Budaya

Perihal ‘Cleaveage’

 Mungkin sekitar 6 dari 10 perempuan bule yang aku temui di jalan berpakaian dengan memperlihatkan belahan dada. 8 dari 10 memakai celana, rok atau baju diatas lutut memperlihatkan paha. Buat Iman atau Dumas hal ini jelas berkah. Buat saya juga tidak jauh berbeda. Memasuki musim panas di Melbourne selalu membuat lelaki normal kaya Iman, Sugeng dan Dumas penuh dilema: mereka tahu itu aurat, tapi masalahnya auratnya ada di mana-mana. Ingin rasanya, kata Dumas, mengalihkan pandangan dari pemandangan indah itu, cuma masalahnya, tengok kanan ada, tengok kiri ada, jongkok lebih bahaya. Nikmati saja 😉

Apa yang bisa direnungkan dari cara kebanyak perempuan di Melbourne berpakaian? Ada homogenitas cara berpakaian yang itu jelas dibuat oleh industri. Kalau musim dingin: sepatu but dengan hak tinggi, celana ketat leging–biasanya berwarna hitam, baju ketat dan jaket. Kalau musim panas: serba simple dan terbuka, kacamata hitam, topi. Tapi bukan hanya itu: pakaian bisa mencerminkan struktur budaya.

Aku jadi ingat buku Strategi Budaya yang ditulis Van Peursen. Buku itu aku baca sekitar semester 5. Buku itu sangat berkesan karena dari buku itu aku bisa membaca gambaran umum pergerakan budaya Barat. Kata Peursen, gerak kebudayaan Barat bisa di bagi kepada 3 tahapan: fase mitis, ontologis dan fungsionil. Tiga tahapan perkembangan masyarakat ini mirip dengan apa yang ditawarkan Agus Comte, di mana dia membagi perkembangan masyarakat Barat menjadi fase Teologis, Metafisis dan Positivis. Peursen memasukan 3 variabel untuk melihat perubahannya kebudayaan dalam setiap fase itu. Tiga hal itu adalah: sex, exsplorasi dan kematian. Tiga hal itu bisa menunjukan proses perubahan budaya Barat.

Dalam setiap fase, kepribadian juga dikonstruksi, dibentuk. Kepribadian manusi pada fase mitis adalah kepribadian arkaik di mana manusia dan alam, mikro dan makro kosmos, masih menyatu. Manusia identik dengan alam. Pada masyarakat primitif, seseorang biasanya mengidentifikasi dirinya dengan binatang atau alam sekitar. Pada masa ini, subjek, manusia belum bisa melakukan objektifasi untuk memilah mana “self”, sang subjek dan mana “it”, alam objektif. Masyarakt Indian, umpamanya, percaya bahwaa gagak yang berkeliaran adalah arwah nenek moyang mereka. Meski sudah modern, sisa-sisa kebudayaan lama ini masih terlihat jelas. Bangsa Amerika mengidentifikasi negaranya pada elang, Indonesia pada garuda, Inggris pada singa, Prancis pada ayam jantan.

Fase kedua datang, fase ontologis, dengan ditandai oleh revolusi cartesian. Cogito ergo sum, aku berfikir maka aku ada. Subjek mengambil jarak, membuat pembedaan dari objek atau alam yang dia pikirkan atau hadapi. Ego manusia terformulasi menjadi diri yang otonom dan merdeka dari alam. Aku berbeda dari alam, terutama karena aku mempunyai pikiran. Ontologi muncul dari persepsi bahwa manusia bisa melakukan objektiasi terhadap objek dan menemukan esensi dari apa yang dipikirkannya. Fase ini menandai modernisme dan kemajuan sains. Namun, ada sisi gelap dari ego cartesian: manusia jadi rakus dan merusak alam dengan karena dia merasa berbeda lebih unggul dari alam. Dari itu munculah fase Fungsionil. Fase ini adalah fase dimana manusia dan alam berada dalam tingkatan yang sama, saling mengandaikan. Alam tidak berada dibawah manusia. Manusia berbeda dengan alam, namun manusia juga bagian darinya. Pada fase ini muncul persfektif post modernisme dimana “post” sering diartikan sebagai kritik terhadap kegagalan modernisme dalam memanusiakan manusia.

