Nasib Dosen Honorer

Oleh: Zezen Zaenal Mutaqin

Sebelumnya saya minta maaf kepada semua pihak yang mungkin merasa akan terisinggung, tersenggol, atau ‘tertusuk’  oleh curhatan saya ini. Mohon sekali lagi untuk dimaafkan. Meski sedikit pedas, semoga curahan hati saya ini bisa megobati kegalauan hati saya, juga hati banyak kawan senasib sepenanggungan. Ketika menuliskan ini, tak sedikitpun terbersit dalam hati saya pihak-pihak tertentu secara khusus. Yang saya bayangkan adalah sebuah tatanan sistemik yang membuat orang-orang di dalam sistem itu tak lebih dari wujud yang kehilangan setengah kesadarannya karena kungkungan struktral.

Alkisah saya ini punya status yang keren, setidaknya di kampung saya. Minimal, dengan status itu dulu saya mudah melamar calon istri saya. Calon mertua saya cepat faham apa pekerjaan saya. Mereka juga percaya bahwa anaknya akan dinikahi oleh orang yang setidaknya punya pekerjaan bagus: dosen. Ya, dosen.

Ihwal cerita saya jadi dosen lebih karena keturunan. Bapak saya guru. Ia ingin anaknya minimal jadi guru, atau kalau bisa lebih tinggi dari guru. Dosen adalah peningkatan status buat keluarga saya. Kakak saya dosen menikah dengan dosen. Adik saya dosen, menikah dengan guru. Saya dosen, menikah dengan anak pedagang.

Berbeda dengan Kakak dan adik saya, status dosen saya sampai sekarang belum terlalu jelas. Saya mengajar di kampus saya sejak 2011. Sampai sebelum berangkat ke Los Angeles untuk menempuh pendidikan doktor tahun lalu, status saya adalah dosen tetap non-PNS. Itupun status yang sedikit dipaksakan karena meski saya urus jauh-jauh hari status saya itu, entah kenapa baru menjelang keberangkatan status saya akhirnya diputuskan.

Ketika berangkat, saya masih belum juga memiliki nomor induk dosen. Bukan karena saya belum mengurus semua administrasinya, ya. Bukan. Saya sudah urus semua persyaratan, bahkan sampai dua atau tiga kali. Persyaratannya juga bukan hal enteng: saya harus pipis di rumah sakit untuk tes bebas narkoba, ketemu psikolog untuk tes saya sehat rohani dan tidak gila, cek tuberculosis, cek tekanan darah dan kesehatan lain. Saya juga harus urus surat kelakuan baik kekantor polisi.

Memang birokrasi kita itu luar biasa canggih. Sesuatu yang sederhana ditangan para birokrat kita jadi sangat rumit. Setelah semua dokumen itu saya serahkan ke kampus, lama tak ada kabar. Mungkin terselip karena para petugas itu terlalu banyak mengurus dokumen. Saya maklumi saja. Tahu-tahu saya dapat kabar untuk segera mengurus kembali pembuatan nomor induk itu. Saya bingung karena semua persyaratan sudah saya masukan lebih enam bulan lalu. Terus katanya surat yang diserahkan sudah kadaluarsa. Semua surat-surat itu kadaluarsa dalam 3 bulan. Terpaksalah sebelum saya berangkat saya mengulang lagi semua prosedur sebagaimana diminta: pipis lagi di rumah sakit untuk kemudian air pipisnya di periksa di lab; datang kembali ke psikolog untuk dicek kesehatan rohani saya, rontgen dada untuk cek tuberculosis dan cek kesehatan lain serta surat kelakuan baik.

Karena saya harus segera pergi ke Amerika, sebelum saya pergi semua surat itu saya simpan di rumah untuk dititip ke kawan. Untuk memudahkan, semua persyaratan saya scan dan saya simpan di cloud storage biar mudah. Siapa nyana, sampai setelah setahun, nasib nomor induk dosen itu tidak juga jelas. Entah bagaimana. Kata kawan di Jakarta, mereka harus mengurus lagi surat ini-itu. Dan artinya mereka harus pipis lagi di rumah sakit. Saya juga diminta lagi menguruh. Saya angkat tangan saja. Menyerah karena tidak mungkin melakukannya di sini. Ya Allah, ya Karim, dalam hati saya bergumam: kenapa mengurus nomor induk dosen saja seperti lebih rumit dari mengurus pembuatan jet antariksa yang akan pergi menaklukan galaksi. Saya ini sudah diangkat dosen. Kalau butuh untuk pengurusan nomor induk, kenapa tidak datang saja ke bagian kepegawaian. Untuk jadi pegawai, saya pasti sudah diminta surat ini-itu banyak sekali. Kenapa tinggal pakai aja surat-surat itu? Kenapa antar unit sepertinya tidak ada komunikasi.

Jadi, mungkin karena saya belum punya nomor induk dosen itu status saya belum jelas. Status saya juga harus diperbaharui tiap tahun. Untuk itu saya katanya harus tanda-tangan surat kontrak baru tiap tahun. Saya di Los Angeles, tidak mungkin pulang ke Jakarta hanya untuk tanda tangan. Kalau tidak tanda tangan, status dosen tetap bapak bisa tidak jelas, katanya. Saya jawab sederhana: kalau hanya untuk status, saya serahkan saja kepada kebijaksanaan pihak kampus. Karena saya buka PNS yang kerja-ga-kerja dapat duit, selama sekolah ini status saya hanya status. Saya tidak merasa keberatan dengan itu. Malah saya yang minta untuk tidak digaji selama saya studi karena saya tidak mengajar.

Jadi dosen ini semacam panggilan hati buat saya. Atau juga cara saya menunaikan hasrat genetik orang tua saya. Jika saya mau melangkah dari dunia profesi ini, saya sudah meninggalkannya enam tahun lalu. Ketika lulus master dari Australia, saya mendapatkan pekerjaan bagus di sebuah lembaga internasional. Saya pergi ke luar negeri hampir tiap bulan dengan lembaga itu. Sudah punya posisi lumayan. Sudah berhasil membangun unit kecil menjadi unti yang lumayan solid dan sukses dalam 4 tahun. Tapi entah kenapa, bahkan ketika saya sibuk dengan pekerjaan di kantor saya itu, seminggu dua kali saya masih sempatkan mengajar. Setiap hari Sabtu, waktu yang biasanya dihabiskan untuk santai bersama keluarga, saya habiskan untuk mengajar. Kadang saya ke keampus dengan membawa kedua anak saya. Mereka duduk di depan menemani saya mengajar dengan bermain ipad. Selepas mengajar saya ajak mereka makan di tempat kesukaan mereka.

Tapi meski panggilan hati, menjadi dosen itu selalu membingungkan: saya suka, tapi saya tidak mendapatkan keamanan psikologis untuk menjalani kehidupan. Idealnya, jika anda suka dengan satu profesi, anda menikmatinya dan anda nyaman dengannya. Dalam kasus saya, saya menikmati profesi itu, tapi saya selalu khawatir pada saat yang bersamaan. Kenapa? Sederhana saja: gaji dosen tidak cukup menutupi kebutuhan hidup. Apalagi sudah berkeluarga dengan dua orang anak. Apalagi jika status dosennya seperti saya dulu: dosen tidak tetap. Artinya apa itu? Artinya saya hanya disuruh ikhlas beramal sesuai semboyan Departemen Agama. Ngajar di kampus saya dengan status dosen-tidak-tetap tidak di gaji. Boro-boro dapat tunjangan ini-itu. Saya hanya dapat uang bensin setiap 6 bulan sekali. Sejak mengajar itu, saya tidak pernah mengambil gaji. Karena memang dari awal niat saya bukan nyari uang.

Karena untuk kebutuhan menutupi hajat hidup keluarga, rata-rata dosen muda kaya saya kerja di luar kampus. Ada dosen yang kerja di 4 kampus sekaligus. Ada yang aktif di lembaga internasional seperti saya. Ada yang jadi pengamat politik. Ada juga yang sambil jadi ustad panggilan atau berdagang. Untuk memenuhi kebutuhan bulanan, selepas sekolah dari Australia pada tahun pertama, saya harus kerja di DPR sebagai staf ahli, juga sebagai konsultan di kantor lembaga internasional. Selain itu saya juga harus mengajar. Apakah itu keinginan saya? Sama sekali bukan. Itu hanya keterpaksaan. Saya inginnya pulang dari sekolah di luar negeri terus mengajar saja di kampus. Tak perlu nyambi di sini-situ. Inginnya khusu menyiapkan bahan perkuliahan, riset untuk bahan tulisan, menyelesaikan proyek buku yang tertunda, membuat tulisan untuk jurnal. Bukankah itu tugas dosen? Dosen itu orang yang tugas utamanya memproduksi pengetahuan. Tapi sayangnya lebih banyak dosen yang sibuk memproduksi hal-hal lain selain pengetahuan karena kesempitan dan tuntutan kehidupan. Dosen sibuk urus proyek

Jika dosen masih jadi profesi utama yang sampingan, kita tidak bisa berharap dunia pendidikan, riset dan pengetahuan kita bisa maju. Dosen sering jadi profesi stempel semata. Kerjanya dosen, ngajar seminggu sekali, sisanya mengurus proyek. Kalau mengurus proyek terkait keahlian mungkin masih mendingan. Banyaknya mengurus proyek apa saja yang penting bisa menutupi cicilan ke bank. Belum lagi kalau membaca berita jual beli gelar yang marak bahkan di kampus negeri sekelas UNJ. Megerikan sekali nasib pendidikan kita.

Karena kekhawatiran itu sampai sekarang saya masih pesimis dengan nasib saya ke depan. Pesimis dalam arti entah mau dimana ujungnya semua perjalanan ini. Yang selalu menguatkan niat dan semangat saya adalah kawan-kawan yang senasib. Lewat obrolan jarak jauh, kita selalu akhiri orboral itu dengan kata mutiara: pasti ada jalannya. Ya, memang selalu ada jalannya, meski sering berliku.

(Insyaallah bersambung…masih mau curhat 🙂

2 Replies to “Nasib Dosen Honorer”

Leave a Reply