratis dapat buku cek dari bank itu. Ternyata si Gratis mungkin sudah pergi ke Hongkong dan karena itu saya harus bayar! Bayangkan, untuk pesan segepok cek itu, bank saya memungut 8 dollar untuk biaya pengiriman. Durjana pemetik bunga!!! Aku pikir ini keterlaluan. Segepok kertas 8 dolar hanya untuk ongkos kirimnya. Padahal di Amazon, kita bisa pesan kasur atau lemari dan diantar gratis ke depan pintu rumah.

Lebih sakit hati lagi karena setelah saya pesan lewat bank yang harganya 30 dollar itu, seorang kawan memberi tahu bahwa kita bisa pesan buku cek dari situs mana saja dan biasanya lebih murah. Sialan! Saya cek di Walmart, untuk 200 lembar cek hanya 7 dollar dan gratis biaya kirim. Di situs lain juga harganya sama, sekitar 7 sampai 12 dollar. Saya kesal sekali. Merasa tolol dan dibodohi oleh institusi bernama bank yang kerjanya mencari celah bagaimana dia dapat untung dari apa yang mereka sebut ‘biaya pelayanan’.

Jadi buat anda yang mau merantau ke negeri Abang Sam ini, semoga baca blog saya dan tidak jadi bodoh seperti saya. Untuk cek, jangan sekali-kali pesan dari bank. Mereka hanya akan menguras duit kamu. Bisa di tempat online lain. Di tanya saja sama Google, pasti tahu.

Btw, saya pakai BoFa. Semoga anda mendapatkan pejaran dari kebodohan saya. Dan untuk pesan cek, anda bisa lihat di sini perbandingannya: http://www.toptenreviews.com/money/accounting/best-online-check-ordering-services/

Salam dari Santa Monica