Loh, terus hubungannya dengan belahan dada dan paha apa? Begini saudara: menurut Peursen, jika dilihat 3 variabel dalam setiap fase sejarah itu, perubahan akan jelas terlihat. Pada masa mitis, dari 3 variabel yang dipakai, 2 diantaranya dirayakan dan 1 direpresi. Sex dan kematian menjadi bagian yang diakui, dirayakan, menjadi bagian inti kebudayaan. Lihat umpamanya lambang-lambang budaya kuno, pasti tidak jauh dari simbol lingga (gambaran dari penis) dan yoni (vagina). Sukarno mengabadikan budaya arkaik perayaan sex ini dalam arsitektur Monas (simbol penis, lingga) dan gedung DPR (yoni, gambaran vagina). Relief-relif yang ditemukan di gua-gua atau dari balik gurun pasir di Mesir juga sering menyimbolkan persatuan/persetubuhan antara bumi dan langit. Kematian juga sama: lihat epik kepahlawanan dari cerita Roma atau Yunani kuna. Kematian adalah bagian dari hidup dan dirayakan sebagai sesuatu yang mulia, dihormati. Eksplorasi, berbeda dengan dua hal tadi, ditabukan. Lihat, misalnya, budaya kesambet di masyarakat Indonesia. Ketika aku kecil, aku selalu diwanti-wanti untuk tidak datang atau menginjak daerah tertentu karena angker dan berpenghuni. Melanggarnya bisa kesambet, kemasukan setan atau penghuni daerah itu. Itulah sisa-sisa budaya mitis yang masih dengan jelas terlihat dihadapan kita.

Pada fase ontologis atau metafisis, sex direpresi. Eksplorasi dan kematian dirayakan, menjadi pusat dalam kebudayaan. Fase ini ditandai dengan keberanian orang-orang Eropa mengarungi lautan gelap dan hitam, melawan setan-setan untuk menemukan dunia baru, menemukan dunia tak bernama. Colubus ke Amerika, Vasco da Gama ke India dan lain-lain. Hasrat eksploratif ini juga mendorong mereka berinovasi. Belajar dari para ahli navigasi Islam, seperti Ibnu Mayid yang menuntun Vasco da Gama mencapai pantai India, mereka terus berinovasi. Peta peninggalan umat islam diperbaiki, kompas juga sama. Pada saat itu, dunia baru adalah kehidupan yang menjanjikan: ada emas di Amerika yang telah mendatangkan kekayaan bagi Spanyol, ada rempah-rempah di pulau Maluku yang membuat Portugis menjadi kaya. Munculah juga revolusi mesin uap. Dari mesin uap mereka menemukan banyak mesin lain. Tetapi, pada saat itu sex direpresi dan dimarjinalkan dari masyarakat. Etika Victorian dominan dan begitu represif mengatur tingkahlaku seksual, terutama para wanita. Pakaian wanita begitu tertutup, sex tabu untuk dibicarakan diantara kawan. Sex berubah menjadi hanya sekedar alat reproduksi. Pakaian pengantin orang bule, yang gaunnya panjang dan mengembang dibagian pinggul adalah sisa pakaian victoran–cuma sekarang diinovasi dengan dibuka bagian dada atasnya, dulu tidak.

Jaman fungsionil datang, sex kembali dirayakan. Etika victorian ditentang. Di Amerika para feminis membakar BH dan berlari telanjang dada untuk protes terhadap budaya victorian. Sex bom, begitu katanya. Majalah, tv, film mengeksploitasi tubuh dan sex menjadi industri. Paha dan dada terlihat lagi setelah dalam masa Victorian disembunyikan untuk alasan etik. Kematian, pada masa ini direpresi, dijadikan bagian pinggir kebudayaan. Sebisa mungkin orang tidak mati–tentu mungkin ini tidak berlaku di Jepang. Obat-obatan diciptakan untuk menghindarkan manusia dari kematian. Kematian menjadi sesuatu yang ‘ditakuti’, sama seperti sex yang ditakuti ketika masa Victorian.

Dus, wajar sekali kita melihat belahan dada dan paha, karena ini masa dimana sex dirayakan. Meski Melbourne berada di Victoria, ternyata tak ada sisa-sisa etika victorian yang tertinggal. Waallahu a’lam

Leave a Reply

%d bloggers like this: