First Travel dan Cerita Ayah Saya

Oleh: Zezen Zaenal Mutaqin

Saya teringat ayah di kampung ketika berita tentang keserakahan First Travel dimuat media.

Ayah saya di kampung itu orang yang sangat baik. Dia selalu tidak enak kalau ada seseorang datang mengajak sesuatu atau meminta pertolongan. Ia juga selalu ingin mencoba usaha sampingan. Mungkin niatnya baik. Sebagai guru PNS, ia butuh pendapatan tambahan untuk membiayai saya, kakak dan adik saya sekolah hingga bangku kuliah. Sebenarnya dari gajinya sebagai guru, ditambah uang tambahan Ibu saya menjahit, waktu itu cukup untuk membiayai sekolah semua anaknya. Meski tentu harus pontang-panting, kadang pinjam sana-sini.

Seingat saya, ayah sudah mencoba terlalu banyak ‘usaha sampingan’. Menurut ceritanya, bahkan sebelum anak-anaknya lahir, ayah sudah mulai usaha untuk mendapatkan uang tambahan, untuk menopang hidup yang kadang redup. Ketika baru diangkat menjadi guru honorer, Ia iseng menjadi pembuat petasan. Lantas berhenti setelah kawannya  meninggal karena ledakan dan Ia diperingatkan polisi.

Ketika saya SD, ayah memiliki pabrik tempe dibelakang rumah lama kami. Usaha tempe itu berjalan lumayan lama. Setiap pagi, ibu-ibu tetangga rumah datang untuk mengantar tempe-tempe itu ke warung di sekitar kampung. Ada juga yang langsung dijual keliling.

Saat krisis moneter, ayah menjajal semua usaha yang sedikit aneh: rumah kami penuh dengan kotak triplek. Isinya jangkrik dan daun pisang kering tempat jangkrik-jankrik beranak-pinak. Setiap malam rumah kami meriah oleh suara binatang yang biasanya ramai di kebun dan hutan desa pinggir kampung. Di belakang rumah, di kebun yang lumayan luas, kubus triplek berbaris. Yang di belakang rumah itu isinya cacing! Ayah bilang cacing-cacing dan jangkrik itu akan diambil oleh pengepul setelah panen. Saya masih ingat, akhirnya semua cacing dan jangkrik itu dibuang atau diambil tetangga untuk memancing. Janji pengepul tak pernah ditunaikan.

Usaha sampingan ayah yang lain, adalah ketika saya mulai mesantren di Karangtawang. Pernah ketika saya pulang ke rumah dari pondok, ayah mengumpulkan para tetua kampung, termasuk ustad dan kyai. Saya kira ayah punya hajat apa. Ternyata ayah diminta tolong oleh seseorang yang akan promosi AMWAY. Ya, ada yang masih ingat AMWAY? Setelah kumpulan itu ayah jadi agen AMWAY. Setelah gagal AMWAY, ia ikut CNI, terus Tiansi, terakhir, setahun lalu, ia jadi agen asuransi. Luar biasa ayah saya itu.

Sebenarnya ia ikut semua itu bukan karena benar-benar ingin berusaha. Motivasinya gabungan antara “kasihan, menolong, sambil siapa tahu dapat untung”. Itu kalimat jimatnya.

Sampai setelah ia pensiun, dan ketika anak-anaknya suah selesai sekolah dan semuanya bekerja, wataknya tidak juga berubah.

Beberapa tahun lalu, ketika saya pulang kampung, saya kaget bukan kepalang karena rumah kami dikepung oleh kolam. Ya, kolam. Ada 6 kolam disekeliling rumah. Di suatu sore ketika lenggang, sambil tak pernah berhenti menghisap kreteknya, ayah bilang ia akan memulai usaha baru: ternak lele! Katanya untuk persiapan mengisi masa pensiun. Saya kaget, juga lucu. Di sekitar rumah kami tak ada sumber air selain sumur. Ayah lantas bilang bahwa akan ada pipa yang mengairi kolam-kolam itu dari sumber air di desa tetangga. Ia juga bilang lele tidak butuh banyak air. Air keruhpun lele akan hidup. Sama seperti ketika dulu usaha cacing dan jangkrik, lele-lele itu ketika kelak dipanen akan diambil pengepul.

Anak-anaknya meski tidak setuju, tidak juga melarangnya. Pikir kami: biarkan ia punya kegiatan. Tak mengapa. Meski saat itu almarhumah ibu saya menentang keras. “Sudah terlalu banyak usaha gagal.”

Mungkin saya perlu juga sedikit ceritakan tentang kandang-kandang burung puyuh yang hampir dibakar oleh adik bontot kami. Kali ini terjadi ketika semua kolam itu sudah mengering dan lele tak pernah dipanen. Ayah minta tetangga kepercayaannya membuat kandang burung puyuh. Semua proyek pembuatan kandang itu hampir 80% rampung. Rumah kami sudah lantai dua dengan teras luas di atas. Kandang-kandang itu berbaris di teras atas rumah. Di belakang, di gazebo tak jauh dari kolam yang sudah mengering, dua kandang puyuh baru separuh jadi.

Kali ini kami anak-anaknya mengambil tindakan sedikit keras. Kami tolak rencana itu. Pasti tidak akan terurus dan hanya buang uang lebih banyak. Kalau ngotot, adik bontot saya yang sudah kesal luar biasa siap membakar semua kandang itu di kebun belakang rumah. Saya dapat cerita dari sepupu yang tinggal dekat rumah, ada orang datang ke ayah saya dan mengajukan proyek itu. Sama dengan ternak cacing, jangkrik dan lele, nanti akan ada yang mensuplai bibit burung puyuh dan kelak telor-telor itu akan diambil pengepul. Cerita lama usaha ayah!

