Islam

Merenungkan Kembali Lailatul Qadr.

Dalam Islam, malam Lailatul Qadr diyakini sebagai malam paling suci. Lailatul Qadr juga dianggap sebagai momen agung yang hanya terjadi di bulan Ramadhan.

Kenapa Lailatul Qadr menjadi malam paling suci dan agung; malam paling berkah; malam di mana ibadah dilipatgandakan pahalanya; malam ketika doa kita akan maqbul; malam yang lebin baik dari seribu bulan ibadah?

Al-Qur’an menjelaskan salah satu alasan kenapa Lailatul Qadr menjadi malam agung: ia adalah malam ketika al-Qur’an diturunkan. “Sesungguhnya aku turunkan Al-Qur’an pada malam Lailatul Qadr.”

Kemudian al-Qur’an seperti bertanya: “Dan apakah itu Lailatul Qadr?”

Kita tentu ingin mendapatkan jawabannya. Namun alih-alih memberikan jawaban yang jelas, pada ayat berikutnya Al-Qur’an hanya menyingkap sebuah isyarat: “itu adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan.”

Artinya, al-Qur’an seperti ingin membiarkan kita mencari sendiri jawabannya. Ada banyak penafsiran atas pertanyaan apa dan kenapa Lailatul Qodr menjadi ultimate sacred momen dalam Islam. Saya mencoba menyodorkan sebuah penafsiran.

Lailatul Qadr sendiri secara harfiyah bisa ditafsirkan beragam. Setidaknya ada tiga penafsiran yang mashur menurut para ulama dalam kitab-kitab tafsir: malam ketentuan (malam takdir), malam kemulian, atau malam yang sempit (sempit karena langit dipenuhi malaikat dan ruh yang turun ke bumi).

Saya memilih mengartikan Lailatul Qadr sebagai malam kemulian, atau malam keagungan. Selama ini penafsir yang mengartikan Lailatul Qadr sebagai malam kemulian berargumen bahwa malam itu mulia karena pahala ibadah dilipat gandakan setara seribu bulan.

Bagi saya, Lailatul Qadr menjadi malam agung karena ia adalah momen ketersingkapan, pencerahan, malam cahaya. Momen eureka dan peristiwa “aha” yang suci dan agung. 

Lailatul Qadr, menurut Qur’an, adalah malam ketika al-Qur’an diwahyukan. Malam ketika maha pengetahuan dilungsurkan kepada manusia melalui Nabi Muhammad. Ibarat penanda, setelah lama dalam kegelapan, malam itu, malam ketika maha pengetahuan diwahyukan, adalah malam yang menandai cahaya, ketersingkapan, enlightment. Malam di mana manusia mendapatkan obor penerang dalam gelap; kompas penunjuk arah kehidupan.

Lailatul Qadr menjadi agung karena itulah malam puncak manusia mencapai pencerahan dengan mendapatkan pengetahuan agung: pewahyuan al-Qur’an. Pengetahuan agung nan mulia itu diturunkan oleh malaikat paling mulia, Jibril. Diwahyukan pula kepada orang paling mulia, Muhammad SAW, untuk diberikan kepada ummat paling mulia.

***

Dalam epistemologi Islam, pewahyuan adalah hasil dari akumulasi usaha manusia memaksimalkan seluruh potensi pengetahuannya. Wahyu adalah peristiwa di mana setelah manusia mengolah cipta, rasa dan karsa, mengolah pengetahuan indrawi, rasional dan intuitif, manusia mencapai puncak pengetahuan: ketersingkapan (revealation), insight. Sebuah ketersingkapan dan insight yang suci (sacred revelation).

Tentu saja, moment agung yang dialami para nabi ini hanya mungkin terjadi karena rahmat Tuhan. Tetapi perlu dicatat, pewahyuan janganlah diartikan sebagai “hadiah.” Pewahyuan adalah sebuah pencapaian puncak spiritual setelah para nabi melewati masa perenungan, usaha yang sangat berat dan penderitaan.

Setelah mencapai puncak spiritualitas, Nabi Muhammad dan para nabi lain, menjadi mulia karena mereka memberi pencerahan, petunjuk, jalan hidup bagi manusia. Pewahyuan ibarat cahaya matahari yang menyingkap malam gelap dan menjadikannya terang. Wahyu dan pengetahuan menerangi masa ribuan tahun kegelapan.

