Diantara Dua Himpitan Kegalauan

damai-indonesia1

Saya coba fokus kembali ke jurnal-jurnal dan laporan yang harus dibaca dan tidak memikirkan apa yang baru saja terjadi di NKRI. Tapi belum bisa. Masih galau dan ingin curhat. Kegalauan saya biasanya sembuh setelah saya menulis karena menulis buat saya adalah sebuah metode katarsis.

Saya dihimpit kegalauan dari dua sisi: di negeri rantau tempat saya tinggal dan di rumah sendiri. 

Sebagai mahasiswa yang baru datang di Amerika, saya datang pada saat kampanye untuk pemilihan Presiden Amerika Serikat sedang panas-panasnya. Hillary Clinton (Partai Demokrat) dan Donald Trump (Partai Republik) mengerahkan semua upaya untuk saling menjatuhkan dan mengalahkan. Ada satu cerita yang menarik untuk anda. Di Amerika, salah satu isu yang digelorakan pendukung Donald Trump di setiap kampanye adalah: “lock her up!”. Artinya: penjarakan Hillary! Para pendukung Trump dan Trump sendiri membesar-besarkan kasus ketika Hillary memakai server pribadi saat menjabat sebagai sekretaris negara untuk mengirim email. Trump dan para pendukungnya mengatakan itu kejahatan dan karena itu polisi harus menangkap Hillary dan memenjarakannya. FBI dan aparat hukum sudah melakukan investigasi dan diputuskan tidak ada tindakan kriminal.

Entah kenapa FBI sepertinya bermain politik belakangan ini. James Comey, Direktur FBI, yang mantan anggota Partai Republik itu tiba-tiba mengatakan pada Kongres bahwa FBI kemungkinan bisa menyelidiki kembali kasus email Hillary setelah tanpa disengaja email Hillary ternyata ditemukan di salah satu laptop mantan suami pembantu terdekat Hillary, Huma Abedin—seorang Muslim lho. Ucapan dan surat Comey yang disampaikan ke Kongres Amerika segera menghiasi halaman muka semua media. Pendukung Trump dan Trump sendiri kembali menggelorakan slogan: “lock her up!”, “penjarakan Hillary!”. Untungnya di sini tidak ada demonstrasi besar dan bakar mobil untuk memaksa polisi Federal menangkap Hillary. Presiden Obama juga tidak pergi ke mana-mana, tidak juga ke Bandara, karena memang tidak ada demonstrasi.

Hal ini membuat saya galau karena kalau Trump menang, apalagi kalau menang karena polisi di sini mengikuti kehendak Trump untuk memenjarakan Hillary, saya bisa jadi dideportasi, diusir kembali ke Pamulang. Kenapa? program unggulan Trump adalah mendeportasi semua Muslim. Padahal kuliah saya baru saja dimulai!

Apa yang saya lihat di Jakarta seperti kembaran kejadian itu. Saya haqul yakin sebagian besar demonstran kemarin itu ikhlas beremonstrasi untuk berdakwah, menyuarakan aspirasi bahwa mungkin telah terjadi sebuah tindakan kriminal bernama penodaan agama atau apapun. Tapi sebagai orang yang membaca sedikit teori politik dan gerakan sosial, tak jarang niat ikhlas para demonstran itu tidak berbanding lurus dengan beberapa kepentingan yang bermain pada level lain. Ibarat rantai makanan, singa selalu mengendap dalam diam, berada di balik semak belukar sebelum menerkam mangsanya. Terlalu naif kalau demo kemarin tidak ada muatan politik. Dalam satu aksi ada banyak motif: berdakwah menegakan agama, piknik, jualan gorengan, ingin tahu Monas dan Istiqlal, menjegal lawan politik sampai menurunkan pemerintahan yang sah dan dipilih secara demokratis.

Meski sebagian besar motif itu bisa diterima dan sepenuhnya sah secara konstitusi, saya sangat keberatan dengan dua motif terakhir. Buat saya, menjegal lawan politik dan mengganti rezim hanya bisa dilakukan dengan cara-cara politik konstitusional. Fahri Hamzah tentu keliru besar ketika dengan bersemangat bilang aksi jalanan bisa menjadi mekanisme pergantian rezim. Mungkin praktik itu biasa di negeri yang penuh kudeta atau negara transisi menuju demokrasi dari otoritarian seperti zaman Suharto. Karena Republik ini sudah maju jauh dalam membangun demokrasi, mulai banyak capaian ekonomi, sedang khusus berantas para koruptor, cukong dan pungli, rasanya sayang dan terlalu aneh kalau kita mau kembali ke titik nol.

Anda tidak suka Jokowi dan Ahok, gampang sekali untuk ganti dia: cukup tidak perlu dipilih lagi pada pemilu nanti. Dan itu tidak lama. Dua tahun lagi Jokowi bisa kita hukum dengan tidak dicoblos di bilik suara jika dia mengecewakan kita. Ahok bisa kita buang dari dunia politik dengan tidak memilihnya kembali. Itu cara paling masuk akal, tanpa resiko kekerasan, beradab, tanpa resiko sosial yang besar dan tidak mengorbankan persatuan bangsa yang lebih besar.

Saya khawatir demonstran yang ikhlas itu dimanfaatkan oleh politisi kerdil yang merasa tidak bisa mengalahkan lawannya di bilik suara dengan cara yang konstitusional dan beradab. Saya takut demonstrasi itu dimanfaatkan konsultan politik licik yang tahu kleinnya tidak mungkin menang lewat pemilu. Saya juga khawatir keikhlasan para demonstran yang sudah mengorbankan waktu, tenaga serta hartanya untuk berdakwah itu dimanfaatkan partai-partai politik yang selama ini gagal menyediakan alternatif pemimpin yang bermutu untuk secara percaya diri menempati jabatan tertentu.

Pergantian kekuasaan hanya bisa lewat bilik suara, bukan lewat kuat-kuatan pengeras suara. Kita harus belajar dari Thailand. Ketika pasukan Kuning berdemonstrasi berhari-hari dan menuntut rezim berkuasa turun, pasukan Merah akan melakukan hal yang sama pada masa berikutnya. Itu akan menjdi siklus tanpa henti sampai sekelompok pasukan loreng bersenjata membawa tank dan senapan ke depan hidung kita untuk kudeta karena demokrasi dianggap gagal berfungsi.

Hal itulah yang juga membuat saya galau. Saya bukan siap-siapa, tidak punya kepentingan apa-apa. KTP saya Depok. Sama dengan KTP Buni Yani, orang yang terkenal itu. Dan karena itu tidak bisa dipakai memilih dalam hiruk pikuk Pilkada DKI nanti. Saya hanya beruntung bisa duduk ribuan kilometer jauhnya dari negeri yang amat saya cintai dan banggakan, mengambil jarak, menyeimbangkan antara emosi dan nalar sehat untuk menilai apa yang terjadi.

Seperti saya yang tidak bisa tidur nyenyak dihantui oleh ketakutan karena mungkin tak lama lagi warna kulit, nama dan agama saya membuat saya harus angkat kaki dari tanah rantau ini, ada jutaan orang di NKRI yang merasa hanya karena nama, mata dan warna kulitnya tidak mempunyai kesempatan yang sama sebagai warga negara. Tapi saya yakin itu bukan Indonesia yang mau kita bangun. Juga bukan Amerika yang saya tahu. Indonesia impian adalah Indonesia yang nyaman dan setara untuk semua warna kulit, jenis mata, dan model rambut. Indonesia yang menyediakan ruang yang sama bagi semua keyakinan dan pikiran.

Mohon maaf jika anda tidak berkenan dan berbeda pendapat. Percayalah peradaban akan jaya karena kemampuannya memanen kebaikan dari perbedaan bukan dari kepicikannya menyeragamkan semua kata-kata. Semoga kebanggan saya pada NKRI tak lantas rontok karena ulah para politisi kerdil yang takut bertarung secara ksatria. Semoga Indonesia terus jaya sampai 1000 tahun lagi.

Takbiiir…

 
 

Leave a Reply