***

Kini sampai kita pada cerita di judul. Harap diingat, semua usaha ayah yang saya ceritakan itu hanya sebagian saja. Pernah juga ia buka ternak jamur merang, rencana buka perkebunan jarak dan pohon jati, ternak burung kenari, investasi batu ajaib dan entah apa lagi.

Mungkin karena beragam kegagalan itu, ia beralih pada model investasi lain. Entah darimana ia dapat berita dan diajak siapa, tiba-tiba, tanpa sepengetahuan anak-anaknya ia bergabung dengan CSI. CSI itu model bisnis MLM dengan kedok koperasi Syariah yang tenar di seantero Wilayah 3 Cirebon. Model pendanaan Ponzi. Ayah yang di kampung tentu tidak tahu itu semua. Yang ia tahu hanya bagi hasil investasi yang menggiurkan. Bunganya sampai 10% perbulan. Jika menyetor uang 100 juta, setiap bulan ayah akan dapat minimal 5 juta bersih. Uang 100 juta akan utuh, katanya. Wow…Saya cuma bisa melongo.

Ketika saya tahu, semuanya sudah terlanjur. Saya minta uang itu ditarik kembali. Ayah saya bilang tidak bisa karena minimal uang harus diinvestasikan selama 5 tahun. Ayah tetap ngotot tak ada yang salah. Uang bagi hasil juga sudah dua bulan masuk ke rekening. Saya dengan kesal bilang, waktu itu tahun 2015, tunggu saja dua tahun lagi!

Bukannya jera, karena uang bagi hasil investasi mengalir tiap bulan selama setahun, orang dari CSI membujuk lagi untuk menyimpan uang investasi agar uang bagi hasil lebih besar. Secara sembunyi-sembunyi, akhir tahun lalu la setorkan lagi uang 50 juta. Ya, 50 juta. Uang itupun bukan uang nganggur. Itu uang sisa pensiun dan sebagian pinjam dari bank. Dia bilang, kalaupun pinjam dari bank, pasti akan ketutup karena bunga bank cuma 3% sementara uang dari CSI 10%.

Orang kampung tak tahu hitung-hitungan ekonomi. Padahal kalau pakai logika gampang saja, darimana itu CSI dapat untung dengan bisa bagi hasil 10% lebih setiap bulan? Saya bilang ke ayah, apa itu CSI punya bisnis tuyul? Atau punya gudang emas? Ayah tak bergeming. Seperti biasa dia hanya tersenyum sambil menghisap kreteknya.

Dan tak lama dari penyetoran uang kedua itu, kabar buruk mulai menerpa. CSI mulai seret mengirimkan uang bagi hasil. Sudah lebih 3 bulan tak ada uang masuk. Ayah dirayu dan diyakinkan orang CSI bahwa semua baik-baik saja. Saya ingat ada ibu-ibu berseragam CSI datang ke rumah entah untuk apa. Ayah cuma bilang, CSI lagi ada masalah karena banyak orang yang iri CSI usahanya maju dan coba mengganggu. Saya cuma bisa urut dada. Ga tega. Kasihan sama ayah saya yang sudah pensiun, baru ditinggal meninggal ibu saya, kena tipu pula. Celakanya, ia bahkan tak tahu sedang kena tipu! Bahkan ketika berita di media sudah ramai, dan para pengurus CSI diringkus polisi, ayah saya masih saja berharap kiriman itu akan segera cair. Sekitar 70 ribu orang tertipu. 2 trilyun rupiah uang menguap entah kemana.

Karena semua cerita itu, ketika membaca cerita edan First Travel di media, saya kesal bukan kepalang. Pengen nonjok! Ingat ayah yang sekarang terlilit utang ke bank karena tertipu investasi bodong CSI. 35,000 orang tidak bisa berangkat umroh karena uangnya entah kemana. Sebagian dipakai untuk skema Ponzi, sebagian dipakai poya-poya dan hidup mewah pemiliknya. Uang lebih 500 milyar raib. Sisa di rekening perusahaan hanya 1,7 juta. Sinting. Miris.

Saya cek Instagram itu si Anisa yang punya First Trabel. Mengerikan glamornya. Untuk tampil di peragaan busana dunia seperti New York Fashin Festival atau di London, butuh keluar uang milyaran! Uang darimana? Untuk liburan ke Alaska, London, Paris, Washington dan entah kemana lagi, uang dari mana? Cek tas hingga gorden rumahnya! Harga gorden rumahnya 700 juta. Itu uang dari mana? Jual baju? Baju semahal itu cuma buat gaya saja. Ga ada yang mau beli! Usaha jual baju tak yakin bisa menutupi, apa lagi masih merintis. Miris. Sementara dibalik setiap rupiah yang disetor ke rekening perusahaan tipu-tipunya ada tetesan keringat dan mungkin darah orang yang akan beribadah. Mungkin ini tulah dari Allah. Semacam laknat karena menghalangi orang yang akan pergi ke tanah suci.

Saya sudahi saja tulisan ini. Kesal. Pengen nonjok! Semoga kita dijauhkan dari perasaan ingin gaya dan kaya dari tipu-tipu dan hutang. Wassalam…..

Leave a Reply