Dalam skala dan derajat yang berbeda, setiap manusia bisa menggapai momen “pewahyuan,” ketersingkapan, dan pencerahan ini. Dengan kata lain, setiap kita sesungguhnya memiliki potensi untuk menjadi “nabi-nabi kecil” yang bisa membawa perubahan pada kebaikan, pencerahan dan petunjuk bagi manusia lain. Tentu saja derajatnya jelas berbeda dengan kelas para nabi.

Jadi, setiap manusia bisa mendapatkan momen agung dan kemuliaan (Lailatul Qadr). Itulah kenapa kita dianjurkan untuk mencari dan mendapatkan Momen Kemuliaan (Lailatul Qadr).

Dalam khazanah tradisi Islam, kita mengenal istilah “ilham” atau inspirasi. Ia, dalam skala yang dan derajat berbeda, adalah saat di mana manusia mengalami “aha”, eureka, ketersingkapan, atau mendapatkan jawaban yang seperti datang tiba-tiba atas sebuah pertanyaan.

Tapi ilham tidak akan muncul dan digapai kalau manusia tidak memaksimalkan keseluruhan potensi indrawi, rasional dan intuisinya; akal dan hatinya. Ilham adalah potensi tersembunyi dalam diri manusia yang hanya akan “hudur” atau hadir setelah manusia berusaha memaksimalkan keseluruhan usahanya (membaca, merenung, riset, eksperimen, berfikir dan berdoa)

Setelah digapai, “pengetahuan” itu bisa menjadi penerang bagi manusia yang sebelumnya diliputi kegelapan.

Itulah kelapa, misalnya, eureka momen “teori gravitasi” Newton menjadi penerang berharga bagi manusia. Momen itu adalah momen yang lebih baik dari masa puluhan atau bahkan ribuan tahun manusia sebelum pengetahuan itu disingkap dan ditemukan olehnya.

Itulah kenapa setiap penemuan, invention, yang bermanfaat bagi manusia, dari angka nol, Aljabar, mesin kompas, amunisi, mesin cetak, penisilin sampai internet, adalah saat agung yang lebih  berharga dari “ribuan bulan” ketidaktahuan manuasia.

***

Menariknya, momen pencerahan, “eureka,” saat kegelapan tersingkap cahaya, hanya bisa digapai oleh “iqra”: penelitian, ketekunan mencari  jawaban, membaca dan kontemplasi.

Tak aneh, ayat pertama yang diturunkan malam itu kepada Nabi Muhammad adalah “iqra.” Ayat pertama itu seperti ingin memberikan isyarat pada jalan penemuan, ketersingkapan, pengetahuan! Iqra adalah jalan menggapai Lailatul Qadr.

Dus, cara mendapatkan Lailatul Qadr, menurut saya, justru bukan melulu lewat dzikr, tapi juga lewat membaca, riset dan tafakur, penelitian mendalam dan eksperimen. Seperti dzikir, aktivitas belajar, meneliti dan eksperimentasi adalah bentuk ibadah (penghambaan). Tradisi panjang peradaban Islam tidak pernah memisahkan dzikir dari fikir, hati dari akal.

Hanya dengan serangkaian usaha fisik, mental dan spiritual, kerja akal dan hati, mungkin suatu saat kita menemukan momen pencerahan. Dan ketika saat ketersingkapan itu digapai, ia akan menjadi saat yang paling berharga, jauh lebih berharga dari seribu malam lainnya. Bahkan bisa menjadi malam berharga bagi manusia lain.

Jika demikian, bagi saya, mencari Lailatul Qadr pada Bulan Ramadhan bisa diartikan sebagai usaha, latihan dan tempaan intensif agar manusia senantiasa bisa menggapai saat-saat agung dan mulia kapan saja (bahkan di luar Ramdahan). Dus, pencarian itu jangan berakhir di bulan Ramadhan.

Setiap usaha mencari dan menemukan bisa berhasil, bisa pula gagal. Jika momen penemuan, invention, ketersingkapan itu tidak kita dapatkan, usaha untuk menggapainya tetap sangat berharga. “Bertafakur sesaat, lebih baik dari ibadah satu tahun.” Kalau digapai, kemuliaan Momen Pencerahan (Lailatul Qadr) lebih baik dari ibadah seribu bulan. Jika gagal didapatkan, tafakur, berfikir dan berdzikir, tetap berharga dan mulia.

Selamat menggapai momen “Lailatul Qadr” dengan cara baru! Jangan pisahkan dzikir dari fikir karena hanya akan membuat umat menjadi jahil dan fakir. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

%d bloggers like this: