LA Notes

Regyan Ananta si Anak Gempa

Rasa syukur tak henti-henti kami panjatkan kepada Allah, Tuhan yang Maha Esa, yang telah memudahkan semua proses persalinan istri saya kemarin. Penuh ketegangan. Tapi akhirnya semua berjalan baik-baik saja: anak lahir selamat dan sehat sentosa. Ibunya, istri saya, juga sudah mulai pulih.

Regyan Ananta Zen, begitu saya menamainya. Lahir kemarin lusa tanggal 5 Juli 2019 di Rumah Sakit Ronald Reagan UCLA, pukul 9.30 malam.

Seperti umumnya anak, kami menamainya dengan nama bersejarah dan bermakna. “Regyan” adalah nama kenang-kenangan karena ia lahir di rumah sakit Reagan, nama yang diambil dari salah satu nama presiden Amerika yang kebetulan rumahnya di belakang kampus UCLA. “Ananta” adalah nama tengah penulis terkenal, Pramudya Ananta Toer. “Zen,” nama panggilan saya yang saya sematkan kepada semua anak saya. Secara keseluruhan, kurang lebih Regyan Ananta Zen berarti: sang pangeran dengan keindahan/kebaikan tak bertepi. Sebagai doa, semoga namanya kelak mengantarkannya pada semua kebaikan dan keindahan.


Ada beberapa hal aneh atau unik tentang Regyan. Ketika istri saya sedang berjuang melahirkannya, gempa hebat mengguncang Los Angeles. Awalnya seperti getaran kecil saja. Saya yang sedang bersandar pada kursi di ruang persalinan mulai awas dan curiga bahwa mungkin gempa akan datang lagi. Dua hari sebelumnya kebetulan California juga digoyang gempa sedang, sekitar 6.6 skala richter.

Istri saya tiba-tiba setengah berteriak di tengah kesakitannya menahan proses persalinan: “Ayah, gempa!” Meski panik, saya mencoba tetap tenang. Dari luar para perawat dan dokter terdengar mulai sedikit panik dan bersiap. Mungkin mereka sedang bersiap menjalankan prosedur darurat jika gempa besar benar-benar menggoyang California. Saya mulai panik.

Ketika saya mencoba berdiri dan keluar untuk bertemu dengan para perawat itu, kami merasakan lagi guncangan yang cukup kuat. Semua alat medis yang memang disangga roda itu bergoyang kesana-kemari. Gorden rumah sakit bergelayut semakin kecang. Istri saya tiba-tiba seperti ingin loncat dari kasur tempat persalinannya. Bidan lain masuk dan mencoba menenangkan kami dengan tenang: “Rumah sakit adalah tempat paling aman jika ada gempa. Gedung ini di desain tahan guncangan sampai 9 skala richter,” ujarnya.

Meski mencoba tetang, tetap saja saya, istri dan para bidan dilanda kepanikan luar biasa.

“Gedung ini berdiri di atas roda-roda yang akan bergerak untuk mengantisipasi gempa,” ujar perawat yang tadi menenagkan saya, seorang perempuan berkacamata berusia sekitar 40an tahun.

Mungkin karena itu meski gempa sepertinya sudah selesai, gedung masih terasa bergoyang sebelum berhenti perlahan-lahan.

Tak lebih satu jam setelah gempa 7.1 skala richter itu, Regyan lahir. Ia disambut bumi yang bergoyang. Saya tidak bisa membayangkan jika kejadian gempa itu di Indonesia. Gempa 7.1 cukup kuat untuk meruntuhkan bangunan yang umumnya tidak didesain tahan gempa di Indonesia.

Semoga ia akan menjadi anak yang “bisa mengguncang dunia’ atau menjadi anak yang cukup “tahan guncangan gempa” kehidupan. Begitu kurang lebih jika hendak ditafsirkan kehadiran gempa saat kelahirannya itu.


Ia lahir begitu bersih. Rambut dan kepalanya nyaris tidak dipenuhi “kikili”. Entah apa namanya. Orang di kampung dulu bisanya menyebut kikili: semacam kotoran daki mengerak yang menempel di kepala bayi. Regyan lahir dengan sangat bersih.

Tentu itu bukan magic. Ia lahir dengan cukup bersih karena ibunya, istri saya, rajin mengkonsumsi alpukat dan air kelapa selama kehamilan. Konon kedua jenis makanan itu cukup bagus untuk kulit bayi.


Ketika juru foto rumah sakit datang, Regyan menangis hebat lumayan lama. Untuk sesi foto itu kami harus menunggu lama. Sang juru foto, mencoba menenangkannya dengan menggendong dan menimangnya. Ia tak juga diam. Akhirnya Regyan sebentar digendong ibunya. Ia tentu saja diam. Tapi begitu disimpan kembali di sofa dengan seprei serba putih, ia menangis lagi, dan begit terus menerus.

Akhirnya sanga juru foto meminta dot ke perawat hanya untuk menenangkannya. Ketika dot dimasukan ke mulutnya, Regyan secara refleks tiba-tiba seperti ingin memegang dot itu. Dan ya, ia benar-benar memegangnya. Ketika saya mencoba mengambilnya tangannya mengeras seperti mencoba mempertahankan dot dari mulutnya. Tak ada sesi foto dengan dot di rencana awal. Dot itu akan dicabut beberapa detik sebelum fose.

Sontak juru foto, perawat dan kami berdua terkekeh melihat tingkah bayi Regyan yang belum juga genap berumur sehari. Akhirnya sang juru foto mengambil beberapa fosenya memegang dot itu. “Baru lahir sudah bisa pegang dot!” ujar sang perawat. Kami biarkan dia beberapa saat menikmati dotnya sebelum saya ambil.

Semoga kelak kau menjadi manusia berguna dan membawa kebaikan tak bertepi kepada sesama, Regyan!

Los Angeles, 7 Juli 2019

Leave a Reply

%d bloggers like this: