Jadilah ‘Bangsa Penjiplak’

Telepon genggam yang baru saya beli 2 bulan lalu selalu mengingatkan saya pada sebuah buku yang dulu saya baca ketika di Melbourne. Buku itu khatam dibaca pada hampir semua halamannya. Buku itu ditulis oleh seorang ahli ekonomi, Erich Reinert berjudul ‘How Rich Countries got Rich and Why Poor Country stay Poor’. Buku itu dibuat untuk kalangan umum, karena itu istilah-istilah ekonomi yang rumit dibahasakan menjadi sangat mudah difahami, termasuk oleh saya yang bukan mahasiswa jurusan ekonomi, juga bukan ekonom. Kenapa telepon genggam itu mengingatkan saya pada buku itu?

HP yang saya pegang buatan Tiongkok. Mereknya, OnePlus, mungkin sebagian besar kawan-kawan tidak ada yang tahu. Istri saya juga membeli sebuah telepon genggam Tiongkok dengan merek yang sama tak populernya, Xiaomi. Tapi memegang telepon genggam Tiongkok sekarang berbeda dengan memegang produk yang sama, katakanlah lima atau sepuluh tahun lalu. Saya masih ingat, ketika baru pulang dari Melbourne dan setiap hari naik kereta komuter, saya sering melihat orang memakai telepon genggam bermerek Huwawei dan saya nyinyir. Mungkin karena saya pegang Iphone, produk Amerika yang harganya selangit dengan kualitas top. Saat itu semua produk Tiongkok dilihat sebelah mata juling (sebelah mata, dan mata yang melihat itu juling pula!). Semacam produk sampah yang tidak berkualitas dan murahan. Tapi itu dulu…

Ya, itu pandangan saya lima-sepuluh tahun lalu. Juga pandangan anda dan mungkin pandangan semua orang dahulu. Sekarang, produk-produk Tiongkok yang semula kacangan, murahan, jiplakan, mulai merajai dunia. Produk mereka kini telah banyak berubah dan berinovasi. Bahkan produk dari negeri Abang Sam dan Korea mulai ketar-ketir.

Itulah yang menginatkan saya pada buku yang saya baca di atas. Buku yang bagus itu bertutur satu hal yang sederhana: hanya dengan cara menjiplak sebuah negara bisa maju. Menjiplak, to imitate, tindakan alamiah belaka. Anak menjiplak cara ibu dan bapaknya makan, minum, bicara dan berprilaku. Para ahli teknik menjiplak cara terbang burung. Sekarang para ilmuan sendang mencari cara menjiplak cara kaki cicak menempel di dinding. Jepang menjiplak mobil Eropa dan menjulanya dengan merek Toyopet, produk toyota pertama yang lantas bangkrut dan tak laku. China menjiplak Iphone, pesawat udara, bahkan menjiplak telor (saya kaget karena Tiongkok juga memproduksi telor palsu!). Mungkin kita nyinyir. Tapi itulah jalan untuk maju. Itu artinya mereka mikir!

Kalau mau maju, sebuah negara harus melalui jalan ini: emulasi/imitasi, inovasi dan kreasi. Jiplak, perbaiki, ciptakan sendiri. Dengan menjiplak sebenarnya seseorang sedang belajar bagaimana membuat sesuatu yang sama. Keberhasilan menjiplak artinya keberhasilan menyamai kemampuan orang yang menciptakan. Dengan berjalannya waktu, ketika kita bisa membuat sebuah jiplakan, kita pasti ingin berinovasi sendiri. Telepon genggam dengan dua kartu adalah inovasi orang Tiongkok yang tidak terpikir sebelumnya oleh Apple. Telepon dengan aplikasi software yang dimodifikasi dari google, semacam Cynogen atau MIUI, mulai ditiru oleh perusahaan lain setelah pabrikan Tiongkok memulai. Meski Tiongkok belum masuk fase ‘menciptakan sendiri’ (ditandai oleh banyaknya patent), Tiongkok berhasil dalam melakukan penyesuaian kemempuan teknologi setelah berhasil menjiplaknya.

Karena itu, saya yakin bangsa Indonesia hanya bisa maju jika kita mau dan berani untuk pertama-tama menjiplak teknologi untuk kemudian menyesauikannya sebelum kita bisa menciptakan sendiri sebuah teknologi baru. Polytron adalah contoh bagus produk Indonesia yang mau melakukan proses ini. Mereka melakukan inovasi dengan mengedepankan kualitas suara. Kenapa kita tidak segera membuat mobil, laptop, motor, dan lain-lain. Produk-produk itu bukan produk super canggih yang tidak bisa dikuasai oleh bangsa ini. Itu produk teknologi yang sudah dipelajari oleh murid SMK. Mungkin kita akan mencibir produk-produk itu ketika dipasarkan. Tapi produk yang dihina akan belajar untuk menguasai dunia seperti produk Tionghoa yang saya pegang ini.

Mari mulai menjiplak!

One Reply to “Jadilah ‘Bangsa Penjiplak’”

  1. Saya setuju ide jiplak, imitasi, kopi paste dll. itu perlu sebagai tahap awal, selanjutnya diikuti dgn berpikir, mengutak-atik, mencari tahu, apa, mengapa dan bagaimana-nya.sehingga….Salam dari saya di Dompu-NTB

Leave a Reply