Perang Saudara Sesama Muslim Lebih berdarah-darah?

Membaca sejarah militer Islam saya jadi sadar bahwa perang saudara antara sesama Muslim memang lebih kejam dan berdarah-darah. Hal ini setidaknya membantu menjelaskan kenapa perang Iran-Irak, perang di Syiria, Yaman Libya dan lain-lain belakangan sangat bloody.

Selama Nabi hidup dan berperang dengan pihak ‘luar’ (external enemies) nabi menjalankan 27 operasi militer. Jika dihitung dengan jumlah ekspedisi yang dipimpin para sahabatnya, operasi militer dilakukan sekitar 38 kali. Dari 27 kali operasi militer, terjadi 9 kali pertempuran baik dengan Kaum Quraish Arab maupun dengan pihak lain seperi Kaum Yahudi Arab (Badr, Uhud, Mustaliq, Khandaq, Khaibar, Mu’ta, Fath Mekah, Hunain, dan Ta’if).

Jumlah total korban meninggal dalam 9 pertempuran itu hanya 354 orang (216 pihak lawan, 138 pihak Muslimin). Setelah nabi wafat, dalam Perang Al-Qadisiya, Yarmuk dan lain-lain, melawan Sassanian dan Romawi, jumlah korban meninggal juga tidak terlalu banyak (jumlah pastinya masih sedang dicek di kitab2)

Semenatar Perang Jamal (Unta) dan Siffin dalam Perang Sipil Pertama (Fitna al-Kubra 1), antar pihak Muawiyah/Aisha dan Ali, jumlah korban jiwanya sangat mengerikan: dalam Perang Unta jumlah korban terbunuh 13,000 (Pasukan Ali 5000, pasukan Aisha 8000 orang); dalam Perang Sifin korban terbunuh 70,000 orang (Pasukan Ali 25,000 orang, pasukan Muawiyah 45,000 orang).

Perhitungan lain menurut Al-Mas’udi dalam Muruj al-Dhahab: 130-150K (ribu) orang mati. Bahkan jika dihitung dengan para pembantu/budak belian yang selalu dibawa oleh para prajurit, jumlah korban bisa sampai 300,000 orang. Dalam sejarah Islam klasik ada 4 kali perang saudara. Silahkan jumlahkan sendiri korban yang jatuh. Dari apa yang saya baca, sebagaimana dalam perang Karbala dan perang Pengepungan Kota Mekah, perlakuan terhadap para korban juga sangat-sangat keji.

Pertanyaannya: Kenapa perang sipil sesama Muslim lebih kejam dan berdarah-darah (bloody and violent), keji dan memakan lebih banyak korban dibanding perang dengan musuh dari luar pada waktu itu?

Setelah merenung lagi dan membaca serta berdiskusi dengan Profesor sekilas sebelum beliau memberikan khotbah Jumat, ada beberapa penjelasan:

1. Pada perang melawan musuh dari luar (external enemies) seperti dalam perang AL-Qadisiya, Yarmuk dan lain-lain, pertempuran biasanya terjadi hanya di wilayah-wilayah garis depan perbatasan (frontiers) atau thugur. Hanya para ‘tentara profesional’ dan sukarelawan mujahidin yang terlibat dalam pertempuran. Kedua pasukan biasanya terlibat dalam pertempuran berhadap-hadapan di sebuah tempat di luar wilayah masyarakat sipil dan hanya dalam wilayah-wilayah yang dianggap strategis oleh kedua belah pihak. Dalam perang dengan sesama Muslim (perang sipil atau fitna) yang terjadi adalah semua lawan semua. Semua orang bisa dikatakan terlibat diwilayah yang sangat mungkin menyatu dengan permukiman masyarakat sipil. Ini sepenuhnya perenungan saya. (Locus and actor argument)

2. Meskipun bisa disimpulkan untuk sementara bahwa perang sipil memang lebih kejam dan berdarah-darah, jumlah korban sebagaimana di kutip oleh Al-Mas’udi dan sejarawan lain masih diragukan. Untuk meyakinkan bahwa jumlah-jumlah itu tidak dilebih-lebihkan, kita harus melihat kira-kira berapa jumlah penduduk/populasi Muslim secara keseluruhan saat itu. Jumlah 150,000 apalagi 300.000 tidak masuk akal jika dibandingkan dengan proporsi penduduk waktu itu. Perang ini hanya terpaut 25 tahun dari sejak nabi wafat. Di banyak literatur disebutkan bahwa Umat Islam masih minoritas bahkan sampai 200 tahun setelah Nabi wafat.

3. Jumlah yang dilebih-lebihkan itu bisa jadi karena sejarawan, dalam hal ini Al-Tabari, al-Mas’udi dan yang lain, terlalu mendramatisir kengerian perang sesama saudara itu. Semacam ‘melodramatical history’. Pada saat yang sama, jumlah korban musuh luar bisa jadi tidak diperhatikan karena itu tidak menjadi ‘subjek hukum’ imperium Islam. Jumlah itu harus dilihat dari sumber sejarah lain.

Semua ini masih harus diteliti kembali. Harus dilihat berapa jumlah korban daalam perang melawan musuh dari luar; berapa jumlah penduduk Muslim (semacam sensus) untuk melihat apakah jumlah yang disebutkan sejarawan proporsional atau dilebih-lebihkan. Wallau’alam

Pengajian dan Kebencian

Saya sesekali mengintip kelompok ‘pengajian’ WA istri. Beberapa kali geram dan kaget. Tak jarang isinya adalah upaya sistematis menyebarkan berita bohong, menyudutkan bahkan cenderung menyulut kebencian dan ketidaksukaan pada kelompok tertentu. Pelakunya? bukan menuduh, tetapi rata-rata para aktivis, simpatisan atau anggota partai ‘dakwah’. Mereka begitu aktif menyebarkan postingan yang sepertinya secara sistematis dan terkomando dari satu sumber. Tak jarang saya mendapatkan postingan yang sama di beberapa group WA hampir bersamaan.

Belum lagi kalau melihat video pengajian-pengajian di mesjid yang sekonyong-konyong berubah menjadi ajang menghujat, mengejek dan menjatuhkan dan menjelekan satu pihak. Melihatnya saya muak. Tapi juga sekaligus sedih: kenapa masih banyak orang yang mau mengundang dan mendengarkan orang seperti itu. Apa hanya karena berani berkata kasar, berjubah putih, bisa teriak-teriak dan mengutip satu dua ayat lantas ia menjadi panutan? Apa hanya karena beda pilihan politik lantas kita membenci orang sampai ubun-ubun?

***
Ketika kecil, sekitar akhir 80an atau awal 90an, saya masih ingat Ayah sering mengajak pergi ke Cirebon naik angkutan bak terbuka atau mobil angkutan pedesaan bersama-sama warga lain. Ayah mengajak saya pergi ke sebuah pengajian yang sangat terkenal di wilayah tiga Cirebon waktu itu: Hidayatullah. Pendirinya seorang Tionghoa mualaf dan pengusaha kaya bernama Yu Keng. Pengajiannya selalu ramai dan dihadiri ribuan orang. Pembicaranya datang dari ibu kota dan rata-rata kyai kondang.

Saya masih ingat, hampir semua pembicara yang diundang adalah para kyai ‘galak’ yang tak takut dan segan mengkritik Suharto. Saya belum terlalu mengerti. Tapi masih ingat para penceramah berbicara menggelegar diiringi pekik “Allahu Akbar”. Saking galak dan berani mengkritik Orde Baru, menurut cerita para tetua, pengajian Yu Keng sering ditongkrongi Panser ABRI.

***
Melihat bagaimana pengajian-pengajian berubah menjadi ajang disemaikannya kebencian, saya menemukan akar dan geneologinya pada pengajian yang dulu saya pernah ikuti di Cirebon itu. Jamaah cenderung senang kalau ada kyai ‘galak,’ atau lucu dan menghibur. Ngaji, dalam banyak kesempatan, telah menjadi panggung entertainment ketimbang tempat mencari ilmu. Kalau tidak lucu atau ‘galak’, jamaah mengeluh.

Tapi masalahnya, zaman sudah berubah. Pada zaman Orde Baru, semua kelompok, Muslim, Kiri, Sosialis, dan lain-lain, sama-sama digencet Suharto. Dan karena itu semuanya melawan dengan berbagai cara. Keterbukaan informasi tidak ada, transparansi tidak ada, saluran aspirasi sangat dibatasi, kritik dibungkam dan disumbat. Pengajian Yu Keng di akhir 80an hanya gejala kecil dari riak semangat anti rezim otoriter Orde Baru.

Sekarang kondisi jauh lebih baik. Ngigau kalau selalu bilang umat Islam digencet dan ditindas. Kalau di Hongkong atau Konggo, mungkin iya. Di Indonesia semua urusan umat Islam dimanjakan! Haji, pengadilan, waris, bisnis Islam, universitas, TK, Paud sampai SMA, rumah sakit, wakaf, investasi Islami semua difasilitasi negara. Digencet dari Hongkong!!

Kau bilang para ustad ditangkapi dan dipenjara oleh rezim yang anti Muslim, pro PKI dan Pro asing? Ustad yang mana? Di TV tiap hari para ustad masih ngasih ceramah. Kalau ada ustad dilaporkan karena mulutnya yang jorok dan busuk, itu bukan karena ustadnya. Itu lebih karena prilakunya berlebihan dan melampaui kewajaran.

Beredar pula informasi di WA yang sangat konspiratif: ada ratusan kader PKI masuk DPR, Kristen akan menguasai Indonesia lewat PDIP, K.H. Ma’ruf Amin akan diganti Ahok, antek-antek Yahudi siap menguasai Indonesia. Ya Allah…, Akhi, Ukhti, jangan ngigo, ah. Zaman sudah terbuka, semua relatif transparant. Semua bisa kita cek dan lihat. Bedakan mengkritik dengan menyebarkan fitnah dan berita bohong. Saya sepakat 1000% pemerintah sekarang harus dikontrol dan diawasi. Tapi caranya tidak dengan menjadi konyol.

Belakangan ada ustadzah karbitan berdoa ngancam Allah: kalau si B tidak terpilih tidak akan ada lagi yang menyembah-Mu. Ya Allah, ini penyanyi, salah minum obat apa? Sis, Bro, kita disuruh fokus pada keahlian masing-masing. Agama itu bukan urusan kesenangan di waktu senggang atau kegiatan tambahan di akhir pekan. Butuh ilmu alat, pengetahuan sejarah dan bahasa, metode ushul, dedikasi, kesungguhan, tanggungjawab dan kerendahan hati serta kejujuran untuk mempelajari agama.

Menjadi Penceramah, karenanaya, tidak cukup asal bisa ‘ngecap’ saja. Tidak bisa hanya karena anda mantan antivis MLM terus pakai jubah, bisa teriak-teriak, berani ngejek, dan hafal satu dua ayat dan ujug-ujug jadi ustad. Mal praktek agama selama ini, saya kira, karena banyak dokter, insinyur, aktivis MLM, penyanyi, hanya karea bisa satu dua ayat, lantas merasa bisa jadi ustad.

Ingat, dosis agama yang terlalu tinggi tapi tidak dibarengi ilmu yang benar memang bisa membuat orang ngigo, jantungan, tempramental bahkan suicidal.akal sehat

Ayo kembalikan agama pada manhajnya, disinari budi pekerti, akal sehat dan kewajaran. Kalau bukan orang yang pernah dilatih dalam bidang keilmuan Islam yang mendalam, lebih baik diam dan mendengarkan.